sepeda dan saya

saat Car Free Day Jl. Jend. Sudirman, JKT
saat Car Free Day Jl. Jend. Sudirman, JKT

Karena setiap minggu keempat jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta selalu ditutup untuk kendaraan bermotor. Maka, mulai hari ini, saban sabtu malam saya akan memulai posting rutin mengenai lingkungan dan transportasi hijau di Jakarta. Ah, bukan Jakarta saja si, transportasi hijau sudah seharusnya dimulai di semua kota. Dan kalian, wahai pembaca, ikut bertanggung jawab untuk itu! hehe.. Karena kalian juga yang memiliki kota, kan kalian bayar pajak tho! halah..

Sebagai tulisan pembuka, mari berbicara tentang diri saya sendiri dan sepeda (si transporter hijau) dulu. Mudah-mudahan kalian tidak bosan! Hmm..

Saya menjadi gila sepeda, ah gak gila juga si, senang saja rasanya pada sepeda sejak medio juli 2008. Belum ada setahun ya.. Tapi, asal teman-teman tahu, saya mimpi ingin punya sepeda sudah sejak sma. Dulu saya ingin sekali sepeda BMX. Yang ada dalam kepala saya, bersepeda, memakai hoody jacket plus sebuah masker untuk bomber dan sebuah tas berisi berwarna-warni cat pilox adalah KEREN! haha..setelah belajar, saya kemudian sadar, yang ada di mimpi saya itu adalah calon pelaku vandalisme di ruang publik. Hahaha..

Lalu, muncul bayangan kedua, makhluk satu ini namanya Windu, sahabat yang skeptis lagi atheis, kepercayaannya pada diri sendiri lebih dari kepercayaannya pada tuhannya yang lima seperti yang diakui negara. Eh, sepertinya ada yang salah pada kalimat barusan, tapi sudahlah, saya sulit menjelaskan perihal religinya. Ok, kembali ke Windu. Windu ini tokoh ideal dalam kepala saya tentang ‘ orang yang peduli lingkungan’. Ya, dia ‘guru’ bersepeda saya. Selama di Jogja, ketika kampanye b2w belum dimulai pun, manusia yg satu ini sudah bersepeda. Rumahnya kala itu di Jalan Magelang, kampusnya seperti saya di Fisipol UGM, jarak yang cukup jauh untuk dikayuh dengan sepeda setiap hari. Pun begitu dia sangat lincah, dan sehat sekali. Lalu saya iri dan dengki pada kemampuannya konsisten bersepeda.

Ya, meskipun iri dan dengki, saya tetap bertahan pada sepeda motor saya. Dohh..

Hingga akhirnya, hari yang ditunggu itu datang. Entah mimpi apa malam itu, keesokan harinya saya yang sedang berbincang dengan ayah saya mengenai sepeda, diajaknya untuk pergi ke toko sepeda. Sebuah sepeda kedua saya  (sepeda pertama saya pensiun pada saat saya SD kelas 4-red.), Polygon Xtrada 2008 menunggu. Warnanya merah hitam, nyaman digunakan untuk pemula macam saya ketika itu.

dsc00280-res

Dan sejak hari itu, Alhamdulillah, saya memaksakan diri untuk bersepeda saban hari minggu, entah ke arah Sektor 9-BSD atau ke arah Sudirman-Thamrin-Monas. Badan saya yang 3 tahun lebih dibiarkan tak terurus dan jauh dari sehat, terasa lebih segar, walaupun seringkali terasa pegal. Tetep aja gak kurus-kurus lagi. haha..e tapi tujuan saya bersepeda kan bukan itu..tsaaaahhh.. Kisah selanjutnya mengenai sepeda dan saya, bisa ditemukan di kategori, green saturday.

Sekian dulu cerita saya, sudah terlalu larut dan sudah hari minggu pula, nanti bisa terlewat waktu sepedaan saya. Sampai jumpa di postingan selanjutnya. Tetap bersama saya di Green Saturday! haha.. For Better Jakarta, For Better You!

—-

Oiya, Hari minggu 26 April 2009 ini hari yang hebat! Kenapa? Bayangkan ada 3 acara bertema Sepeda dilangsungkan pada hari yang sama! Siapa yang patut diacungi jempol? The Sultan, B2W Indonesia, Green Effort by Starbucks, dan teman-teman di Unika Atmajaya! Hormat saya untuk teman-teman semua!

bermimpi dengan cinta

Cinta, sebuah elemen dalam hidup yang membawa pemiliknya terbang tinggi menembus lapisan-lapisan kemampuan dan terkadang melebihi batasan-batasan keberadaan. Cinta pula yang memperkenalkan hidup pada harapan serta impian. Keinginan sederhana untuk mengecap, menyentuh dan merasakan sesuatu. Memiliki. Menjadi pemenang.

Impian adalah anak yang dilahirkan oleh rahim Cinta, beroleh dari perasaan yang megah akan sebuah titik. Sederhana, sebuah titik. Didalamnya mungkin ada saya, ada anda, dan ada impian itu sendiri. Mungkin sama, mungkin juga tidak.

Manusia, makhluk hidup yang dianugerahi akal dan perasaan pada saat yang sama. Dengan bekal yang dimilikinya sesaat memasuki kehidupan di bumi, ia merasa, dan berfikir. Dimana saya, siapa saya, mengapa saya ada disini. Ia menangis, dan ditemukannyalah bunda. Peraduan pertamanya, tempat meneriakkan kebingungan dan kekalutannya seketika menghadap bumi.

Adalah Bunda yang kemudian mengajarkan akal dan perasaan untuk memiliki Cinta. Cinta yang dipahami sebagai keinginan yang kuat untuk menggapai sebuah titik. Entah titik itu seperti musim gugur di taman raksasa, yang menguning berjatuhan ke tanah kembali padaNya. Atau seperti ulat yang merayap nan hijau bangkit dan tumbuh menjadi besar, memuja sekaligus menantangNya sebelum menjadi bagian dariNya, sebuah kupu-kupu yang penuh warna. Siklus hidup begitu nyata.

Lalu sebuah pertanyaan muncul dalam benak sang anak, apa yang sesungguhnya diimpikan untuk dicintai?

Sudah teman-teman bermimpi dengan Cinta? Atau sudah teman-teman mencintai apa yang diimpikan?