surat buat bung besar

Bung, bangsamu kini sudah merdeka 63 tahun. Saya tidak tahu apakah sudah sesuai dengan apa yang Bung inginkan dulu. Seharusnya kami malu pada Bung, zaman kami segalanya sudah ada, tapi kami tidak mampu seperti Bung. Menjadi Pemenang, menjadi orang merdeka! Tapi, kami tidak malu Bung!

Ya, Bangsa kita hari ini, isinya orang-orang yang kalah Bung. Korupsi dimana-mana Bung hari ini. Saya tidak khawatir dengan yang besar malahan. Saya khawatir dengan korupsi yang kecil-kecil Bung, yang ada di dalam diri setiap anak-anak bangsa. Waktu yang terkorupsi, Keinginan yang terkorupsi, Pikiran yang terkorupsi. Akhirnya Bung, anak-anak bangsa tidak bersemangat, klemar-klemer, mudah mengeluh, ya termasuk saya ini Bung. Lainlah dengan Bung yang cerdas, dan berapi-api. Kagum saya pada Bung.

Cak Nun, seorang yang berbudaya pernah bilang begini Bung, “Kita adalah masyarakat yang melarang siapapun melakukan korupsi, kecuali kita ikut kecipratan. Kita tidak ikhlas ada KKN, kalau kita tidak dilibatkan di dalamnya.”

Bung, saya betul-betul sedang mengeluh ini. Saya melihat saudara-saudara saya sendiri, melakukan kerusakan alam, dan kerusakan lainnya. Mereka tidak malu Bung. Malu dengan diri sendiri saja tidak Bung, apalagi dengan Bung yang memerdekakan Indonesia 63 tahun lalu.

Bagaimana ini Bung? Beri saya wangsit Bung. Dengar-dengar dari orang-orang yang sering saya temui di jalan, Bung masih hidup ya?

eh Bung, Bung pasti belum pernah liat Inul dan Dewi Persik kan? Wah Bung, mungkin itu perempuan-perempuan akan jadi kecintaan Bung. Tapi, sayang Bung, mereka juga sepertinya kurang tau malu..Bercanda saya, Bung.. hehe..

———————————–

Bung, saya ingin bertanya, sama tidak menjadi pemenang dengan menjadi orang yang merdeka? Lihat itu Bung, foto disamping itu, ternyata bangsa ini juga merindukan kemenangan Bung. Ayo Bung, menang lagi?!

*1) gambar diambil dari sini dan *2) dari sini