Akhirnya Pulang ke Bangka

Libur lebaran yang barusan aja lewat, gw habiskan di Pangkal Pinang dan kota lainnya di Pulau Bangka. Tadinya, gw dan keluarga mau reservasi kamar di Soll Marina (sebelumnya ada ‘Aston’-nya) yang terlihat begitu bagus di foto. Tapi setelah cek di Traveloka dan Trivago ternyata gw kalah cepat dari wisatawan lainnya. Akhirnya gw reservasi langsung di Novotel Bangka Hotel & Convention Center. Eh, setelah dapat kamar, ternyata keluarga lebih sreg untuk menginap di Hotel Centrvm (baca: Centrum), karena di hotel itu ada supir namanya Pak Rustam yang sudah biasa dipakai setiap pulang kampung >10 tahun terakhir (Ini orang OK banget, kalau mau nomor kontaknya japri ya).

  • Garuda Indonesia

IMG_20160710_172904

Kalau mau ke Bangka dengan budget yang terbatas, sekarang ada NAM Air, unit usahanya Sriwijaya Air yang punya lumayan banyak flight dari Soetta, Jakarta ke Depati Amir, Bangka. Tapi, tapi, tapi, gw selalu lebih tenang kalau pakai Garuda Indonesia. Harga tiketnya bisa tiga kali lipat, tapi lebih tenang. Hehehe.. Mengingat landasan pacu Bandara Depati Amir yang lumayan pendek. Btw, menurut sepupu dan keluarga yang rajin bolak-balik ke Bangka, NAM Air tetap recommended kok.  

  • Bandara Depati Amir

Ini Bandara agak menyedihkan. Sejak gw kecil sampai sekarang, Bandara ini boleh dibilang (hampir) gak ada kemajuan. Katanya sih sedang dibangun Bandara baru … tapi di lokasi yang sama. Hee.. Begitu sampai di ruang kedatangan terasa betul bagaimana sumpek dan tumplek-blek-nya Bandara ini. Lajur pengambilan bagasi hanya ada 3, dengan lintasan lurus kurang dari 15 meter. Seringkali dua flight numpuk di satu lajur. Kebayang dong penuh kaya gelas cendol.

  • Hotel Centrvm, Pangkal Pinang

Seperti juga Pak Rustam, Centrvm itu udah seperti rumah kedua di Bangka. Setiap kali gw ke Bangka, sendiri atau pun sekeluarga selalu nginap di hotel ini. Hotel ini memang cuma hotel bintang dua kalau kata Agoda, tapi seisi hotel rasanya sudah seperti keluarga. Pagi dapat breakfast & sore dapat coffeebreak. Gokil kan? Laundry pakaian pun cukup ½ hari (dengan catatan cuaca mendukung ya). Rate kamarnya? Bisa dicek dah; terjangkau. Di sekeliling Centrvm juga banyak penjual makanan lokal yang bisa mengobati palet lidah kalau sudah kebanyakan seafood.

  • Pantai Pasir Padi
IMG_20160708_170519_HDR
Pantai Pasir Padi, Pangkal Pinang, Pulau Bangka
IMG_20160708_170429
Ayah, Ibu dan Anak yang jarang banget ngeliat Pantai.

Pantai Pasir Padi ini jenis pantai yang berpasir putih dengan kontur yang landai. Di pinggir pantainya ada pedagang kelapa, bakso, ketoprak dan lain-lain yang menyediakan bangku kayu untuk duduk. Momen pulang kampung kemarin, kami manfaatkan sebagai ajang berkumpul beberapa trah keluarga Sani. Karena pantainya yang luas dan landai, jadi enak banget buat kumpul beramai-ramai. Bisa main layangan, bisa tarik tambang, bisa balap karung, bisa jungkir balik. Sayangnya, penduduk lokal sering mengendarai mobil dan motor di bibir pantai jadi agak mengerikan juga sih.  

