mengumpat

Apa rasanya menjadi supir angkot (angkutan perkotaan) di pinggiran kota Jakarta? Berat? Tentu saja. Coba bayangkan sepintasan jalan yang dilalui seorang supir dengan trayek ulujami-pondok betung (kurang lebih berjarak 8 km). Rute tersebut kurang lebih diisi oleh 3 nomor angkutan, yang masing-masing nomornya paling tidak bersaing 10-15 mobil seukuran Daihatsu colt/hi-jet. Kemudian bayangkan lagi bagaimana penuh dan ramainya jalanan berlebar kurang lebih 3 meter bila diisi juga dengan (begitu banyak) motor dan mobil pribadi yang melaluinya. Macet. Pasti.

Nah, dengan keadaan separah itu, seorang supir angkot seringkali (-maaf- sering sekali) hanya mengangkut satu-dua penumpang didalam mobilnya. Padahal setiap penumpang dengan jarak tempuh yang disebutkan diatas paling besar membayar 2000 rupiah. Bandingkan dengan biaya yang harus dibayar untuk bahan bakar dan pungli yang harus dibayar pada oknum-oknum ‘empunya’ jalan.

Tingkat kehidupan mereka boleh jadi sangat rendah. Belum lagi, ditambah umpatan-umpatan yang sering diberikan pengemudi jalan lain yang mungkin kesal karena ulah ‘ngetem’ supir angkot di sembarang badan jalan. Stressfull? Indeed.

Apa pernah teman-teman mengumpat pada supir angkot? Hah sering?! Sudah pernah jadi supir angkot teman-teman? Oh, belum? Jangan diumpat lagi ya teman-teman.