#DisasterReady #BanjirJkt: Tips dan Informasi Penting

January 17, 2013 § Leave a comment

Things to prepare:

Daftar items untuk Kebutuhan Dasar Darurat:

  • Air, (paling tidak 1 botol ukuran 1 liter/orang)
  • Makanan instan yang tahan lama (minimal untuk 3 hari)
  • Kotak P3K dan obat-obatan dengan resep (bila memiliki penyakit tertentu)
  • Senter, baterai ekstra, lilin dan korek api
  • Jas Hujan atau Mantol dan Payung
  • Peluit, (siapa tahu kita terjebak dan harus memberi sinyal minta pertolongan).
  • Masker udara, untuk membantu menyaring udara yang terkontaminasi
  • Tisu sanitasi, kantong plastik sampah dan tali tambang plastik.
  • Pisau lipat yang serbaguna
  • Peta lokal atau wilayah setempat

Do’s:

  • Rencana: Selalu buat rencana dan perhitungan untuk segala aktivitas selama darurat bencana. Update terus informasi mengenai situasi dan kondisi darurat bencana.
  • Dokumen-dokumen: Pastikan dokumen-dokumen penting anda tersimpan di lokasi yang aman. Siapkan plastic-wrapper untuk mengamankannya.
  • Keluarga: Tiap anggota keluarga sebaiknya memiliki catatan berisi nama lengkap dan nomor-nomor penting. Kalau ponsel mati, pasti catatan tersebut berguna.
  • Orang tua dengan Balita: Pastikan stok air bersih, makanan, susu dan popok cukup, paling tidak untuk 3 hari kondisi darurat.
  • Pemilik rumah: Listrik yang tersedia di rumah bisa jadi cadangan terakhir. Full-charge semua perangkat (Ponsel, Baterai Cadangan, Lampu cadangan) yang dibutuhkan saat kondisi darurat. Jika akan meninggalkan rumah, pastikan semua jendela dan pintu terkunci  serta pastikan semua panel listrik sudah dimatikan.
  • Mobilitas: Selama darurat bencana, ada kemungkinan akses-akses jalan tertutup. Transportasi Publik mungkin akan berhenti beroperasi. Sementara membawa kendaraan pribadi kadang terlalu beresiko. Sebaiknya rencanakan baik-baik keperluan bila bepergian, kalau tidak terlalu perlu lebih baik stay di rumah atau lokasi pengungsian.
  • Komunikasi: Sediakan Ponsel, baterai cadangan dan powerbank. Saat darurat bencana terjadi, kita tidak pernah tahu kapan listrik dipadamkan.
  • Tetangga rumah: Berkoordinasi dengan tetangga mengenai siaga/tanggap bencana sebaiknya dilakukan. Buat rencana mitigasi bencana, lokasi bertemu dan rute-rute evakuasi darurat bencana. Kita seringkali lupa bahwa seberapa banyak pun teman kita di dunia, yang paling dekat dan bisa membantu kita adalah tetangga rumah.

Don’ts:

  • Panik, ketenangan merupakan faktor utama dalam menghadapi darurat bencana.
  • Percaya pada HOAX atau menyebarkan HOAX.
  • Melintasi titik banjir dengan arus air yang kuat. Lebih baik putar balik, daripada nekat dan terbawa arus. Kita juga tidak tahu apakah ada listrik yang terhubung pada genangan air. Ingat, air adalah penghantar listrik.

Social Media

Untuk mengetahui informasi terbaru secara real-time, sila follow akun berikut :

  • @TMCPoldaMetro
  • @BPBDJakarta
  • @infoBMKG
  • @infojakarta
  • @BLUTransjakarta
  • @CommuterLine
  • @RadioElshinta
  • @JongDjakarta

Informasi dan nomor penting:

  • Call center SAR DKI Jakarta: 021-5501512, 021-55051111 & 021-5507976.
  • Radio Sonora: 021-6337783
  • TMC Polda Metro Jaya: 021-52960770.
  • Call center bantuan evakuasi di Jakarta:
    • Jakarta Pusat: 021-6344215
    • Jakarta Utara: 021-43931063
    • Jakarta Barat: 021-5682284
    • Jakarta Selatan: 021-7515054
    • Jakarta Timur: 021-85904904