IMG-20160709-WA0000
Reuni 3 Trah Keluarga Sani. Sayangnya, 3 Trah lainnya nggak bisa gabung.
  • Pantai Parai Tenggiri & Parai Beach Resort
IMG_20160709_083538_HDR
Ini wajah Pantai Parai di Parai Beach Resort. Lihat di laut ada titik hitam agak besar; itu Kapal sedang sedot pasir dan timah.

Sebetulnya Pantai Parai Tenggiri dan Parai Beach Resort itu dua hal yang berbeda; yang satu pantai milik publik, yang satu lagi dikelola swasta. Seperti juga Pasir Padi, Parai Tenggiri berada dalam kondisi … ya begitu deh. Sayangnya Parai Beach Resort yang dikelola swasta pun biasa aja, malah cenderung jorok (toiletnya jarang dibersihkan) dan kayanya banyak miskomunikasi di dalamnya (soal kapan restoran buka saja, waiter belepotan jawabnya). Yang mengenaskan, gak jauh dari pantai terlihat kapal sedang mengapung dan sepertinya sibuk menyedot pasir dan timah.

  • Padepokan Puri Tri Agung
IMG_20160709_131543_HDR
Puri Tri Agung yang berdiri gagah di Tepian Bukit Pantai Tikus Emas alias Pantai Nirwana, Sungailiat.
Pantai Tikus Emas alias Pantai Nirwana, Sungailiat, Pulau Bangka.
Pantai Tikus Emas alias Pantai Nirwana, Sungailiat, Pulau Bangka.

Puri Tri Agung sekarang jadi salah satu tempat wisata buat penduduk lokal maupun wisatawan, lokasinya di Pantai Tikus, Sungailiat. Sejak Januari 2015, Puri Tri Agung ini akhirnya selesai dan diresmikan, setelah lebih dari 10 tahun dicicil pembangunannya. Penduduk lokal di Pangkal pinang, sering menyebut Puri Tri Agung sebagai Kuil Shaolin dan selalu ramai dengan wisatawan setiap ada Perayaan Waisak dan Cap Go Meh.

Yang menarik di Puri Tri Agung itu ada banyak pedagang bersepeda yang penjualnya berseragam dan barang dagangannya pun homogen; ada Bakso, Roti Es Krim dan Jagung Rebus dalam cup.

  • Leko

Terpujilah pemilik Leko yang membuka restorannya di Bangka dan tetap operasional walaupun warung lain di seluruh Pangkal pinang memilih tutup. Leko ini true saviour. Tempatnya pewe, makanannya enak, sambal terasinya juara dan minuman dinginnya menyegarkan.

Untuk kota yang belakangan dipenuhi sama warga Lamongan (penjual Soto dan Pecel Lele), Leko ini menjadi penantang yang sangat kuat.

  • Tung Tau
Ini Warung Tung Tau yang ada di Bukit Intan, Pangkal pinang.
Ini Warung Tung Tau yang ada di Semabung Lama, Bukit Intan, Pangkal pinang. Fotonya agak blur, karena ngantuk.

Warung kopi Tung Tau ini menurut gw tempat wisata bersejarah karena sudah berdiri sejak tidak ada kursi (becanda, maksudnya sejak 1938), apalagi kalau mampirnya ke lokasi perintisnya yang ada di Jl. Muhidin no. 87, Sungailiat.

Selama di Bangka, gw dan beberapa sepupu dua kali nongkrong serius di Tung Tau yang ada di Semabung Lama, Bukit Intan, Pangkal pinang. Kopinya termasuk ringan kalau dibandingin sama KimTeng (di Pekanbaru) dan Phoenam (di Makassar) dan rotinya lumayan enak.

  • Asui Seafood Restaurant

Setiap kali pulang kampung ke Bangka, keluarga, terutama Ayah gw pasti ngajak untuk mampir ke Asui. Dulu makanan di sini terkenal karena menggunakan seafood yang fresh dengan bumbu racikan yang enak.

