Rencana dan Hidup yang Sebenarnya

Manusia berusaha dan berdo’a, lalu Tuhan mengabulkan do’a dengan membayar hasil usaha. Tidak selalu begitu. Kadang sesuatu yang kita inginkan ditundanya dulu hingga waktunya tepat menurut-Nya. Kadang sesuatu yang kita inginkan tidak dikabulkannya karena tidak sesuai dengan pribadi kita. Begitulah hidup dengan segala rencana dan usaha manusia serta misteri Ilahi.

Kita tidak pernah benar-benar tahu kapan sesuatu akan terjadi kepada kita, sampai hal tersebut benar-benar kita alami. Tapi, bukan berarti lantas kita tidak boleh berencana dan berusaha sekuat mungkin, karena Tuhan Maha Menghargai Usaha ummat-Nya.

Kecewa kadang datang ketika sesuatu tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Yah, kecewa itu hal yang paling manusiawi, seperti juga salah dan lupa. Kita boleh jadi khilaf saat sedang kecewa, karena mungkin kita lupa Tuhan sudah mengatur semuanya. Banyak hal-hal yang kecil bisa kita syukuri, tapi kadang kita lebih memilih untuk kecewa tentang hal lain. Sekali lagi, manusiawi. Syukur kita masih dianugerahi dengan hati dan perasaan supaya bisa tertawa bahagia sesekali. Coba bayangkan kalau kita seperti karnivora yang hanya bertindak dengan akal, tanpa perasaan. Mendapatkan sesuatu biasa saja, kehilangan sesuatu juga biasa saja. Kalau begitu kan hidup tidak lagi menarik.

Coba hitung berapa banyak manusia di Jakarta yang hidupnya sudah semakin mirip karnivora. Kalau jumlah mereka sedikit, kota yang hingar bingar ini pasti tertib dan teratur. Karena sebagian besar semakin mirip karnivora, pantas saja kota ini semakin terasa sesak dan sumpek.

Kembali ke soal Rencana dan Hidup yang sebenarnya…

Pernah tidak kita (secara psikologis) merasakan keberuntungan-keberuntungan kecil yang berlangsung berturut. Mendapatkan ini-itu yang sebetulnya bukan atas hasil usaha, tetapi lebih karena keberuntungan kita semata. Sadar atau tidak, dari situ kita belajar untuk menginginkan sesuatu. Kadang sesuatu yang kita inginkan itu diluar batas kemampuan kita untuk mencapainya, semata karena kita tidak berusaha. Kadang juga kita lupa bahwa ada hal yang lebih penting daripada keinginan, namanya kebutuhan.

Sulit sekali membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Satu hal yang pasti, biasanya keinginan itu berada di luar kemampuan kita, atau kalau ingin mencapainya maka yang akan terjadi adalah “besar pasak daripada tiang”. Sementara, kebutuhan itu lebih sering berupa sesuatu yang strategis yang sebenarnya wajib kita penuhi untuk menginjak anak tangga hidup yang lebih tinggi.

Ah, saya tidak betul-betul tahu mau menulis apa. Kita memang manusia kadang lupa menilai diri sendiri, karena kadang kita lebih senang menunjuk salah pada orang lain. Yah, memang lebih menyenangkan berada di posisi menyalahkan daripada yang disalahkan.

Selamat menikmati akhir pekan!

Kerja Cinta

Setiap Ramadhan, saya punya kebiasaan untuk bertarawih bersama Bapak dan Ibu di masjid Al-Azhar. Malam ini, kebetulan Ibu tidak ikut berangkat ke masjid, karena ada adik2 beliau datang ke rumah. Jadilah hanya saya dan Bapak yang pergi ke masjid untuk menunaikan isya, tarawih dan witir. Nah, sepanjang perjalanan ke masjid, seperti biasa, Bapak menguraikan nasihatnya kepada saya yang malam ini kebetulan bertema hati dan cinta.

Saya ingat pernah membeli buku Sajak karya Hasan Aspahani, dan menemukan sajak berjudul “Kerja Cinta” ini di halaman 22.

CINTAKU padamu adalah kerja. Aku ikhlas mengerahkan dan mengarahkan pikiran dan tenaga. Aku tak berharap upah apa-apa, kecuali bahwa aku bangga karena telah mengabdikan diri padamu, pada cinta itu.

Ketika kucium kamu saat bangun tidur di subuh hari, aku seperti memindai kartu karyawan di mesin absensi. Tak ada jadwal kerja. Tapi, dengan ciuman itu aku ingin menyaksikan kamu bahwa aku masih setia bekerja untuk cintaku, menghasilkan cinta untukmu.

Aku tak tahu apakah aku harus menandatangani kontrak mati bagi kerja cinta ini, aku bukan pekerja abadi, tapi aku tak pernah ingin berhenti, pensiun atau memecat diri.

