racau #1: rasa takut

I learned that courage was not the absence of fear, but the triumph over it. The brave man is not he who does not feel afraid, but he who conquers that fear.” (mandela)

Apa si yang paling ditakutkan manusia? Binatang buas? Musuh? Tuhan? atau diri sendiri? atau rasa takut itu sendiri? Hmm..Takut pada rasa takut itu sendiri? Darimana si datangnya rasa takut??

Rasa takut dapat didefinisikan sebagai  “respons emosional atas ancaman yang diterima”. Karena rasa takut, lantas manusia dibuat cemas. Rasa takut sendiri berkaitan dengan perilaku melarikan diri dan penghindaran, sedangkan kecemasan adalah hasil dari ancaman yang dianggap tak terkendali atau tidak dapat dihindari. Yang patut dicatat adalah bahwa ketakutan selalu berhubungan dengan peristiwa-peristiwa masa depan, seperti situasi yang memburuk, atau keberlanjutan dari sebuah situasi yang tidak bisa diterima. Takut juga bisa jadi merupakan reaksi instan, untuk sesuatu yang sedang terjadi.

Ketika menemui rasa takut dan cemas, lantas seseorang cenderung menjadi peragu, atau dalam bahasa yang lebih halus, “penuh pertimbangan”.

Pernah bermain catur, lantas merasa dalam posisi terdesak ‘skak-mat’? Lantas fikiran yang seharusnya jernih mencari jalan keluar, justru jadi runyam dan rumit, karena emosi telah mengambil sebagian besar fungsi berfikir. Dan menggantinya dengan rasa takut dan cemas. Takut salah langkah, takut salah bicara, takut salah ini, takut salah itu.

Dalam jujitsu, diajarkan bahwa setiap kuncian lawan memiliki titik lepasan. Artinya dalam setiap masalah, pasti ada jalan keluar. Semua menyoal pada kejernihan berfikir untuk mencari penyelesaian, bukan mencari masalah baru yang memperumit keadaan. Seorang pembelajar jujitsu selalu diharapkan nihil dari emosi, karena emosi cenderung merusak daya berfikir. Karenanya dalam setiap pertarungan, akan sangat mudah mengalahkan lawan yang marah.

Rinpoche, mengajarkan muridnya yang cemas dan diliputi rasa takut dengan menuangkan cangkir yang kosong dengan teh dari teko terus menerus hingga meluber ke luar cangkir tadi. Muridnya yang bingung, seorang biku muda dengan wajah cemas meminta Rinpoche berhenti menuang teh dalam teko tersebut. Rinpoche tersenyum, dan mengatakan bahwa pikiran sang biku muda persis seperti cangkir yang terlalu penuh. Lantas Rinpoche meminta muridnya untuk mengosongkan pikiran, dan berfikir jernih seperti cangkir yang kosong.

Prinsip yang sama yang dilakukan manusia-manusia jawa lama yang melakukan ‘tapa’ di gua yang dianggap keramat.  Suwung. Ah, kita tidak bicara soal hal-hal yang mistis. Atau samurai-samurai di Jepang yang kerap duduk dalam posisi sempurna, sambil mendengarkan nada statis yang dihasilkan ruangan, entah desir angin atau  gemericik air.

Coba tanyakan pada diri sendiri, apa yang paling ditakutkan? lantas bagaimana melewati perasaan itu?

Konsep “ruang hampa” yang ternyata digunakan dalam banyak kepercayaan dan budaya untuk ‘mencari jawaban’, jangan-jangan juga bisa menjadi cara untuk mengalahkan rasa takut.

Atau mungkin yang paling mudah: pejamkan mata, tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan. Lakukan berulang.

Hilang rasa takutnya? Oh, belum? Yuk kita ke psikiater? Jangan-jangan anda butuh terapi..hahaha

He who controls others may be powerful, but he who has mastered himself is mightier still“, teriak Lao Tzu suatu ketika, dalam bahasa China tentunya.

Pilih Idenya

Masa kampanye yang sesungguhnya semakin dekat dengan kita, Kawan. Spanduk, poster, kalender sampai leaflet sudah memenuhi sudut-sudut kota. Jakarta atau daerah, sama saja. Seminggu terakhir di kampung betawi, tempat saya tinggal, sudah berdiri dua posko partai. Satu partai ‘kebo ireng’ dan yang satu partai ‘pake hati’.