Sayangnya, di kunjungan terakhir kemarin, Asui sepertinya sedang understaff dan kelabakan karena penuh sekali. Banyak konsumen yang bolak-balik ke kasir dan ke dapur untuk komplain karena tak kunjung dilayani dan pesanan tak kunjung datang. Pengalaman makan di Asui kemarin pun jadi kurang mengenakkan.

Dari sisi rasa, gw lebih suka Restoran seafood Wiro Sableng 212 yang ada di Kelapa Gading.

Saran untuk calon konsumen yang belum pernah ke Asui, datanglah di jam-jam yang tidak sibuk … misalnya sekitar jam 3 sore atau di atas jam 8 malam.

  • LCK

Toko oleh-oleh yang satu ini legendaris, lokasinya di Jalan Sudirman, Pangkal pinang; levelnya sama kaya RM Nusa Indah yang juga jual oleh-oleh di Jakarta. Biasanya kalau beli oleh-oleh di LCK, keluarga lebih memilih untuk mengirim paket oleh-oleh itu dengan bantuan JNE yang buka meja di toko. Jadi di pesawat gak perlu kerepotan bawa kardus oleh-oleh yang gede-gede.

  • Rumah Rakyat Rumah Inspirasi
IMG-20160711-WA0006
Bangunan ini belum selesai dan tidak akan pernah selesai namanya Rumah Rakyat Rumah Inspirasi.

Bangunan ini adalah project tak kunjung usai yang digagas kakak sepupu gw. Udah lebih dari 6 tahun dia secara bertahap membangun Bangunan ini. Sampai sekarang belum selesai, tapi sudah mulai dikunjungi anak-anak muda lokal dari sekitar Pangkal pinang. Rencananya, bangunan ini akan jadi tempat berkumpul dan diskusi, mencari inspirasi, baca koleksi buku, dan tentu saja ngopi. Lokasinya bisa dilihat di sini.

CoHousing menurut Kami

Kawan-kawan seperjuangan dalam #kelasmenengahngehe, pernahkah kawan-kawan bermimpi untuk keluar dari kamar kost berukuran 2.5×3 meter? Pernahkah kawan-kawan bermimpi untuk hidup di tengah kota Jakarta? Pernahkah kawan-kawan bermimpi untuk tidak berdesak-desakan dengan kawan lainnya di dalam @BLUTransJakarta? Atau @CommuterLine?

Pernahkah kawan-kawan bermimpi untuk memiliki rumah? Iya, rumah. Bukan sulap. Bukan sihir. Kita bicara soal rumah, Kawan,

Kami punya solusi atas mimpi-mimpi, kawan sekalian. Itu pun kalau kalian sebagai #kelasmenengahngehe bisa dan berani bermimpi. Kalau tidak, silakan bekerja sepenuh-penuhnya waktu. Lalu tinggallah berpadat-padat dengan barang-barang di dalam kamar kost.

Ini yang kami tawarkan, kawan-kawan sekalian!

Kapan lagi bisa punya rumah yang desainnya dikerjakan oleh arsitek muda dan handal dengan budget yang terbatas. Kita bisa memilih lahan bersama-sama dengan temen yang akan menjadi tetangga. Kita juga bisa menentukan budget kita membangun rumah di lahan tersebut, tanpa mengikuti harga developer.

Biasanya di usia 25-35 tahun: kita punya duit di tabungan dalam jumlah yang tanggung, lalu bingung soal penggunaannya. Saran kami, lebih baik bangun rumah. Investasi, kawan!