————————————————————–

Anda bisa mengunduh, mencetak dan membagikan informasi kepada teman-teman melalui link ini:

#ResepDarurat Tahu Pong, Nasi Hangat dan Sambal Kecap

December 8, 2012 § 2 Comments

Bahan-bahan:

  1. Tahu Pong (Sesuai kebutuhan)
  2. Bawang Putih (4 siung)
  3. Garam (Secukupnya)
  4. Minyak Goreng
  5. Bawang Merah
  6. Cabe Rawit
  7. Kecap Manis

Cara Memasak:

  1. Potong Tahu Pong sesuai ukuran yang disukai. Geprek beberapa siung bawang putih.
  2. Masukkan minyak goreng dengan menggunakan wajan teflon. Tunggu hingga minyak panas.
  3. Masukkan tahu pong yang sudah dipotong, bawang putih yang sudah digeprek ke dalam minyak panas.
  4. Taburkan garam diatas tahu yang sedang digoreng. Tunggu hingga tahu berwarna keemasan. Balik posisi tahu tersebut.
  5. Setelah dibalik, kembali taburkan garam diatas tahu. Tunggu hingga berwarna keemasan pada kedua sisinya.
  6. Tiriskan tahu pong yang sudah matang.
  7. Untuk sambal kecapnya: Rajang kasar bawang merah dan cabe rawit, masukkan ke dalam mangkuk kecil dan tambahkan kecap secukupnya.
  8. Tahu Pong, Nasi Hangat dan Sambal kecap siap disajikan!

Selamat mencoba! :D

Calling for #Help to #saveGOA, NOW!

December 4, 2012 § Leave a comment

Generation Of Action (GOA) is a Non Governmental Organization (NGO) formed in 2010 dedicated to combating environmental problems in the City and District of Pematangsiantar Simalungun in central Sumatra. These problems range from water, air and soil pollution to protecting our remaining forest areas from illegal logging and clearing for palm oil and other agricultural pursuits.

We as the younger generation that make up GOA have a responsibility to enhance and preserve the environment for future generations living not only in the City and District of Pematangsiantar Simalungun but to Indonesia as a whole. We believe future generations have a right for a cleaner, greener and more sustainable future.

Mission

  1. Grow and plant ten thousand native trees every year in various locations throughout the municipality of Simalungun (including lake Toba).
  2. Provide guidance and assistance to local govermant, district councils, village chiefs and the wider community about the importance of environmental conservation.
  3. Educate members of the community who have the potential to provide solutions to existing environmental problems.
  4. Work with local government to adopt a clean city program through the greater placement of rubbish bins, recycling centres and strategically placed landfill sites.
  5. Coordinate with other NGO’s to pressure the Local and district governments to protect all remaining forests, crack down on illegal logging and other forms of land clearing and to create new National Parks and Forest Protection Areas.

GOA has undertaken the following programs:

  1. Organised the Cleaning of residential areas, markets and other public places.
  2. Planted 23,000 native trees and supplied native seeds for reforestation programs
  3. Worked with governments to create new landfills and recycling centres in the distict.
  4. Through funding from Pertamina; designed, developed and erected 12 large signs along roadsides to educate the community about forest protection and appropriate disposal of rubbish.

In addition to the above program, GOA offers counseling and guidance to district governments, schools and other educational institutions, church leaders and companies in the city and county of Simalungun.

PROBLEMS:

Being a Non-Government Organisation has up to this point in time functioned without any incoming funds, operating day-to-day activities at the personal expense of its organizers. Funding was allocated for project specific purposes only. 

ITEM’S THAT REALLY NEED FUNDING SUPPORT:

Office + Nursery Rent for 3 years: $ 1,000/year
Trees (seeds, soil, pots, fertilizer) 10,000 package: $ 500.00
In Total (USD) $ 3,500.00

With the participation of the society in our programs, GOA assures that this program will be very beneficial directly to aspects of society, especially the municipalities and counties Simalungun.

