Membangun Kebiasaan Menjadi Juara

Setiap orang harus dan perlu memiliki target untuk dikejar. Kadang sesederhana agar hidup tidak terasa hambar. Kadang sesederhana agar hidup terasa lebih menantang. Tanpa target, hidup seseorang bisa jadi ada di titik yang sama. Stagnan. Mungkin akan terasa membosankan, karena menjalani rutinitas yang itu-itu saja. Kalau ditanya, apa target saya? Saya ingin menjadi seorang juara. Di dalam pikiran, di  keluarga dan di pekerjaan. Saya belum menjadi seorang juara, saya masih berusaha menjadi juara. Tulisan ini akan terasa seperti tulisan motivator. Kalau tertarik, silakan lanjutkan.

Saya punya beberapa resep yang sedang saya buktikan validitasnya. Silakan bila ingin mencoba. Berikut ini resepnya:

1. Cari Mentor

Percayalah bahwa pada diri setiap orang, ada kelebihan-kelebihan yang bisa ditiru, ada langkah-langkah hidup yang memiliki nilai belajar tinggi. Hal-hal seperti itu bisa didapat dari seorang mentor. Saya tidak sedang membahas mentor di bangku sekolah atau kampus. Yang saya maksud dengan mentor adalah teman yang lebih senior yang bersedia menjadi pendengar, memberikan petunjuk dan menceritakan pengalamannya. Mentor bagi saya adalah tempat saya mencari nasihat, ketika saya sedang membutuhkannya.

Saya punya lebih dari 5 mentor dalam hidup saya. Ada yang bekerja puluhan tahun di media, dan sekarang menjadi kakak, ibu angkat sekaligus atasan saya di kantor. Ada yang bekerja puluhan tahun di politik, dan sekarang menjadi teman saya menghabiskan waktu senggang di antara rapat yang satu dengan rapat yang lain. Ada yang bekerja puluhan tahun di agency digital, dan sekarang sedang merintis beberapa makhluk digital business. Ada juga beberapa yang masih seumuran saya, tetapi memiliki spesialisasi dan pengetahuan yang jauh lebih dalam tentang isu atau masalah tertentu.

2. Hargai waktu

Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dan tidak boleh dibuang percuma. Cara paling mudah menghargai waktu adalah dengan memberikan ‘harga’ pada waktu yang dipakai ketika bekerja. Mungkin itu sebabnya, mentor-mentor saya selalu menepati waktu dan selalu memiliki kesibukan. Banyak dari mereka akan merasa kebingungan ketika ada waktunya yang kosong, tanpa jadwal ketika melihat Google Calendar.

Mereka tidak membuang waktu, bahkan untuk sekedar membaca berita. Mereka benar-benar memilah informasi dengan membaca berita yang relevan dengan pekerjaan mereka saja. Salah satu mentor saya mengajari saya caranya memberikan ‘harga’ pada waktu. Setiap bulan ia memiliki target penghasilan dan waktu yang akan dilewati untuk mencapai ‘target penghasilan’ tersebut. Cara menghitungnya begini:

Saya punya target penghasilan Rp50.000.000,- per bulan. Saya punya waktu 26 hari dalam sebulan (12 jam per hari) atau sama dengan 312 jam per bulan. Lalu berapa harga waktu saya per jam? Rumusnya sesederhana — target penghasilan dibagi dengan jumlah jam kerja dalam sebulan.

Rp50.000.000/ 312 jam = Rp160.256,-

Artinya setiap saat saya harus mengingat bahwa setiap jam kerja saya yang terbuang untuk membaca atau melihat yang tidak relevan, saya telah membuang Rp160.256,- secara cuma-cuma. Bayangkan kalau saya menghabiskan waktu kerja saya untuk menonton Netflix selama 10 jam. Selain mata bisa belekan dan leher tengeng, saya telah membuang Rp1.602.564,- secara cuma-cuma. Such a waste of time, bruh..

3. Buat Daily, Weekly & Monthly To Do list 

Sebelum membuat daily, weekly & monthly to do list, ada baiknya memulai dengan membentuk kebiasaan untuk bangun pagi dan mengurangi begadang untuk hal yang tidak perlu. Setiap pagi dan sebelum tidur, cobalah untuk menulis apapun yang sedang menjadi target untuk dicapai hari itu di aplikasi semacam Notes atau Bear di handphone. Biasanya saya membuat pointers yang pada akhirnya saya susun berdasarkan skala prioritas, tingkat kesulitan dan waktu pencapaian. Bila tingkat kesulitannya tinggi, tentu waktu pencapaiannya akan lebih panjang. Bisa jadi, target tersebut akan ada di level weekly atau bahkan monthly to do list. Untuk saya, semakin penuh to do list yang saya miliki, semakin semangat saya untuk menghabiskan waktu saya. Karena saya tahu bahwa waktu saya dihabiskan untuk hal-hal yang produktif.  