Syaratnya apa? (1) Kalau memang mau ikut #CoHousing ya wajib, mesti, dan kudu aktif. Karena dari awal kita sama-sama nyari lahan untuk kemudian kita bangunkan rumah dan kita tempati. Kalau males? Tenang, di JCC (Senayan) ada Pameran Properti tiap 3-4 bulan. :))

Coba kalian jawab dua pertanyaan dibawah ini:

  • Pilihan rumah:
    1. Rumah besar di daerah depok/bogor atau;
    2. Rumah sederhana di daerah jaksel? Kl setuju pilihan 2, yuk kita obrolin solusinya. #CoHousing
  • Pilihan hunian bertingkat:
    1. Apartment belasan tingkat di lokasi macet atau;
    2. rumah susun sederhana di tengah kota. Milih no 2? yuk obrolin jg solusinya #CoHousing

Kalau memang tertarik #CoHousing. Coba form ini diisi dulu yuk! http://tiny.cc/cohousing .

Ini soal Masa Depan. Titik!

Masa depan dari 9.607.787 jiwa penduduk ber-KTP Jakarta (menurut BPS, 2010) dan tentu tidak lupa lebih-kurang 18 juta jiwa penduduk wilayah Bodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) akan di tentukan oleh 6.996.951 pemilih berdasarkan ketetapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DKI Jakarta untuk putaran kedua Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta pada hari ini (20 September 2012), dengan rincian:

  • wilayah Kepulauan Seribu tercatat 16.367 pemilih,
  • wilayah Jakarta Pusat tercatat 789.484 pemilih,
  • wilayah Jakarta Utara tercatat 1.168.988 pemilih,
  • wilayah Jakarta Barat tercatat 1.510.159 pemilih,
  • wilayah Jakarta Selatan tercatat 1.512.913, dan
  • wilayah Jakarta Timur tercatat 1.999.040 pemilih.

Bagi saya, hari ini sungguh bersejarah karena incumbent yang berasal dari Partai Politik pemenang pemilu dan rekan-rekan koalisi partainya ditantang oleh kandidat dari hasil koalisi dua Partai Politik yang sebetulnya tidak memiliki basis suara yang cukup besar dari sisi kader Partai. Hasil survey pada seminggu sebelum pemilihan putaran pertama menggambarkan sesuatu yang berbeda: incumbent pasti menang. Ternyata survey tinggal survey, tim sukses pongah hingga salah ambil langkah catur. Waktu seminggu sebelum pemilihan nampaknya cukup untuk merobek-robek hasil survey banyak lembaga. Persentase suara (yang walaupun tidak sampai 50%) untuk kandidat penantang di putaran pertama sebetulnya merupakan isyarat bahwa sebagian besar pemilih di DKI Jakarta menginginkan perubahan pada kepemimpinan. Sesuatu yang mengejutkan bagi banyak kalangan, termasuk kedua kandidat yang bertarung di pemilihan umum.

Meskipun melaksanakan putaran berikutnya artinya biaya tambahan yang membengkak untuk semua pihak (Negara dan kedua kandidat). Apa boleh buat pemilihan umum putaran kedua tetap harus dilaksanakan demi nilai-nilai demokrasi di Ibukota tercinta.

Tulisan ini tidak ingin bermain dengan tebak-tebakan hasil pemilihan putaran kedua, karena sejujurnya saya pun tidak bisa meramalkan dengan tepat. Satu hal yang pasti, kedua tim sukses kandidat sudah bekerja dengan segenap pikiran dan tenaga yang maksimal. Hingga bahkan berulang-ulang mengganti status BlackBerry Messenger (BBM) dengan pesan (bernada kampanye) yang sama dalam satu hari, padahal dari seluruh contact di BBM-nya paling-paling hanya 30% yang punya hak pilih. Mari kita tertawakan saja hal tersebut.

Kalau dan hanya kalau saya boleh berbicara selugas ini, sebetulnya kita (Indonesia secara umum) berada dalam masa krisis kepemimpinan, masa dimana pemimpin tidak lagi memiliki wibawa dan penegakan hukum lebih mirip “macan ompong dan bahkan tanpa kuku yang tajam”. Disaat yang bersamaan, rakyat membutuhkan suri tauladan dan inspirasi bagi keseharian mereka. Entah siapa yang salah.