And also for the donors, among others:

  • Contribute to improving the knowledge and human resources in the field of environmental conservation.
  • Contribute to the long-term preservation of the environment.
  • Provide a good image in the development of human resources and district municipalities Simalungun

If the institution for donors who willing to participate in sustainability programs we have explained above, The donors can confirm and call Generation Of Action Chairman: Marcus Lamhot (085358233393).

Thanks for your kind attention to this blog-post.

——————————————————————

Information on Generations of Action (GOA)
GENERATION OF ACTION (GOA) - Environmental NGO’s (Non-Governmental Organizations)
  • KOTA PEMATANGSIANTAR DAN KABUPATEN SIMALUNGUN | Alamat : Jl. Nias No. 2 kel. Toba – Kec. Siantar Selatan PEMATANGSIANTAR – INDONESIA
  • No. Reg. STTPKO P. SIANTAR 245 240
  • No. Reg. STTPKO Simalungun 220/71/Kesbangpol – Linmas/2011
  • No Telp : 085358233393 – 085358614822

Bagaimana Fokus & Indikator Waktu serta Kinerja @Jokowi_Do2 (?)

September 21, 2012 § 1 Comment

Laporan BPS tahun 2010 menyebutkan bahwa ada 9.607.787 jiwa penduduk ber-KTP Jakarta dan tidak lupa lebih-kurang 18 juta jiwa penduduk wilayah Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi). Nasib mereka untuk 5 tahun mendatang terhitung sejak Pelantikan Kepala Daerah DKI Jakarta terpilih tanggal 7 Oktober 2012 kelak ditentukan oleh Program yang akan dijalankan oleh Pasangan Pemenang Pemilukada.

Ada beberapa poin yang menjadi catatan saya dari Program yang dikampanyekan oleh Gubernur dan Wakil terpilih, diantaranya:

  1. Bidang Penataan Kota: melakukan intervensi sosial untuk revitalisasi pemukiman padat dan kumuh, dan membangun super-blok untuk menengah ke bawah dengan kelengkapan taman, pasar dan pusat layanan kesehatan.
  2. Bidang Pengentasan Banjir: membentuk Otoritas Pengelola Sungai yang bermuara di Jakarta bersama pemerintah Bodetabek, membangun embung/folder penampung hujan di level kecamatan dan kelurahan, membeli daerah tangkapan air untuk mengendalikan debit air yang masuk dan mengintegrasikan saluran drainase dengan kanal pembuangan air
  3. Bidang Transportasi: membentuk Otoritas Pelayanan Transportasi bersama pemerintah Bodetabek untuk penanganan mobilitas warga lintas daerah, mengganti sebagian lajur Busway menjadi Railbus untuk peningkatan kapasitas angkut TransJakarta, mengutamakan People Mobilization bukan Car Mobilization, mengganti dan memperbanyak armada angkutan umum (metromini, kopaja dan bis lain) yang lebih layak dan nyaman, membangun monorail, merintis pembangunan MRT/Subway, membatasi penggunaan kendaraan pribadi dengan Electronic Road Pricing, menaikkan biaya Sewa Parkir, pengaturan nomor kendaraan ganjil-genap dan jam kerja kantor.
  4. Bidang Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat: mengganti Surat Keterangan Tidak Mampu dengan Kartu Sehat yang berlaku di Rumah Sakit milik pemerintah dengan biaya ditangguh Pemerintah DKI Jakarta, membangun Mall Khusus untuk Pedagang Kaki Lima agar lebih tertib dan tidak memakan bahu dan badan jalan raya, merevitalisasi Pasar Tradisional agar memiliki daya saing.
  5. Bidang Kebudayaan dan Pelayanan Publik: membangun kebudayaan warga kota berbasis komunitas, menyediakan ruang-ruang publik sebagai fasilitas pergaulan warga dan sarana tempat mengekspresikan diri, mengembangkan pusat-pusat kebudayaan Jakarta di lima wilayah administratif, melaksanakan Reformasi Birokrasi agar bersih, transparan dan professional, mempercepat segala bentuk perizinan (paling lama 6 hari kerja), meniadakan kelengkapan seperti pentungan pada Polisi Pamong Praja.