Begini ceritanya.. di mobil pribadinya, caleg yang kabarnya berhati nurani itu memajang stiker besar logo partai. Di atas kap mesin, di kanan-kiri pintu, dan di atas kap bagasi mobil. Sebagai pemanis ditambahkan stiker dengan latar bendera partai dan foto dua orang calon: tetangga saya, anggota legislatif dan koleganya, jenderal wiranto. Mobil itu mendadak terasa ramai, seolah siap ikut karnaval. Saya geleng-geleng kepala melihatnya.

Pak caleg dari partai kebo ireng lain lagi caranya. Suatu kali di suatu sore yang lengas, mushola mengumandangkan sebuah pengumuman. Konon katanya akan diadakan pengajian, eh syukuran di rumah pak caleg. Semua orang diundang, begitu kata berita yang tersiar. Pengajian pun dimulai ba’da isya’. Khidmat pengajian dipimpin oleh imam mushola yang kabarnya pendukung partai ‘pake hati’. Bubar pengajian sembako senilai dua puluh ribu rupiah dibagikan. Yang lucu, beberapa tetangga kemudian mendesis,

“ah mending juga dibagiin duit, kita mah gak butuh sembako…”.

Kejadian diatas mungkin tidak hanya terjadi di kampung saya saja. Satu kejadian lagi kemudian berlaku pada saya. Suatu siang di dalam angkot (angkutan kota), mata saya memicing pada kaca belakang kendaraan ini. Pemandangan cutting stiker besar, tertulis disana “DJUANDA, SH : Mari lawan ketidakadilan” dengan pemanis foto sang caleg berhati nurani. Senyum saya menyimpul, tergelitik untuk mencari tau apakah ada angkot lain yang memasang stiker yang sama. Saya turun di depan pasar kebayoran lama, tempat menumpuknya segala jurusan angkot -dari dan ke- ciledug. Lima belas menit saya mencari-cari, sudah lima angkot yang memajang stiker yang sama. Pikir saya, narsis juga bapak yang satu itu.

Belum cukup rupanya hanya menempel cutting stiker diangkot. Dipasangnya pula bendera-bendera berukuran satu kali setengah meter. Entah berapa ratus jumlahnya. Tak lupa, namanya, logo partai dan nomor yang kabarnya sakti, enam. Puas dengan cutting stiker dan bendera? Oh belum. Ada satu trik lagi untuk membantu ingatan masyarakat. Spanduk-spanduk besar dengan tulisan yang sama besar, DJUANDA SH. Entah apa tujuan spanduk itu, karena kali ini hanya namanya saja, tanpa embel-embel. Mengambang, persis seperti masyarakat pemilih Indonesia pada umumnya.

Sampai dirumah, saya merasa ‘mabuk djuanda’. Bagaimana tidak? di angkot, di ujung gang, di atas ruko, di pagar pembatas jalan layang, di mana-mana.

***

Setiap kali saya berfikir tentang siapa yang akan saya pilih Pemilu nanti. Tiap kali itu juga saya diam karena tidak punya jawaban. Apa kiranya kriteria caleg atau capres yang layak dipilih?

1. Sering mengadakan pengajian lalu bagi-bagi sembako atau duit
2. Foto, dan taglinenya mejeng dimana-mana
3. Kebetulan ‘yang bersangkutan’ tetangga sendiri

Tiga kriteria diatas mungkin sering menjadi acuan para pemilih mengambang. Masalahnya, bila hanya tiga poin diatas yang jadi bahan pertimbangan, bisa-bisa berabe semua urusan yang berhubungan dengan publik.

Lalu apa ya yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan?

Ide atau solusi yang dibawa oleh sang caleg atau capres. Ide bukan sekedar janji, apalagi tagline beo seperti Mari Lawan Ketidakadilan. Kita sama-sama tahu masalah publik di masyarakat dan negara begitu banyak. Tapi, sudah seharusnyalah seorang caleg atau capres maju ke depan dan menyampaikan ide-ide yang mereka ingin tanamkan dalam rencana kerja setelah terpilih. Kenapa? sederhana saja, orang Indonesia sudah lelah dijanjikan ini itu.