Saya seorang muslim, dan saya (sangat) malu menjadi bagian dari negara mayoritas muslim dimana korupsi terjadi membabi buta. Bahkan Al-Qur’an pun dijadikan bancakan oleh koruptor di negeri ini. Karenanya, ketika memilih pemimpin, saya tidak akan pernah menggunakan indikator keimanan sebagai tolak ukur. Miris betul rasanya hati dan pikiran saya, ketika isu agama dimanfaatkan sebagai alat kampanye. Terlepas dari ikatan emosional masing-masing individu dengan agamanya, ini merupakan sebuah kemunduran bagi demokrasi dan akal sehat rakyat.

Simbol-simbol Suku Agama dan Ras (SARA) tidak selayaknya digunakan sebagai alat kampanye di kota yang sebetulnya melting-pot dari ke-Bhinneka-Tunggal-Ika-an Indonesia. Founding Fathers kita mungkin sedang menangisi cara berfikir rakyatnya yang dipecah belah isu SARA, dan lupa bagaimana leluhur meregang nyawa untuk menyatukan Indonesia. Hari ini, kita memilih pemimpin untuk mengarahkan bagaimana sebuah kota harus dikelola, bukan untuk menjadi Imam dalam sholat berjamaah atau berdzikir bersama. Agama itu soal Hablum-min-Allah; bersifat vertikal; bukan antar manusia. Sementara, menjadi warga kota yang baik itu soal Hablum-min-annas; bersifat horizontal; antar manusia. Karenanya, berfikir dan memilih dengan akal yang sehat dan hati yang tulus.

Banyak hal lain yang lebih mendasar dari persoalan kepemimpinan dan manajerial dalam mengelola Ibukota. Kita memerlukan pemimpin sekaligus manajer yang mampu untuk:  Mengelola dan memelihara sustainability kota sekaligus membangun dengan inovasi; Berfokus tidak hanya pada sistem dan struktur, tetapi juga pada sumber daya manusianya; Memiliki reputasi dan wibawa sehingga mampu mengontrol dan dipercaya oleh rakyat; Memiliki jangkauan berfikir dalam jangka pendek menengah dan panjang, dalam artian menguasai taktik dan strategi; Berani mengambil langkah catur ketika ketidakadilan terjadi; Dan tidak terikat pada bentuk kontrak politik apapun yang menghalangi arah kebijaksanaan.  Itu baru yang namanya Meritoktrasi dalam kepemimpinan.

Apapun hasil dari pemilihan putaran kedua ini, entah incumbent atau pun penantang, pemenang tidak akan bisa bekerja sendiri dari atas menara gading. Pemenang akan membutuhkan 9.607.787 jiwa penduduk ber-KTP Jakarta dan lebih-kurang 18 juta jiwa penduduk wilayah Bodetabek untuk berusaha sekuat tenaga dan menjadi warga kota yang baik, memiliki disiplin yang tinggi serta berpartisipasi aktif dalam proses pemerintahan. Tanpa hal tersebut, niscaya tidak akan ada perbaikan dan perubahan yang terjadi. Percaya pada saya!

Cities for People, not for Automobiles

Jakarta has been my city for almost 26th years. I could say Jakarta is the breath that lengthens my days. Days go by. Jakarta has now become a monster who ate itself. It’s now almost a rather frustrating and depressing to live in Jakarta, cause only by the traffic jam. I use car for myself in such an egocentric way. The question would be, do I have an option? Nope.

Most people think the way I do (as stated above). They did. If not, why they keep on buying automobiles through consumer credit line? Don’t they know that the option they pick going to stress them with high interest rates? Yes, they do know that, and they take the risk. Because they know the government is working in a slow pace in making progress, while business ran way too fast as usual.