Masyarakat dalam hal ini tidak lagi bisa berpangku tangan hanya pada Program yang dijalankan oleh Gubernur dan Wakil terpilih, tetapi juga harus berpartisipasi aktif dalam mendukung dan mengawasi jalannya pemerintahan daerah. Karena tanpa hal tersebut, niscaya Jakarta akan menjadi kota yang sama dengan Jakarta di masa Gubernur Fauzi Bowo.

Yang kemudian perlu ditanyakan dan dicatat adalah, dari program-program yang tersebut diatas, apa yang akan menjadi fokus dalam 100 Hari Pertama, Capaian Tahun Pertama, Kedua, Ketiga sampai Kelima dari Joko Widodo sebagai Gubernur DKI Jakarta? Lalu apa indikator waktu dan kinerja dari masing-masing program tersebut? 

Mari Tagih Program Kampanye #JakartaBaru

September 21, 2012 § 2 Comments

Visi Misi Pasangan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama: “Jakarta Baru”

Visi

Jakarta baru, kota modern yang tertata rapi, menjadi tempat hunian yang layak dan manusiawi, memiliki masyarakat yang berkebudayaan, dan dengan pemerintahan yang berorientasi pada pelayanan publik.

Misi

  1. Mewujudkan Jakarta sebagai kota modern yang tertata rapi serta konsisten dengan rencana tata ruang wilayah.
  2. Menjadikan Jakarta sebagai kota yang bebas dari masalah-masalah menahun seperti macet, banjir, pemukiman kumuh, sampah dan lain-lain.
  3. Menjamin ketersediaan hunian dan ruang publik yang layak serta terjangkau bagi warga kota.
  4. Membangun budaya masyarakat perkotaan yang toleran, tetapi juga sekaligus memiliki kesadaran dalam memelihara kota.
  5. Membangun pemerintahan yang bersih dan transparan serta berorientasi pada pelayanan publik.

Program yang dikampanyekan kandidat Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama: 

Bidang penataan kota

  1. Melakukan intervensi sosial untuk merevitalisasi pemukiman padat dan kumuh, tetapi meniadakan penggusuran.
  2. Pembangunan super-blok untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Berupa one stop living yang terdiri dari hunian vertikal (rumah susun), ruang publik berupa taman, pasar, dan pusat layanan kesehatan.

Mengatasi banjir

  1. Pembangunan embung/folder untuk menangkap dan menampung air hujan di setiap kecamatan dan di setiap kelurahan.
  2. Membeli daerah tangkapan air seperti situ/waduk di hulu sungai agar debit air yang masuk ke Jakarta bisa dikendalikan.
  3. Bekerja sama dengan pemerintahan di sekitar Jakarta untuk membuat sebuah otoritas yang mengatur dan mengelola sungai-sungai yang bermuara di Jakarta.
  4. Mengintegrasikan seluruh saluran drainage agar terkoneksi dengan kanal-kanal pembuangan air.

Bidang transportasi

  1. Bekerja sama dengan pemerintah sekitar Jakarta untuk membuat otoritas pelayanan transportasi jabodetabek agar persoalan mobilitas warga bisa ditangani oleh badan yang memiliki otoritas lintas daerah.
  2. Mengganti sebagian besar busway menjadi railbus sehingga kapasitas dalam mengangkut penumpang jauh lebih besar. Mengutamakan people mobilization, bukan car mobilization.
  3. Memperbanyak armada angkutan umum, terutama busway di koridor-koridor yang tetap dipertahankan sebagai jalur busway.
  4. Mengganti kendaraan umum seperti metromini, kopaja, dan bis dengan kendaraan yang jauh lebih layak agar warga merasa nyaman untuk menggunakan kendaraan umum.
  5. Pembangunan monorail.
  6. Merintis pembangunan mrt/subway sebagai angkutan massal warga kota.
  7. Melengkapi penyediaan transportasi massal dengan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi melalui sistem electronic road pricing (erp), sewa parkir yang tinggi, pengaturan kendaraan berdasarkan nomor polisi genap-ganjil, dan pengaturan jam kerja.

Bidang kesehatan

  1. Memperpendek jalur birokrasi pelayanan kesehatan yang saat ini menggunakan surat keterangan tidak mampu (sktm) menjadi kartu sehat yang berlaku di rumah sakit pemerintah, dan pembayarannya ditanggung oleh pemerintah.
  2. Menyediakan pusat kesehatan masyarakat di pasar-pasar tradisional, terutama pasar-pasar yang dibangun di super blok untuk kalangan menengah ke bawah.

