Ini soal Masa Depan. Titik!

Masa depan dari 9.607.787 jiwa penduduk ber-KTP Jakarta (menurut BPS, 2010) dan tentu tidak lupa lebih-kurang 18 juta jiwa penduduk wilayah Bodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) akan di tentukan oleh 6.996.951 pemilih berdasarkan ketetapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DKI Jakarta untuk putaran kedua Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta pada hari ini (20 September 2012), dengan rincian:

  • wilayah Kepulauan Seribu tercatat 16.367 pemilih,
  • wilayah Jakarta Pusat tercatat 789.484 pemilih,
  • wilayah Jakarta Utara tercatat 1.168.988 pemilih,
  • wilayah Jakarta Barat tercatat 1.510.159 pemilih,
  • wilayah Jakarta Selatan tercatat 1.512.913, dan
  • wilayah Jakarta Timur tercatat 1.999.040 pemilih.

Bagi saya, hari ini sungguh bersejarah karena incumbent yang berasal dari Partai Politik pemenang pemilu dan rekan-rekan koalisi partainya ditantang oleh kandidat dari hasil koalisi dua Partai Politik yang sebetulnya tidak memiliki basis suara yang cukup besar dari sisi kader Partai. Hasil survey pada seminggu sebelum pemilihan putaran pertama menggambarkan sesuatu yang berbeda: incumbent pasti menang. Ternyata survey tinggal survey, tim sukses pongah hingga salah ambil langkah catur. Waktu seminggu sebelum pemilihan nampaknya cukup untuk merobek-robek hasil survey banyak lembaga. Persentase suara (yang walaupun tidak sampai 50%) untuk kandidat penantang di putaran pertama sebetulnya merupakan isyarat bahwa sebagian besar pemilih di DKI Jakarta menginginkan perubahan pada kepemimpinan. Sesuatu yang mengejutkan bagi banyak kalangan, termasuk kedua kandidat yang bertarung di pemilihan umum.

Meskipun melaksanakan putaran berikutnya artinya biaya tambahan yang membengkak untuk semua pihak (Negara dan kedua kandidat). Apa boleh buat pemilihan umum putaran kedua tetap harus dilaksanakan demi nilai-nilai demokrasi di Ibukota tercinta.

Tulisan ini tidak ingin bermain dengan tebak-tebakan hasil pemilihan putaran kedua, karena sejujurnya saya pun tidak bisa meramalkan dengan tepat. Satu hal yang pasti, kedua tim sukses kandidat sudah bekerja dengan segenap pikiran dan tenaga yang maksimal. Hingga bahkan berulang-ulang mengganti status BlackBerry Messenger (BBM) dengan pesan (bernada kampanye) yang sama dalam satu hari, padahal dari seluruh contact di BBM-nya paling-paling hanya 30% yang punya hak pilih. Mari kita tertawakan saja hal tersebut.

Kalau dan hanya kalau saya boleh berbicara selugas ini, sebetulnya kita (Indonesia secara umum) berada dalam masa krisis kepemimpinan, masa dimana pemimpin tidak lagi memiliki wibawa dan penegakan hukum lebih mirip “macan ompong dan bahkan tanpa kuku yang tajam”. Disaat yang bersamaan, rakyat membutuhkan suri tauladan dan inspirasi bagi keseharian mereka. Entah siapa yang salah.

Saya seorang muslim, dan saya (sangat) malu menjadi bagian dari negara mayoritas muslim dimana korupsi terjadi membabi buta. Bahkan Al-Qur’an pun dijadikan bancakan oleh koruptor di negeri ini. Karenanya, ketika memilih pemimpin, saya tidak akan pernah menggunakan indikator keimanan sebagai tolak ukur. Miris betul rasanya hati dan pikiran saya, ketika isu agama dimanfaatkan sebagai alat kampanye. Terlepas dari ikatan emosional masing-masing individu dengan agamanya, ini merupakan sebuah kemunduran bagi demokrasi dan akal sehat rakyat.