Ketika kupeluk kamu, kapan saja sempat kulakukan itu, dan itu bisa berkali-kali dalam sehari, aku sebenarnya hanya ingin memulihkan tenaga hati, menghangatkan suhu jantung lagi. Tidak, aku tidak lelah, aku tidak pernah lelah, sebab mencintaimu adalah kerja seperti jantung berdetak. Jantung mencintai detaknya itu. Aku mencintai cintaku, cintaku padamu itu.

Jantung hanya tahu bahwa dia masih ada ketika dia rasakan detaknya. Seperti itulah aku, yang merasa masih tetap ada selama aku masih mencintai kamu.

~Hasan Aspahani, Luka Mata, 2010

Tulisan yang agak random ini (kan belakangan saya lebih banyak menulis soal kebijakan pemerintah) saya tulis untuk Raisa Ramadhini, pacar saya, adik saya dan sahabat saya yang sehari-hari menemani saya berbicara langsung, dan via bbm serta hp. Semoga kami selalu dinaungi rahmat atas rizki dan jodoh yang panjang sampai akhir hayat.

Empat hari lagi ..

Ini tanggal 7 November 2011 kan? 4 hari lagi sebelum SEA Games dimulai.

Siap tidak siap, Harus siap. Apa kata negara tetangga kalau SEA Games tidak terselenggara. Tentu saya malu, semua juga malu.

Buat saya pribadi, layar sudah terkembang, pantang mundur ke belakang. Terserah orang mau bicara apa. Kekurangan ada disana sini. Waktu semakin menipis, pekerjaan semakin padat.

Saya tidak ingin mengeluh, orang boleh mencemooh. Di twitter di cemooh, seolah panitia tidak bekerja dengan baik. Boleh percaya boleh tidak, kami sudah bekerja sepenuh hati. Ikhlas.. Tetap ingin mencemooh. Silakan.. 🙂

Dengan lapang hati, kritik diterima. Dengan senang hati, saran diterima. Saya tidak lagi berfikir, apa lagi masalah yang datang, tapi bagaimana menyelesaikan masalah tersebut.

Saya belajar banyak, saya harus bersyukur untuk itu.

ps:

Kepada kedua orang tua di rumah, mohon maafkan anaknya, waktu anaknya dihabiskan untuk SEA Games. Mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mohon dukungan penuhnya.  Terima kasih atas pengertiannya.

 

 

 

Semoga …

Setahun waktu yang relatif, bisa terasa singkat, bisa terasa padat. Itu tergantung pada bagaimana kita menggunakannya. Saya manusia yang masih belajar ini-itu, kesana-kemari, jauh jauh jauh dari baik. Masih banyak yang masih bolong-bolong, apalagi kalau soal ibadah. Padahal, dulu saya menghabiskan waktu yang cukup panjang di Al-Azhar. Kembali lagi, waktu itu relatif, dan manusia tidak boleh merasa cukup, kecuali untuk urusan rezeki. Kabarnya, untuk urusan rezeki harus merasa cukup, supaya gak serakah.

Manusia datang dan pergi, manusia berubah setiap detik, seperti juga alam semesta. Pada setiap manusia selalu ada sifat sosial, yang ingin mengenal satu sama lain, ingin berbagi, berbagi dan berbagi. Saya menilai diri saya sangat sosial, saya senang berkenalan, bertemu teman baru, berbagi dan mendengarkan cerita baru. Setiap teman, keluarga, dan orang yang kita kenal adalah guru, dari pengalaman mereka kita bisa belajar. Terima kasih untuk semua ilmu yang saya dapat dari pengalaman yang dibagi.

Sampai hari ini, kalau boleh saya evaluasi, saya belum mahir betul menjaga relasi. Kadang ada janji yang belum terbayar, kadang ada perilaku yang kurang berkenan, kadang ada ucapan yang tidak mengenakkan hati. Saya minta maaf untuk kesilapan-kesilapan itu.

Naik ke tangga yang baru, bukan hal yang mudah. Beban terus bertambah, waktu semakin sedikit. Siapa yang tahu sampai kapan saya bernafas?

Semalam di perjalanan ke rumah, ayah saya sempat berpesan cukup panjang. Pesan yang lebih kurangnya berisi agar saya menjaga hablum-mina-allah dan hablum-minan-nas. Pesan yang selalu berulang, dan menempel di kepala saya. Pesan yang sampai detik ini masih banyak bolong-bolongnya begitu menyoal pada implementasi.

Belakangan ini, saya disibukkan dengan banyak hal yang agak baru. Belajar lagi, mengejar ketinggalan lagi dan lagi. Sebuah proses yang menyenangkan.