Bidang kesejahteraan masyarakat

  1. Membangun mall khusus untuk pedagang kaki lima agar lebih tertib dan tidak memakan badan jalan.
  2. Merevitalisasi pasar tradisional agar tetap bisa bersaing dengan pasar modern dan menggerakkan perenomian warga kota.

Bidang kebudayaan

  1. Membangun kebudayaan warga kota berbasis komunitas.
  2. Menyediakan ruang-ruang publik sebagai fasilitas pergaulan warga dan sarana tempat mengekspresikan diri.
  3. Mengembangkan pusat-pusat kebudayaan Jakarta di lima wilayah administratif.
  4. Merevitalisasi melengkapi fasilitas kawasan old batavia agar menjadi daya tarik wisata sejarah dan budaya di Jakarta.

Bidang pelayanan publik

  1. Melaksanakan reformasi birokrasi agar pemerintahan berjalan bersih, transparan, dan profesional
  2. Mempercepat dan memperpendek waktu pengurusan izin, waktu pengurusan izin paling lama hanya sampai enam hari kerja.
  3. Meniadakan pentungan dan perlengkapan yang memungkinkan polisi pamong praja melakukan kekerasan terhadap warga
  4. Gubernur dan wakil gubernur berkomitmen untuk tidak menggunakan voorrijder sehingga bisa merasakan keadaan yang sesungguhnya sedang dialami warga
  5. Gubernur dan wakil gubernur hanya akan berada di kantor selama 1 jam saja, dan sisanya meninjau proses pembangunan dna pelayanan publik di lapangan

—-

Sumber: Website Resmi Pasangan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama

Corporate Communication and it’s Purposes

September 20, 2012 § Leave a comment

Definition of Corporate Communication

Corporate Communication is the total of a corporation’s efforts to communicate effectively and profitably. Obviously the action that any particular corporation takes to achieve that goal depends in large part on the character of the organization and its relationship with its stakeholders (suppliers, community, employees, and customers). In practice, corporate communication is a strategic tool for the contemporary corporation to gain a competitive advantage over its competitors. Managers use it to lead, motivate, persuade, and inform employees and the public as well.

Corporate communication is more art than science. Its intellectual foundations and body of knowledge began with the Greeks and Romans with rhetoric. Its theoretical foundation is interdisciplinary, using the methods and findings of:

  • Anthropology
  • Communications
  • Language and linguistics
  • Sociology
  • Psychology
  • Management and marketing (also PR)

As a focus of academic study, corporate communication can be considered in the large context presented here, or it can be seen as a part of public relations. Given the business environment, the more encompassing definition works well in both: the applied context of the workplace; as well as within the context of academic study.

Corporate communication is the term used to describe a wide variety of management functions related to an organization’s internal and external communications. Depending on the organization, corporate communications can include such traditional disciplines as:

  • Public relations,
    • Investor relations,
    • Employee relations,
    • Community relations,
    • Media relations,
    • Labor relations,
    • Government relations,
  • Advertising,
  • Technical communications,
  • Training and employee development,
  • Marketing communications, and
  • Management communications.
  • Many organizations also include:
    • Philanthropic activity,
    • Crisis and emergency communications, and advertising as part of corporate communications functions.

The Purposes of Corporate Communications

The four public relations models show 4 historical eras or stages in the evolution of the corporate communication function. They can also be regarded as 4 different world-views, indicating the different purposes that organizational members see for the corporate communication function. Note: Corporate Communication = PR (without negative part).