I don’t know for other people, but for me, Jakarta got a major problem made by the system (economy and politic), its own citizen and goes on without something that I called as a “leadership with a-political-will”. These problems have made me think that if changes for Jakarta are too hard to make, in the future no-matter-what I don’t want to raise my children and grandson here. There are too many automobiles and motorcycle, and too few public spaces used as green belt in Jakarta. The city is (maybe) built for cars, not for the industry. Thus, the question people keep asking is more and more infrastructures for cars. Built more streets they said, as if the city still has unoccupied land.

I know, I know you guys work for the automobiles and consumer credit banking industry. You simply have to keep selling those cars and motorcycles. Yeah, one gotta do what one gotta do to earn a living. What kind of live do you have in Jakarta? The one with a rather super-exhausting added with extra pollutant in it? Am sincerely happy that you all live your life to the fullest. Hahaha.. Hope your daughter and son survive the extra pollutant; I heard that those extras are a major silent-killer in the city.

Do you know what I dream about Jakarta? A city with lots of these things:

  • New governor whose also an inspiring leader with political will to act;
  • New city grand design regulation created with active public participation;
  • Pedestrian areas and bicycle paths all over the city;
  • Integrated Bus Rapid Transit, Mono-Rail Train and feeder Buses to maintain mobility without hurting sustainability;
  • Condos, lofts, and subsidized apartments with “sky gardens” around each business district with reasonable price;
  • Schools that ensure students creativity, teach about entrepreneurship and inspire the students about leadership and ethics;
  • Equal work opportunity for all citizens;
  • Healthy good-food culture with fresh food stalls on every streets;
  • Community Spaces or Building to maintain neighborhood bonds and enrich our socio-cultural value;
  • Parks (green belt) and public spaces with Wi-Fi connections to waste some times after office hours;
  • Waste management that ensure waste recycled into energy resources.

As for today, what we need is citizen’s active participation in building this dream to come to live. While in a more global views, political leadership with grand strategic design, technical issues, on-field-implementation and citizenship should be highlighted as the future fixer of Jakarta.

I know, I know, I sounded like a day-dreamer, but do take a look at this websites: http://www.citiesforpeople.net; and listen to Jaime Lerner (ex-mayor of Curitiba, Brazil) here, am not dreaming. My dream city does exist, only not in Jakarta.

[Pilkada DKI] Masalah dan Program Berkualitas

Jakarta (mungkin) memerlukan tangan besi yang bisa memaksa kota dan warganya untuk ikut berubah sesuai dengan program yang bertujuan akhir membuat Jakarta menjadi kota yang layak huni secara berkelanjutan. Billboard dan spanduk himbauan dari Pemerintah Daerah tidak akan memiliki efek bagi warga. Penegakan hukum di lapangan atas tindakan indisipliner umum diperlukan, terutama terkait bagaimana menjadi warga kota yang baik (disiplin mengendarai kendaraan, membuang sampah, dll).

Lepas dari masalah penegakan hukum, Jakarta dihadapkan dengan 3 masalah umum, yaitu:

  1. Kesehatan Masyarakat Kota, Jakarta memerlukan perbaikan kesehatan fisik dan jiwa masyarakat kota melalui perencanaan spasial pembangunan dan pengembangan aksesibilitas kota.
  2. Pemerataan Kesempatan Kerja, Jakarta memerlukan penguatan korelasi antara sistem pendidikan yang berkualitas dengan kebutuhan dunia kerja dan penciptaan lapangan kerja yang lebih baik.
  3. Pembangunan yang berkelanjutan, Jakarta memerlukan pembangunan yang berkelanjutan yang menjamin kelayakan hidup warganya dalam jangka panjang.