Dalam soal pekerjaan, saya belajar banyak dari @beradadisini, @a_budiman, @nanamarha dan @vidiyama. Keempat orang ini yang membuat saya bisa sedikit banyak bekerja menghasilkan sesuatu. Sebagai atasan (mereka tidak mau disebut demikian) mereka memposisikan diri sebagai sahabat sekaligus mentor, saya berhutang ilmu pada mereka. Dari urusan komunikasi konvensional, komunikasi digital, perpolitikan di Indonesia, jejaring tingkat tinggi dengan prominent person di Indonesia saya dapat dari mereka. Mudah-mudahan panjang kesabaran mereka menghadapi saya.

Dalam soal hidup, tentu saja saya belajar banyak dari ayahanda Kartono Sani, ibunda Retno Widiastuti dan adik saya Isanova. Mereka yang selalu meluruskan jalan saya ketika saya silap, menyentil saya ketika saya berjalan kelewatan, menarik saya dari lubang ketika saya dalam kesulitan. Seumur hidup saya berterima kasih pada ketiganya. Mudah-mudahan kesabaran selalu bersama mereka untuk mendampingi saya di keluarga.

Tulisan ini sudah cukup panjang, sebaiknya saya hentikan sampai disini, saya menulisnya sambil sesenggukan sendiri. Hehe.. bukan cengeng, tapi banyak hal dan nikmat yang harus saya syukuri.

Kalau ditanya, saya mau kado apa untuk pertambahan tahun kali ini, saya hanya berharap kalian bisa berdo’a bersama saya, supaya diberi umur yang panjang, kesehatan dan rejeki yang cukup untuk memperbaiki negeri ini.

Semoga …

Kelompok

Berbicara mengenai Fraksi mungkin tidak menarik, tapi mungkin banyak yang tidak tahu betapa pentingnya entitas ini bagi stabilitas sebuah Negara seperti Indonesia. Saya mencoba membuat penyederhanaan, anggaplah sebuah Fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat menjadi sebuah kelompok biasa tanpa punya kekuatan politik dan embel-embel lainnya.

Pertanyaan yang paling sederhana, apa elemen yang paling penting sehingga sekumpulan individu bisa dilabeli “kelompok”?

Menurut saya, yang membuat sekumpulan individu bisa dilabeli sebagai “kelompok” adalah soliditas mereka secara internal maupun external. Soliditas ini hanya bisa terjadi bila terjadi kesepahaman yang dibentuk lewat komunikasi (dengan medium apapun) dan konsolidasi (pertemuan seperti rapat, meeting atau apapunlah namanya).

Menjaga komunikasi dalam internal kelompok mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya tidak juga. Menjadi sederhana bila kelompok tersebut terdiri atas kurang dari sepuluh individu, dan menjadi kompleks ketika kelompok tersebut terdiri atas lebih dari seratus individu. Apa yang penting dari komunikasi internal? Kejelasan dari isi pesan yang disampaikan kepada seisi kelompok menentukan efektivitas komunikasi internal.

Bila kelompok tadi memiliki seorang pemimpin dan sistem yang dipegangnya adalah top-down, maka kejelasan pesan yang di komunikasikan menjadi faktor yang teramat penting. Pesan tersebut harus sampai ke level paling bawah dengan pemaknaan yang sama. Pesan yang mengambang dan menggunakan bahasa yang remang, hanya akan merusak soliditas kelompok karena pemaknaan pesan yang begitu subjektif. Di titik pemaknaan pesan pemimpin ini, konsolidasi melalui pertemuan-pertemuan harus dilakukan untuk mencapai kesepahaman dan soliditas internal.

Nah, bagaimana bila kelompok tadi memiliki seorang pemimpin dan sistem yang dipegangnya adalah bottom-up dengan menjunjung tinggi demokrasi? Maka pemimpin hanya perlu memberikan arahan dan memastikan mekanisme pendukung serta ruang-ruang yang mampu menampung suara dari level terbawah bisa berjalan dengan baik. Konsolidasi dibentuk melalui ruang-ruang bagi perdebatan yang adil tanpa memandang siapa yang berbicara, tetapi lebih kepada ide/ pesan apa yang disampaikan. Setelahnya, bila keadaan ideal mungkin akan terjadi soliditas. Bila tidak, paling terbentuk faksi dalam sebuah kelompok. Ketika faksi-faksi terbentuk, idealnya pemimpin turun tangan untuk memberikan pemahaman.

Demikianlah dongeng singkat mengenai sebuah kelompok. Jadi, apa kata kuncinya? Komunikasi, Konsolidasi, dan Soliditas.

 

—–

p.s.: di negeri dongeng semuanya pasti ideal, sayangnya kita tidak pernah hidup di negeri dongeng. ayo bangun! 🙂