merdeka ?!

merdeka?! apa esensi dari tangan mengepal, memegang bendera merah putih dan berteriak lantang membahana. ketika, segala pikiran kita masih terbelenggu, terlebih oleh ketidaktahuan dan ketidakmengertian. ya, indonesia memang merdeka sebagai sebuah negara, 63 tahun yang lalu. namun sebagai sebuah bangsa, kita belum merdeka. mengapa? sederhana saja, ada 12 juta anak Indonesia yang putus sekolah. itu indikator yang membuktikan bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka, karena yang saya tulis disini pun baru perihal merdeka dalam berpengetahuan.

dua dari beberapa komunitas blogger di Indonesia, yaitu bhi dan cahandong, berkolaborasi dalam menyelenggarakan sebuah usaha untuk memerdekakan anak2 bangsa. dengan mengumpulkan buku dari masyarakat untuk kemudian disampaikan kepada mereka yang membutuhkan. setidaknya, dengan usaha ini mereka-mereka yang putus sekolah bisa mendapatkan haknya untuk merdeka.

bagi saya, ini sebuah gerakan yang patut didukung penuh. mudah-mudahan banyak organisasi lainnya yang mengikuti gerakan ini, sehingga kemerdekaan Indonesia sebagai negara bisa dilanjutkan dengan kemerdekaan bangsanya.

perjalanan

Pada masa Rasulullah S.A.W. dulu, perjuangan tidak dilakukan hanya dengan langkah yang ringan. Begitu banyak halangan yang merintangi jalan menegakkan khilafiah Islam di tanah Mekkah. Dari meninggalnya dua motivator perjuangan nabi, yaitu Siti Khadijah RA, dan Paman Nabi, Abu Thalib hingga masalah tekanan fisik dan psikologis yang dilakukan oleh kaum Kafir Quraisy terhadap perjuangan Islam. Dalam sejarah Nabi Muhammad S.A.W., masa itu dikenal sebagai ‘Aamul-Huzni’ (tahun kesedihan). Rasulullah S.A.W mengalami tekanan batin yang mendalam, seolah kehilangan pegangan hidup dalam menapaki perjalanannya berjuang menegakkan khilafiah Islam di masa itu.

Di tengah perenungan Beliau atas segala persoalan yang datang begitu berat, Allah S.W.T melimpahkan rahmatNya kepada sang Nabi, diajaknya Beliau untuk melakukan napak tilas, sebuah perjalanan besar yang dilakukan untuk mamahami dan memaknai perjuangan yang dilakukan oleh para pendahulunya, Rasul-rasul Allah. Perjalanan besar ini dikenal sebagai Isra’ Mi’raj. Rasulullah S.A.W melakukan dua perjalanan, horizontal (Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa) dan vertikal (dari Masjidil Aqsa ke Sidhratul Muntaha).

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu (potongan) malam dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al Isra : 1)

Dalam kedua perjalanan itu, Beliau mengalami pengalaman yang luar biasa hebatnya. Bayangkan dalam semalam beliau beroleh penyejuk hati yang maha dahsyat. Dari perjalanan Masjidil Haram-Masjidil Aqsa, sang Rasul beroleh nikmat penglihatan akan wilayah yang dirahmati Allah dengan kesuburan dan kemakmuran. Yang kemudian dilanjutkan hingga berada di Sidhratul Muntaha (singgasana Ilahiyah). Kedahsyatan itu belum pula ditambah dengan pertemuan Rasulullah S.A.W dengan para Rasul-rasul pendahulunya ditiap tingkatan langit yang dilaluinya. Subhanallah..

Singkat cerita, setelah perjalanan Isra’ Mi’raj, Rasulullah S.A.W seolah kembali tenang jiwanya, back on track, bersemangat dan kembali mantab hatinya untuk terus berjuang di jalan Allah S.W.T.

————————-

Kemana tulisan ini akan saya bawa? Singkat saja.

Perjalanan dan perjuangan sebuah negeri bergantung pada bagaimana bangsanya menyikapi hidupnya. Berpegang pada apa mereka bergerak, pada materi belaka, pada moral yang mengiringi, atau juga pada keyakinan yang berdasar pada teladan yang patut. Bagi saya pribadi, perjalanan merenung/napak tilas yang dilakukan Rasulullah S.A.W., sepatutnya menjadi teladan akan bagaimana kita sebagai manusia biasa memaknai apa yang sudah dilakukan, oleh diri sendiri, dan oleh para pendahulu kita. Sederhananya, dapat dimaknai dengan lebih perduli pada lingkungan sekitar kita (perjalanan horizontal/ Isra’) dan lebih dekat lagi pada Sang Maha Segala, Allah S.W.T (perjalanan vertikal/ Mi’raj).

Ingat tugas perjalanan kita, Hablumminannaas Wa Hablumminallah, itu saja.