  1. Press agentry:  purpose of corporate communication is publicity à trying to gain coverage from the mass media in almost any way possible. This model describes the purpose of corporate communication as being publicity, trying to gain coverage from the mass media in almost any way possible. It serves a propaganda function and spreads the faith of the organization involved, often through incomplete, distorted, or half-true information. Press-agentry is a one-way model where information is given, but the organization does not seek information from stakeholders.
  2. Public information: In this one-way model, communication is seen as the dissemination of information through the mass and controlled media such as newsletters, brochures, direct mail or the Internet. Negative information is rarely volunteered. In this one-way model, communication is seen as the dissemination of information (not necessarily with a persuasive intent) through the mass and controlled media such as newsletters, brochures, direct mail or the Internet. Negative information is rarely volunteered.
  3. Two-way asymmetric: information flows between the organization and its stakeholders, but is imbalanced in favor of the organization. In this two-way model, information flows between the organization and its stakeholders, but is imbalanced in favor of the organization. This model is not confined to the dissemination of information and research plays a key role. However, research here is (only) used to determine the most appropriate channels and messages to persuade stakeholders to behave as the organization wants, without the organization itself changing its behavior.
  4. Two-way symmetric: communication consists more of dialogue than monologue. In this two-way model, communication consists more of dialogue than monologue. Communication efforts are described in terms of its research base as well as the use of communication in improving understanding with key stakeholders. It presents the classic win-win situation, and implies that both the organization and its stakeholders are benefiting. The organization is adjusted to fit the environment. This requires bargaining, negotiating, and using strategies of conflict resolution to bring symbiotic changes in the ideas, attitudes, and behaviors of the organization and its stakeholders.

Communication with Internet

The Internet started as two-way communication, but became one-way communication when it was commercialized – used mainly to disseminate information. However, because of its interactive nature, some organizations have started to use the Internet to build two-way, interactive relationships with their stakeholders, fostering dialogue through various methods.

The Internet is not about mass marketing and mass markets. It’s about people – individuals with unique aspirations, needs, desires, and cultural backgrounds. It’s not as much a mass market of 60 million people as it is 60 million markets, each containing one person.

A need therefore exists to crystallize a message to individuals in one-to-one communication and to build one-to-one relationships at the same time. The Internet is the medium to provide in this need.

—-

Further Readings: 

PS: Thanks to MR. Syafiq B. Assegaf for giving the lectures

Ini soal Masa Depan. Titik!

September 20, 2012 § Leave a comment

Masa depan dari 9.607.787 jiwa penduduk ber-KTP Jakarta (menurut BPS, 2010) dan tentu tidak lupa lebih-kurang 18 juta jiwa penduduk wilayah Bodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) akan di tentukan oleh 6.996.951 pemilih berdasarkan ketetapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DKI Jakarta untuk putaran kedua Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta pada hari ini (20 September 2012), dengan rincian:

  • wilayah Kepulauan Seribu tercatat 16.367 pemilih,
  • wilayah Jakarta Pusat tercatat 789.484 pemilih,
  • wilayah Jakarta Utara tercatat 1.168.988 pemilih,
  • wilayah Jakarta Barat tercatat 1.510.159 pemilih,
  • wilayah Jakarta Selatan tercatat 1.512.913, dan
  • wilayah Jakarta Timur tercatat 1.999.040 pemilih.

Bagi saya, hari ini sungguh bersejarah karena incumbent yang berasal dari Partai Politik pemenang pemilu dan rekan-rekan koalisi partainya ditantang oleh kandidat dari hasil koalisi dua Partai Politik yang sebetulnya tidak memiliki basis suara yang cukup besar dari sisi kader Partai. Hasil survey pada seminggu sebelum pemilihan putaran pertama menggambarkan sesuatu yang berbeda: incumbent pasti menang. Ternyata survey tinggal survey, tim sukses pongah hingga salah ambil langkah catur. Waktu seminggu sebelum pemilihan nampaknya cukup untuk merobek-robek hasil survey banyak lembaga. Persentase suara (yang walaupun tidak sampai 50%) untuk kandidat penantang di putaran pertama sebetulnya merupakan isyarat bahwa sebagian besar pemilih di DKI Jakarta menginginkan perubahan pada kepemimpinan. Sesuatu yang mengejutkan bagi banyak kalangan, termasuk kedua kandidat yang bertarung di pemilihan umum.

Meskipun melaksanakan putaran berikutnya artinya biaya tambahan yang membengkak untuk semua pihak (Negara dan kedua kandidat). Apa boleh buat pemilihan umum putaran kedua tetap harus dilaksanakan demi nilai-nilai demokrasi di Ibukota tercinta.