Dan beberapa masalah khusus di Jakarta:

  • Banjir: Jakarta memiliki jaringan drainase dan resapan air tanah yang buruk, dan masih ditambah dengan tidak adanya disiplin warga dalam membuang sampah.
  • Macet/ Aksesibilitas: Jakarta dengan kepadatan jalan raya pada jam-jam sibuk yang ditengarai karena pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor milik pribadi yang terus meningkat yang ironisnya dikeluhkan oleh pengguna kendaraan pribadi sendiri. Seharusnya, jumlah kendaraan bermotor milik pribadi dikurangi sampai 70%. Dan tentu saja diperlukan transportasi publik (TransJakarta, Feeder Bus, Bus Kota dan Angkot [dalam jumlah yang tidak melebihi batas], Halte, KRL, MRT, Stasiun, dll) yang diperkuat dengan fasilitas yang manusiawi. Silakan definisikan manusiawi menurut pemahaman masing-masing. :p
  • Polusi: Jakarta kehilangan banyak penyerap karbonmonoksida karena pembangunan yang tidak disesuaikan dengan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup). Presentase lahan hijau di Jakarta harus ditingkatkan paling tidak sampai 30%. Tentu dengan memperbanyak taman kota dengan pohon trembesi di Jakarta.
  • Lingkungan Hidup: Lajur hijau bagi pejalan kaki dan pesepeda yang aman. Aman disini bisa dipahami sebagai misalnya: berjalan kaki tidak perlu lagi takut ditabrak motor atau bersepeda tidak perlu lagi takut dihantam kendaraan yang lebih besar. Lajur pejalan kaki yang layak, minimal 3 meter dengan keteduhan yang cukup, misalnya dengan ditanami pohon trembesi.
  • Pemukiman:Sebaik-baiknya kota modern, semakin ke pusat, pertumbuhan dilakukan dengan pola kluster vertikal. Tidak lagi horizontal. Dengan pembagian wilayah kelayakan: Pusat (dihuni kelas menengah B, C, dan D), Pinggir (dihuni kelas A dan B). Logika saya, harga tanah semakin tinggi bila semakin ke pusat, maka pembangunan selayaknya kluster vertikal. Maka, perbanyak rumah susun dan apartemen dengan beragam kelas harga, agar daya beli masyarakat mencukupi. Begini lebih baik ketimbang masyarakat harus membeli tanah mahal dan cuma bisa membangun pemukiman satu lantai yang padat.

Penjabaran diatas sebetulnya sekadar ingatan saya, yang entah kenapa menghangat lagi setelah terakhir kali mengikuti bagaimana Koalisi Jakarta (sudah bubar -red) memperjuangkan adanya partisipasi warga dalam proses perancangan Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2030, dan bagaimana Save Jakarta (sepertinya juga sudah bubar -red) memperjuangkan hal yang hampir sama dengan Koalisi Jakarta.

Terkait dengan Pilkada DKI Jakarta, tentu kita memerlukan seorang pemimpin Ibukota yang memiliki kapabilitas dan memiliki program yang bisa diimplementasikan pada sasaran yang tepat dalam tenggat waktu yang padat.

Lalu, apa saja yang harus ada pada sebuah program kampanye calon gubernur DKI Jakarta?

  1. Identifikasi: Masalah apa saja yang selama ini ada di DKI Jakarta? Bagaimana prioritas penanganan masalahnya? Bagaimana pembagian wilayah kerja dalam prioritas tersebut?
  2. Tujuan akhir: Bagaimana Jakarta akan diposisikan diantara kota-kota lain di seluruh dunia?
  3. Rumusan:
    • Bagaimana melakukan pembangunan yang berkelanjutan di Jakarta?
    • Bagaimana mengelola perencanaan spasial, aksesibilitas, pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi?
    • Bagaimana mengelola lingkungan hidup dengan tetap memelihara kualitas kehidupan, kultur, budaya dan sejarah masyarakat?
    • Bagaimana melaksanakan keempat poin diatas? Apa saja yang akan menjadi indikator kinerja? Dan bagaimana masyarakat dapat mengawasinya?

Sanggupkah Anda, saudara Calon Gubernur?