Simbol-simbol Suku Agama dan Ras (SARA) tidak selayaknya digunakan sebagai alat kampanye di kota yang sebetulnya melting-pot dari ke-Bhinneka-Tunggal-Ika-an Indonesia. Founding Fathers kita mungkin sedang menangisi cara berfikir rakyatnya yang dipecah belah isu SARA, dan lupa bagaimana leluhur meregang nyawa untuk menyatukan Indonesia. Hari ini, kita memilih pemimpin untuk mengarahkan bagaimana sebuah kota harus dikelola, bukan untuk menjadi Imam dalam sholat berjamaah atau berdzikir bersama. Agama itu soal Hablum-min-Allah; bersifat vertikal; bukan antar manusia. Sementara, menjadi warga kota yang baik itu soal Hablum-min-annas; bersifat horizontal; antar manusia. Karenanya, berfikir dan memilih dengan akal yang sehat dan hati yang tulus.

Banyak hal lain yang lebih mendasar dari persoalan kepemimpinan dan manajerial dalam mengelola Ibukota. Kita memerlukan pemimpin sekaligus manajer yang mampu untuk:  Mengelola dan memelihara sustainability kota sekaligus membangun dengan inovasi; Berfokus tidak hanya pada sistem dan struktur, tetapi juga pada sumber daya manusianya; Memiliki reputasi dan wibawa sehingga mampu mengontrol dan dipercaya oleh rakyat; Memiliki jangkauan berfikir dalam jangka pendek menengah dan panjang, dalam artian menguasai taktik dan strategi; Berani mengambil langkah catur ketika ketidakadilan terjadi; Dan tidak terikat pada bentuk kontrak politik apapun yang menghalangi arah kebijaksanaan.  Itu baru yang namanya Meritoktrasi dalam kepemimpinan.

Apapun hasil dari pemilihan putaran kedua ini, entah incumbent atau pun penantang, pemenang tidak akan bisa bekerja sendiri dari atas menara gading. Pemenang akan membutuhkan 9.607.787 jiwa penduduk ber-KTP Jakarta dan lebih-kurang 18 juta jiwa penduduk wilayah Bodetabek untuk berusaha sekuat tenaga dan menjadi warga kota yang baik, memiliki disiplin yang tinggi serta berpartisipasi aktif dalam proses pemerintahan. Tanpa hal tersebut, niscaya tidak akan ada perbaikan dan perubahan yang terjadi. Percaya pada saya!

28 Oktober — Mengisi Sumpah Pemuda

 

Demonstrasi tidak salah, hanya saja tidak lagi efektif untuk menyuarakan kepentingan pemuda. Itu pendapat saya.

Tweet saya hari ini:

  • Jam kuliah malah demo, begitu lulus paling-paling skillnya culun. Kerja gak bisa.. Bisanya baris aje ikut korlap.
  • Kuliah bayarnya mahal, cari kerjaan part-time biar bisa nambahin biaya kuliah sambil cari pengalaman. Jadi, ntar lo lulus gak culun2 amat..
  • Lo bisa jadi pemuda yg ngubah keadaan negara hari ini, tanpa harus ikut-ikut demo. Lo kuliah yg bener, cari pengalaman yang bagus.
  • Kalo seneng demo, karena suka teriak-teriak. Mending les vokal sono.. Masuk ke elfa’s secioria, ikut Choir games, bikin Bangga Indonesia.
  • Kalo seneng demo, krn suka kumpul-kumpul bikin aksi. Mending gabung sm @IndonesianYouth sana. Bikin gerakan yg jelas. Ya gak @AlandaKariza?

 

Demikian pesan singkat saya untuk pemuda-pemudi Indonesia. Ada pendapat lain?

 

ps: gambar diatas hasil karya dari komikus favorit saya di http://ndableg.com .. 😀

tentang “Solo Message”

Catatan ini berlanjut, kali ini terkait isi dari “Solo Message”, hasil dari High Level Dialogue on Institutional Framework on Sustainable Development.

—-

Solo Message

The High-Level Dialogue on the Institutional Framework for Sustainable Development

This is an extraction from the Chair’s Report of the High-level Dialogue on the Institutional Framework for Sustainable Development, held in Solo, Indonesia 19-21 July 2011

1.    Delegates of more than 100 member states, IGOs and major groups met from 19-21 July 2011 in Solo, Indonesia to discuss the institutional framework for sustainable development in preparations for the United Nations Conference on Sustainable Development, the ‘Rio+20 Conference’, to be held in June 2012 in Rio de Janeiro, Brazil.