Tulisan ini tidak ingin bermain dengan tebak-tebakan hasil pemilihan putaran kedua, karena sejujurnya saya pun tidak bisa meramalkan dengan tepat. Satu hal yang pasti, kedua tim sukses kandidat sudah bekerja dengan segenap pikiran dan tenaga yang maksimal. Hingga bahkan berulang-ulang mengganti status BlackBerry Messenger (BBM) dengan pesan (bernada kampanye) yang sama dalam satu hari, padahal dari seluruh contact di BBM-nya paling-paling hanya 30% yang punya hak pilih. Mari kita tertawakan saja hal tersebut.

Kalau dan hanya kalau saya boleh berbicara selugas ini, sebetulnya kita (Indonesia secara umum) berada dalam masa krisis kepemimpinan, masa dimana pemimpin tidak lagi memiliki wibawa dan penegakan hukum lebih mirip “macan ompong dan bahkan tanpa kuku yang tajam”. Disaat yang bersamaan, rakyat membutuhkan suri tauladan dan inspirasi bagi keseharian mereka. Entah siapa yang salah.

Saya seorang muslim, dan saya (sangat) malu menjadi bagian dari negara mayoritas muslim dimana korupsi terjadi membabi buta. Bahkan Al-Qur’an pun dijadikan bancakan oleh koruptor di negeri ini. Karenanya, ketika memilih pemimpin, saya tidak akan pernah menggunakan indikator keimanan sebagai tolak ukur. Miris betul rasanya hati dan pikiran saya, ketika isu agama dimanfaatkan sebagai alat kampanye. Terlepas dari ikatan emosional masing-masing individu dengan agamanya, ini merupakan sebuah kemunduran bagi demokrasi dan akal sehat rakyat.

Simbol-simbol Suku Agama dan Ras (SARA) tidak selayaknya digunakan sebagai alat kampanye di kota yang sebetulnya melting-pot dari ke-Bhinneka-Tunggal-Ika-an Indonesia. Founding Fathers kita mungkin sedang menangisi cara berfikir rakyatnya yang dipecah belah isu SARA, dan lupa bagaimana leluhur meregang nyawa untuk menyatukan Indonesia. Hari ini, kita memilih pemimpin untuk mengarahkan bagaimana sebuah kota harus dikelola, bukan untuk menjadi Imam dalam sholat berjamaah atau berdzikir bersama. Agama itu soal Hablum-min-Allah; bersifat vertikal; bukan antar manusia. Sementara, menjadi warga kota yang baik itu soal Hablum-min-annas; bersifat horizontal; antar manusia. Karenanya, berfikir dan memilih dengan akal yang sehat dan hati yang tulus.

Banyak hal lain yang lebih mendasar dari persoalan kepemimpinan dan manajerial dalam mengelola Ibukota. Kita memerlukan pemimpin sekaligus manajer yang mampu untuk:  Mengelola dan memelihara sustainability kota sekaligus membangun dengan inovasi; Berfokus tidak hanya pada sistem dan struktur, tetapi juga pada sumber daya manusianya; Memiliki reputasi dan wibawa sehingga mampu mengontrol dan dipercaya oleh rakyat; Memiliki jangkauan berfikir dalam jangka pendek menengah dan panjang, dalam artian menguasai taktik dan strategi; Berani mengambil langkah catur ketika ketidakadilan terjadi; Dan tidak terikat pada bentuk kontrak politik apapun yang menghalangi arah kebijaksanaan.  Itu baru yang namanya Meritoktrasi dalam kepemimpinan.

Apapun hasil dari pemilihan putaran kedua ini, entah incumbent atau pun penantang, pemenang tidak akan bisa bekerja sendiri dari atas menara gading. Pemenang akan membutuhkan 9.607.787 jiwa penduduk ber-KTP Jakarta dan lebih-kurang 18 juta jiwa penduduk wilayah Bodetabek untuk berusaha sekuat tenaga dan menjadi warga kota yang baik, memiliki disiplin yang tinggi serta berpartisipasi aktif dalam proses pemerintahan. Tanpa hal tersebut, niscaya tidak akan ada perbaikan dan perubahan yang terjadi. Percaya pada saya!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,598 other followers