#wishlist for Jakarta

Semua pasti senang kalau kota yang ditinggali nyaman, semua pasti senang. Kondisi nyaman tentu dibentuk oleh beberapa faktor yang memperkuatnya. Nah, tulisan ini sekedar berbagi apa yang bisa menjadi faktor pembentuk nyaman-nya Jakarta. Saya buat jadi #wishlist ya …

1. Jumlah kendaraan bermotor milik pribadi dikurangi sampai 70%.

2. Transportasi publik (TransJakarta, Feeder Bus, Halte, KRL, MRT, Stasiun, dll) diperkuat dengan fasilitas yang manusiawi. Silakan definisikan manusiawi menurut pemahaman masing-masing. :p

3. Lajur hijau sepeda yang aman. Aman disini bisa dipahami sebagai misalnya: bersepeda tidak perlu lagi takut ditabrak kendaraan bermotor.

4. Lajur pejalan kaki yang lebar, minimal 3 meter. Dan tentu saja dibuat teduh dengan keberadaan pohon trembesi.

5. Presentase lahan hijau di Jakarta harus ditingkatkan sampai 30%. Tentu dengan memperbanyak taman kota dengan pohon trembesi di Jakarta.

6. Perbanyak Rumah Susun yang murah dan Apartemen kelas menengah di tengah kota. Begini lebih baik ketimbang masyarakat harus membeli tanah mahal dan cuma bisa membangun pemukiman satu lantai yang padat.

7. Jaringan drainase dan resapan air tanah yang efektif. (dari @PamanTyo)

8. … #wishlist lainnya menyusul.

… … …

Anyway, Selamat Ulang Tahun Jakarta! 😀

Semoga Tuhan bersama kami

Mengubah sebuah sistem bukan hal yang mudah, terlebih bila sistem yang ada sudah berjalan puluhan tahun. Pun manusia datang dan pergi, sistem yang sama sudah menjadi kebiasaan. Terlepas dari baik atau buruk sistem tersebut. Perubahan yang diinginkan tentu perubahan yang baik. Kami menonton sistem yang berjalan di kongres amerika serikat dan sulit bagi saya dan teman-teman di kantor untuk tidak menginginkan hal yang sama.

Darimana memulai perubahan kemudian menjadi pertanyaan awal, kami beruntung tidak perlu meraba terlalu jauh karena ada pengalaman yang dibagi oleh sahabat saya yang bernama Arief Budiman yang pernah terjun langsung menjadi Staf Khusus bagi Ketua DPR. Seluk beluk mengenai bagaimana lembaga legislatif bekerja masih lekat di kepalanya. Dan kami membentuk tim yang sampai hari ini solid dengan visi misi yang sama, membawa perubahan yang baik di lembaga legislatif yang seharusnya menjadi kebanggaan bagi Bangsa Indonesia.

Pendekatan di lakukan dari atas ke bawah, dari bawah ke atas. Begitu berulang, berusaha membombardir dengan gagasan, gagasan dan gagasan. Kami beruntung memiliki individu muda dengan gagasan yang cemerlang seperti Andika Putraditama dan Wildan Kesuma, yang gagasannya terus berkembang dan berkembang. Dari gagasan yang mereka kembangkan, saya sampaikan kepada individu-individu lainnya yang memang berada di dalam sistem. Disana, saya bertemu individu-individu yang menarik, mencoba berbagi visi dan misi yang sama hingga menemukan akhirnya kesepahaman.  Selama waktu berjalan, kadang tersandung, kadang bertemu halang rintang, kadang juga berjalan begitu saja seolah Tuhan mendengar setiap do’a di dalam pikiran.

Tugas masih menumpuk, yang harus ditemui dan diajak bersepaham masih banyak. Suara miring kadang datang dari kanan kiri, tapi kapal tidak boleh terbawa arus yang mengubah arah, apalagi karam. Semoga Tuhan bersama kami. Semoga.