2.    This message has been compiled by the host country and reflects the convergence of views arrived at during the two-day discussions.

3.    To achieve our shared goal we need to renew our political commitment for sustainable development. We also need to translate this commitment into implementation.

4.    We need to ensure that the economic, social and environmental pillars work together with each pillar integrating the goals of the other two pillars.

5.    At the international level we need an organisation to enhance the integration of sustainable development. Various options were discussed, ranging from an enhanced mandate for ECOSOC and reviewing the role of CSD to the establishment of a Sustainable Development Council.

6.    At the national level, there is a need for more integrated support for national strategies. Various options were discussed including Delivering as One.

7.    There is a need to strengthen UNEP and a number of options were discussed.

8.    More broadly, sustainable development governance at the local, national and regional level needs to be reviewed and supported.

9.    New and additional financing is necessary to enable implementation for capacity building and technology transfer.

—————————————

Dari “Solo Initiatives” ke “Solo Message”

Catatan ini merupakan lanjutan dari catatan saya sebelumnya yang berjudul: Catatan tentang “Solo Initiatives” dan Rio+20.

—-

Dari pengamatan saya selama acara High Level Dialogue on Institutional Framework on Sustainable Development, isu Pembangunan Berkelanjutan lebih menjadi concern bagi banyak negara-negara berkembang. Perwakilan dari negara-negara berkembang mengajukan intervensi terhadap dialog hampir di setiap sesi yang ada. Sementara negara-negara maju lebih memilih untuk mendengarkan, mungkin hal ini disebabkan karena pembahasan belum mencapai ke isu pendanaan kerja.

Secara garis besar, seperti yang sudah saya tulis pada catatan sebelumnya, isu Pembangunan Berkelanjutan membahas tiga masalah besar: Lingkungan Hidup, Ekonomi dan Sosial. Keterkaitan diantara ketiga masalah besar ini menjadi perhatian para delegasi yang hadir, karena pembangunan diharapkan berkelanjutan dan terintegrasi satu sama lain.

Apa yang menarik perhatian saya?

Pada hari pertama lobby (sambil sarapan, hehe) antara Indonesia dengan under-secretary general of UN, Mr. Sha ZuKang, disepakati bahwa hasil dari dialog ini akan menggunakan nama “Solo Initiaves”. Mr. Sha lebih menekankan pada pentingnya “institusionalisasi” dalam menjalankan program pembangunan berkelanjutan menuju RIO+20, sehingga beliau membuka seluas-luasnya ide, tanggapan dan saran yang diajukan delegasi selama dialog berlangsung untuk kemudian dirangkum ke dalam hasil dialog. Yang terpenting bagi Mr. Sha, pengelolaan program pembangunan berkelanjutan bisa meningkat hingga ke tingkat Council dibawah Majelis Umum PBB. Sementara bagi Indonesia, yang terpenting adalah kita bisa memainkan peran yang lebih besar dari sekedar “commenting the text”. Indonesia harus mulai memainkan peran sebagai negara yang “producing the text“.

Dialog intensif  pun berlangsung tiga hari (sejak pagi hingga menjelang maghrib), diselingi dengan dua kali makan malam kebudayaan yang dengan hebatnya disuguhkan oleh keluarga besar Kasunanan Surakarta dan kelompok kesenian yang dikelola Kabupaten Karanganyar. Sesuatu yang buat saya mengharukan adalah kedua kepala lembaga dan daerah sadar akan pentingnya mempromosikan budaya lokal sembari menghibur para delegasi yang tentu saja malam-malam itu berdecak kagum.

Dari Solo Initiatives ke Solo Message

Malam ketiga dialog menjadi menegangkan bagi delegasi Indonesia, karena menjadi titik penentuan bagi pengambilan kesimpulan dan hasil dialog yang akan disampaikan pada pagi hari keempat. Tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Luar Negeri berkumpul dalam satu ruangan, membaca setiap arsip verbatim record (detail notulensi dialog) yang tercatat sambil berusaha menarik benang merah dari setiap masalah yang dibahas. Hingga tiba saatnya kepada penentuan penyebutan hasil dialog … Tim dihadapkan pada dua pilihan, yaitu “Solo Initiatives” dan “Solo Message”.

