bermimpi dengan cinta

Cinta, sebuah elemen dalam hidup yang membawa pemiliknya terbang tinggi menembus lapisan-lapisan kemampuan dan terkadang melebihi batasan-batasan keberadaan. Cinta pula yang memperkenalkan hidup pada harapan serta impian. Keinginan sederhana untuk mengecap, menyentuh dan merasakan sesuatu. Memiliki. Menjadi pemenang.

Impian adalah anak yang dilahirkan oleh rahim Cinta, beroleh dari perasaan yang megah akan sebuah titik. Sederhana, sebuah titik. Didalamnya mungkin ada saya, ada anda, dan ada impian itu sendiri. Mungkin sama, mungkin juga tidak.

Manusia, makhluk hidup yang dianugerahi akal dan perasaan pada saat yang sama. Dengan bekal yang dimilikinya sesaat memasuki kehidupan di bumi, ia merasa, dan berfikir. Dimana saya, siapa saya, mengapa saya ada disini. Ia menangis, dan ditemukannyalah bunda. Peraduan pertamanya, tempat meneriakkan kebingungan dan kekalutannya seketika menghadap bumi.

Adalah Bunda yang kemudian mengajarkan akal dan perasaan untuk memiliki Cinta. Cinta yang dipahami sebagai keinginan yang kuat untuk menggapai sebuah titik. Entah titik itu seperti musim gugur di taman raksasa, yang menguning berjatuhan ke tanah kembali padaNya. Atau seperti ulat yang merayap nan hijau bangkit dan tumbuh menjadi besar, memuja sekaligus menantangNya sebelum menjadi bagian dariNya, sebuah kupu-kupu yang penuh warna. Siklus hidup begitu nyata.

Lalu sebuah pertanyaan muncul dalam benak sang anak, apa yang sesungguhnya diimpikan untuk dicintai?

Sudah teman-teman bermimpi dengan Cinta? Atau sudah teman-teman mencintai apa yang diimpikan?

mimpi Indonesia

Saya membayangkan Indonesia memiliki sistem peradilan yang kuat dan tegas, dalam artian membuat jera dan tidak melenakan si terhukum. Misalnya penerapan hukuman mati untuk koruptor dan pelaku (pengedar dan pemakai) narkoba. Keras? jelas. Tegas? tentu saja. Bikin jera? tentu saja. Tapi apakah baik? belum tentu.

Sejujurnya, saya tidak tahu perihal seluk beluk ilmu hukum. Yang saya tahu, sebuah konsep sederhana, bahwa mereka yang terbukti bersalah, patut dihukum, dan mereka yang benar, patut mendapat keadilan.

Begini, mungkin Anda pernah mendengar atau membaca perihal kasus-kasus korupsi di China dan bagaimana lembaga peradilan mengatasi ‘penyakit’ tersebut. Mereka, yang terbukti melakukan korupsi di Cina akan mendapatkan vonis mati dan dieksekusi mati. Namun, berbagai pihak menentangnya karena hukuman mati dianggap melanggar HAM dan dapat digunakan sebagai alat penguasa untuk menyingkirkan mereka-mereka (sebutlah, oposisi) yang tidak diinginkan. Karenanya seperti yang saya sebutkan diatas, hukuman mati belum tentu baik.

Indonesia. Saya mengingatnya sebagai negara yang carut marut sistem peradilannya. Bagaimana bila, hukuman mati diterapkan di Indonesia? Mungkin kah kasus2 korupsi menurun tingkatnya? Atau mungkin kah justru dimanfaatkan penguasa untuk berlaku tidak demokratis?

Kedua opsi tadi, memiliki persentase kemungkinan yang sama. 50 : 50. Bayangkan bila kasus BLBI yang sekarang seolah memiliki efek domino itu, kemudian dapat dibuktikan didepan hukum, lantas menyeret sekian puluh birokrat atau pejabat atau koruptor berjama’ah yang terlibat di dalamnya. Dan mereka yang memang bersalah, mendapat hukuman mati. Dooorr! tewas. Jera. Mungkin ruang sidang perwakilan rakyat kita akan sepi, atau mungkin lembaga eksekutif kita dibekukan. Mungkin? mungkin.

Bayangkan lagi bila, hukuman mati ternyata menjadi alat penekan oposisi. Dalam artian, mereka yang bersuara sumbang terhadap pemerintah, kemudian dihukum mati secara legal, atau hilang begitu saja seperti ditelan bumi. Mungkin kita tidak lagi menjadi negara yang ‘demokratis’. Mungkin kita akan mengalami deja vu, seolah di negara ini pernah mengalami hal seperti itu. Mungkin? mungkin.

——–

Ah, tau apa saya.

Sekarang, saya lebih ingin bermimpi tentang Indonesia yang manusia-manusianya belum terkorupsi pikirannya, yang dalam hidupnya tidak hanya memikirkan materi sehingga ‘terpaksa’ korupsi. Yang semua sistem dalam negaranya bekerja dengan baik, efektif, dan efisien. Muluk memang, tapi saya juga punya hak kan untuk memimpikan Indonesia? :))