ada apa dgn humas senayan city #2

Eh eh, udah baca kan posting yang sebelumnya? Kalo belum, coba kesini dulu. Trus liat kliping baru dari Republika Online yang dibawah.

Humas Senayan City, Sri Ayu Ningsih, mengatakan pihaknya sangat menyesalkan insiden tersebut. Ayu juga membantah bahwa dirinya pernah menyesalkan dipilihnya Senayan City sebagai lokasi bunuh diri, seperti dimuat Republika Online Selasa (1/12) lalu. “Saya tidak pernah mengatakan hal demikian,” ujarnya kepada Republika, Kamis (3/12).

Yang pasti kami (Senayan City) sangat prihatin atas kejadian yang menimpa Reno. Bahkan, setelah ia terjatuh dari lantai lima, kami langsung membawanya ke RS Pelni. Kita juga sudah mengurus segalanya dengan pihak kepolisian,” tegas Ayu kepada Republika, Kamis (3/12). Sebelumnya, seperti dikutip Republika, Sri mempertanyakan dipilihnya Senayan City sebagai lokasi bunuh diri. c08/irf

Jadi, siapa yang salah ni? Wartawan yang melintir? Atau sang Humas yang berkelit? Ah, terlepas dari siapapun yang salah, inilah kenyataan yang sering terjadi di lapangan.

Pada intinya, humas saat ini juga harus menyiapkan diri untuk kejadian-kejadian terburuk. Tidak melulu soal bagaimana me-representasi perusahaannya di masyarakat, tapi juga harus siap menghadapi hal-hal terburuk: Building failure, bunuh diri, apartemen yang dijadikan pabrik narkoba, dugaan kecurangan/monopoli perusahaan, atau mungkin juga akan dimintai keterangan jika atasannya berurusan dengan hukum.

Dari kutipan pernyataan humas senci, mungkin sudah ada ungkapan simpati, tapi simpati itu untuk para pengunjung senci lainnya (pasti ada kan dampak bagi pengunjung yang melihat langsung peristiwa), bukan untuk korban. Padahal publik senci bukan hanya mereka, tetapi juga calon pengunjung lain yang mungkin malah bersimpati pada Reno.

Ilmu mengelak, berkelit dengan jawaban logis tampaknya perlu dipelajari semua PR perusahaan di Indonesia. Mengingat semakin terbukanya pemberitaan media di negara kita saat ini. Dan, kadang-kadang menghadapi wartawan dlm situasi sulit juga sangat tidak mudah. Beberapa pertanyaan, terkadang sudah diformulasikan. Sehingga banyak yg terjebak juga.

Seorang teman pada tulisan saya sebelumnya berkomentar:

“…sama seperti profesi lainnya, untuk menjadi seorang PR yang baik dibutuhkan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang cukup, ditambah dengan (yang mungkin agak spesial dibanding profesi lain) KEDEWASAN serta KEKUATAN MENTAL. Selain itu perlu dicamkan bahwa bekerja itu adalah ibadah dan pelayanan, sehingga empati, simpati, apresiasi dan toleransi akan muncul dengan sendirinya kepada orang-orang yang terlibat dengan pekerjaan kita, langsung maupun tidak langsung, dalam kondisi yang menyenangkan maupun disaat krisis.”

(via Putu Ayu Aristyadewi di fb)

Nah … 🙂

ada apa dgn humas senayan city

Saya terkejut dan mendadak naik pitam membaca komentar dari Humas Senayan City seperti yang dikutip oleh Republika Online.

Dalam berita di Republika Online tersebut, Sri Ayu Ningsih mengatakan, “Sebetulnya saya sangat menyesalkan insiden yang tadi malam. Kenapa Reno harus memilih bunuh diri di Senayan City, tidak mencari tempat lain seperti jembatan, jalan layang, atau gedung tinggi lainnya.”

Belum cukup mempertanyakan kejadian tersebut, masih ditambahkan lagi dengan tuduhan, “Menurut saya, si Reno terkesan mencari sensasi. Sampai saat ini belum diketahui sebab pastinya kenapa dia melakukan aksi nekat itu. Kalau dari CCTV (alat pemantau) kita sih dia terlihat sengaja menjatuhkan diri setelah keluar dari resto Takemuri di lantai lima.”

Seandainya pun pihak Senayan City dirugikan karena kejadian tersebut, bukankah seharusnya paling tidak ada sedikit empati atau simpati yang bisa disampaikan Sri Ayu Ningsih sebagai Humas?

racau #3: histeria

Baru semalam racauan saya soal rasa takut dan prinsip kenal diri ditulis. Dan hari ini, dua kejadian yang memprihatinkan terjadi di dua mall besar Jakarta: siang hari, seorang perempuan kabarnya bunuh diri dari lantai 5 di Grand Indonesia; selepas maghrib, seorang laki-laki dikabarkan berlari sebelum kemudian lompat dari lantai 5 di Senayan City.

Bunuh diri bisa terjadi karena beberapa alasan, termasuk depresi, putus asa, tekanan emosional, sakit fisik, rasa malu, rasa bersalah, kecemasan, kesulitan keuangan, atau situasi yang tidak diinginkan lainnya. Nah, sejauh yang saya tahu, bunuh diri merupakan sebuah fenomena yang dapat digolongkan ke dalam “histeria”.

Ingat kasus kesurupan massal yang beberapa kali terjadi di sejumlah sekolah, lagi-lagi sejauh yang saya tahu itu merupakan contoh dari “histeria”. Ada rasa takut yang seolah ditularkan dari sebuah kejadian, kadang berlangsung sangat cepat, kadang juga bisa memakan waktu panjang: bahkan tahunan. Bergantung kepada kontrol emosi dan lingkungan pergaulan dari individu yang mengalaminya.

Histeria, menggambarkan keadaan pikiran yang tidak dapat diatur karena rasa takut atau sebagai ekses dari emosi. Rasa takut kerap disebabkan oleh kejadian-kejadian di masa lalu seseorang yang melibatkan jenis konflik yang parah; keadaan dimana histeria terjadi bisa disebut sebagai “histeris”. Orang yang “histeris” kerap kehilangan kontrol diri karena sangat ketakutan. (via wikipedia)

Kadang manusia tidak sadar, dalam keadaan emosi tertentu, mendapatkan pengaruh yang begitu besar  melalui media tertentu untuk melakukan hal yang sama. Apa yang baru saja terjadi di Jakarta hari ini, bisa jadi merupakan salah satu contoh kasus yang patut di cermati dokter jiwa.

Indonesia, mungkin masih beruntung, karena kasus-kasus bunuh diri tidak se-massive seperti yang terjadi di Jepang. Bayangkan, hanya karena depresi atas hasil ujian seorang siswa di Jepang bisa melakukan bunuh diri. Belakangan karena krisis global, menurut Media Indonesia angka bunuh diri di Jepang per April 2009  bahkan mencapai 100 orang per hari.

Solusi yang paling sederhana untuk mengurangi hal ini salah satunya dengan meningkatkan kepedulian pada  keluarga, sahabat, dan teman. Seorang psikiater biasanya mengobati gangguan kejiwaan pasiennya dengan mengajaknya untuk membagi pengalaman yang dialaminya, salah satu caranya dengan projective technique. Disadari atau tidak, proses ketika seseorang bercerita/berbagi mengenai apa yang sedang dialaminya melupakan salah satu metode pelepasan tekanan/stress.

Nah, sudahkah anda melepas stress dengan bercerita hari ini?