Singkat cerita … Bagi Indonesia, intervensi yang berkepanjangan akan menjadi harga yang  terlalu mahal untuk dibayar,  pemilihan kata inisiatif bisa mengundang intervensi para delegasi dari negara lain. Pengambilan kesimpulan dialog tanpa intervensi adalah harga akhir. Maka pada diskusi internal yang berlangsung hingga sekitar pukul tiga pagi itu dipilihlah nama “Solo Message”. Untuk menghindari intervensi, Indonesia kembali melakukan lobby kepada Mr. Sha ZuKang, agar segera mensinkronisasikan pidato penutupnya pagi itu dengan substansi “Solo Message”.

Pagi hari keempat High Level Dialogue on Institutional Framework on Sustainable Development pun berlangsung. Sangat indah. Pidato penutupan dari Mr. Sha dilanjutkan dengan pidato dari Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Gusti Muhammad Hatta saling tersinkronisasi, bahwa dialog ini menghasilkan kesimpulan dan rekomendasi terkait Pembangunan Berkelanjutan Global yang disebut sebagai “Solo Message” dan segera dibawa ke tingkat pembahasan berikutnya.

Catatan ini belum berakhir, saya akan membahas lebih dalam lagi. Sesegera mungkin.

Bersambung.

Catatan tentang “Solo Initiatives” dan Rio+20

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup berusaha untuk memperkuat perannya dalam tatanan global dengan meramu paket rekomendasi yang beberapa hari lagi disebut sebagai “Solo Initiatives”. Karenanya, Indonesia menjadi host-country dari sebuah dialog yang dinamakan: High Level Dialogue on Institutional Framework on Sustainable Development yang diadakan di Solo, 19-21 Juli 2011. Catatan ini bukan catatan harian si boy, tapi hasil pendengaran saya.

—-

Mengenai “Sustainable Development” atau juga dikenal sebagai Pembangunan Berkelanjutan, ada beberapa yang harus dirubah, utamanya adalah studi-studi yang dilakukan dari sekedar mendalami masalah lingkungan hidup, kini lebih jauh hingga keterkaitannya dengan masalah-masalah ekonomi dan sosial. Dus, tidak lagi sekedar membahas masalah seperti: preservasi ekosistem; sustain life support system, biodiversity, biocapacity; adaptasi dan mitigasi perubahan iklim; dan manajemen air bersih.

Tapi juga membahas hal-hal yang lebih kompleks seperti: (a) dari sisi ekonomi; ketahanan pangan, ketahanan energi, kebutuhan dasar, pembangunan infrastruktur, penghapusan kemiskinan, (b) dari sisi sosial; pembangunan sumber daya manusia, kesehatan, keadilan sosial, dan keterhubungan sosial. Luasnya bidang yang menjadi concern dari Pembangunan Berkelanjutan, membuat koordinasi lintas sektoral menjadi sangat penting di tingkat nasional dan lokal. Dan bila dipetakan dalam peta stakeholders kepentingan, dapat dibagi menjadi tiga: (1) Pemerintah, terkait sumber daya alam yang digunakan untuk pembangunan; (2) Pengusaha, terkait keuntungan ekonomi dari pembangunan; dan (3) Masyarakat Sipil, terkait keuntungan sosial dari pembangunan.

Saya tidak mewakili Pemerintah maupun Pengusaha ketika hadir dalam dialog ini, maka saya mewakili Masyarakat Sipil; saya, anda, kita semua. Dari catatan yang saya punya, Prof. Emil Salim menekankan pentingnya partisipasi masyarakat sipil dalam pembangunan yang berkelanjutan, karena mereka-lah yang paling berkepentingan di setiap masalah-masalah yang dibahas lebih lanjut di atas.

Pada tatanan global, negara-negara yang terlibat dalam penyusunan segala hal yang berkaitan dengan Pembangunan Berkelanjutan tentu saja memiliki kepentingan masing-masing yang dibawa dari tingkat regional, nasional dan lokal. Bayangkan tumpukan kepentingan-kepentingan itu dan bayangkan bagaimana cara membuatnya menjadi satu.

Oke, pembahasan ini masih panjang, nanti saya lanjutkan lagi. hehe…

Bersambung.