4. Proaktif, lakukan sekarang & jangan pernah menunda

Jadilah manusia yang proaktif, minimal kepada diri sendiri. Tanyakan kepada diri sendiri apa yang perlu saya lakukan hari ini, minggu ini, dan bulan ini. Lakukan. Tanyakan kepada rekan dan atasan di kantor, apa yang bisa dikontribusikan hari ini, minggu ini dan bulan ini. Lakukan. Di era digital di mana informasi dan hiburan begitu sering dan mudah memapar kita melalui segala jenis gadget, menunda pekerjaan adalah kebiasaan buruk yang sangat sulit untuk dihilangkan.

Menunda pekerjaan atau banyak mentor saya menyebutnya sebagai too busy procrastinating seringkali disebabkan oleh beragam sumber informasi dan hiburan di gadget yang memiliki fitur push notifications. Seperti yang sudah pernah saya tulis di artikel blog sebelumnya, menjadi korban banjir informasi dan hiburan merupakan bencana. Jangan mau menjadi target dari gangguan yang konstan, kecuali kalau gangguan tersebut memang relevan dengan pekerjaan dan target yang ingin dicapai.

___

Bruh, take my advice. If its not relevant to your work and target, don’t waste your time strolling around instagram, facebook, and even twitter. If its not relevant to your work and target, don’t waste your time reading the news. Clocks ticking. Always.

Advertisements

Menjadi Korban Banjir Informasi

Coba cek gadget yang ada di pergelangan tangan, kantong celana, dan tas kita. Seberapa banyak waktu dihabiskan berkutat membaca notifikasi yang memang dengan sengaja di-push? Seberapa banyak waktu dihabiskan berkutat membaca pesan di grup Whatsapp yang isinya perdebatan? Seberapa banyak waktu dihabiskan berkutat membaca linimasa di Twitter dan Facebook? Seberapa banyak waktu dihabiskan berkutat melihat foto, memes dan caption di Instagram mengenai kehidupan pribadi selebritas? Seberapa banyak waktu dihabiskan membaca berita-berita mengenai korupsi, pembunuhan, terorisme, penyakit yang sedang mewabah, dan lain sebagainya?

Interupsi dan gangguan konstan yang membuat kita gelisah, hilang fokus, tegang, marah dan segala jenis rasa yang tidak nyamanInterupsi dan gangguan yang konstan yang kita buat sendiri. Iya, kita buat sendiri. Karena sebetulnya, kalau disadari, kita punya hak untuk tidak tenggelam dalam banjir informasi.

Coba tanyakan lagi, pada diri sendiri, seberapa banyak waktu dihabiskan untuk menggali lebih dalam sesuatu yang sebetulnya tidak relevan dengan hidup dan pekerjaan? Such a waste of time, bruh.. Kita lupa bahwa aplikasi-aplikasi yang ada di gadget yang kita pegang setiap hari itu didesain untuk membuat penggunanya bertahan menggunakannya secara konstan. Procrastinating what’s actually matter to ourselves. 

Lakukan yang Relevan

Saya punya seorang teman, panggilannya Pakde Dayat, usianya lebih kurang 60 tahun. Hobinya senyum dan melamun. Kadang ia merokok kretek. Juga sambil senyum-senyum melihat manusia lalu-lalang di depannya. Setiap hari ia berjualan minuman botolan di pintu belakang Masjid Agung Al-Azhar. Saya mengenalnya sejak saya masih duduk di bangku SD. Ia bisa menjadi teman ngobrol saya ketika selesai bermain bola atau sepulang sekolah.

Pakde Dayat sedang senyum simpul ke Tukang Bakpao.

Beberapa minggu lalu, setelah turun dari halte Transjakarta, saya menyambanginya dan bertanya, “Apa rahasiamu bisa waras sampai sekarang, Pakde?”.

Jawabannya sederhana, “Resepnya sederhana, Dit. Kalau waktu lapar, makan. Kalau waktu kerja, ya kerja. Kalau waktu ngantuk, ya tidur. Urip yo dilakoni wae, wong mung numpang ngombe“.

Suka baca berita nggak, Pakde?” tanya saya lagi.

Ha ngopo tukang teh botol kok ndadak harus moco berita, mung marai singit“, jawabnya sambil terkekeh. “Aku hanya melakukan yang perlu aku lakukan, Dit. Yang tidak perlu, ya tidak perlu dilakukan“, tutupnya.