Saya ambil contoh sederhana saja, Kawan. Indonesia misalnya punya beberapa issue penting, sebutlah ketahanan pangan, penanaman modal asing, dan penguatan industri nasional. Ketiganya saling berkaitan, langsung maupun tidak langsung. Lalu timbul pertanyaan, dari ketiga issue tadi mana yang harus didahulukan sehingga ketiganya tumbuh-kembang secara berkelanjutan dan mendorong kesejahteraan?

Nah, caleg atau capres yang layak pilih akan dengan berani mengajukan sebuah proposal berisi ide-ide untuk menjadi solusi permasalahan yang ada.

***

Sudah bertemu caleg atau capres yang punya proposal seperti itu, Kawan?

Anyway, Kawan merasa ‘mabuk djuanda’ juga gak? hahaha..

vrijman

Vrijman, sebuah kosakata Belanda yang arti harfiahnya orang bebas, merdeka. Dalam bahasa Inggris, vrijman sejajar maknanya dengan kata ‘free’ dan ’man’. Free, diterjemahkan sebagai bebas, merdeka dan man diterjemahkan sebagai orang laki-laki, dewasa, manusia. Sayangnya dalam bahasa Indonesia, kata ‘vrijman’ yang diserap menjadi ‘preman’ mengalami perubahan makna dan berkonotasi negatif. Preman diartikan sebagai individu/sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya, terutama dari pemerasan individu/kelompok masyarakat lain.

Nah, aparat kepolisian RI melakukan sebuah usaha yang patut diacungkan jempol, walaupun mungkin saja sia-sia. Preman-preman ditangkap. Diperiksa identitasnya, digelandang masuk ke dalam sel. Mereka, para preman itu, anak bangsa yang salah arah. Mereka ada karena terhimpit keadaan, entah lingkungan sosial, atau ekonomi. Cengeng? Belum tentu. Terpaksa? Bisa jadi.

Masalahnya apakah karena terhimpit keadaan lantas menjadi preman dibenarkan, kan tidak. Ingatan kemudian membawa saya pada sepotong lirik lagu yang dinyanyikan Ikang Fauzi, diberi judul Preman.

Di zaman resesi dunia / pekerjaan sangat sukar / juga pendidikan
Di sudut-sudut jalanan / banyak pengangguran
Jadi preman / ‘tuk cari makan
Di balik wajah yang seram/ tersimpan damba kedamaian
Di balik hidup urakan /mendambakan kebahagiaan
Bahagia…bahagia…bahagia…

Seorang preman tidak membutuhkan apa-apa. Tidak butuh ditangkap, tidak butuh ditanyai macam-macam. Mereka hanya butuh memenuhi kebutuhan hidup mereka dengan layak. Sebuah masalah klasik yang sebenarnya kompleks. Soal pemerataan kesejahteraan, dan pemenuhan hak azasi manusia atas pendidikan yang cukup.

Solusi yang paling feasible untuk mengurangi praktek premanisme salah satunya adalah kontrol sosial yang dilakukan anggota masyarakat sendiri. Dengan melaporkan kepada pihak terkait misalnya. Atau dengan membina para preman tadi untuk masuk kembali ke masyarakat. Tidak perlu takut pada mereka, apalagi berprasangka buruk. Mereka juga manusia, diciptakan semata untuk beribadah pada sang Pencipta. Masyarakat harusnya bisa belajar dari apa yang dilakukan H. Anton Medan. Beliau membina mereka-mereka yang baru ‘lulus’ dari hotel prodeo, agar tidak kembali salah arah. Dan ‘siswa’ binaan beliau pun terbukti bisa berkarya walaupun raport hidupnya sudah dinoktah dengan cap ‘mantan napi’.

Di kampung saya, mereka-mereka yang terlanjur dicap sebagai preman diajak warga untuk berkarya, dengan modal dari swadaya masyarakat. Beberapa dermawan bahkan mengajak mereka untuk bekerja. Hasilnya, mereka kini tidak lagi meresahkan dan justru membantu warga lainnya menjaga keamanan kampung.

Apakah teman-teman punya solusi lainnya?