Sepotong Masalah di Jakarta Selatan

Hampir setiap sore ruas jalan Ciledug Raya, tepatnya yang mengarah ke pertigaan Cipulir, selalu dipadati kendaraan. Tersedia dua lajur yang biasanya dipadati oleh angkot, bus dan kendaraan pribadi. Dua lajur ini padat sekali, pun berjalan pasti tersendat. Apa yang ajaib dari jalanan yang macet saban sore ini? Satu yang aneh bin ajaib! Para pengendara motor lebih memilih menggunakan lajur yang berlawanan arah sebelum akhirnya bergabung dengan kendaraan yang searah di pertigaan Cipulir. Saya tidak tahu siapa yang memulai kebiasaan yang sangat buruk tersebut.

Setiap melewati lajur yang diterabas para pengendara motor, ingin rasanya menabrak mereka semua. (Sangat tidak disarankan untuk melakukannya, karena jadi sama-sama melanggar peraturan lalu lintas.)

Ya, saya kesal. Dan bukan hanya saya, kerap kali mereka yang kebetulan beriringan di depan atau belakang saya membunyikan klakson sekencang mungkin.

Hebatnya, setelah diklakson pun, mereka tidak bergeming. Terus berjalan, memasang muka polos, dan kadang malah ada yang marah dan merasa benar. Seolah karena ruas jalan macet, apa yang mereka lakukan dapat dibenarkan secara hukum.

Rasanya benar-benar tidak ada polantas yang peduli, pun ada pasti melelahkan menilang entah berapa ratus motor dalam waktu bersamaan. Sepertinya memang perlu ditempatkan beberapa polantas untuk menjaga ruas jalan Ciledug Raya ini sambil menanamkan disiplin kepada pengendara motor. Hmm.. bagaimana bila kemudian hanya menjadi terbiasa bila diawasi? tapi kemudian kembali melanggar ketika tidak ada polantas yang mengawasi jalan? lalu bagaimana dong?