t

Who wants to know all that is gold is rusting. No one will know, when seasons cease to change and how far we’ve gone, how far we’re going. It’s the here and the now, and the love for the sound, of the moments that keep us moving.

Waves crash along, the battered, lonely lighthouse. Tomorrow she’s gone and if not, someday somehow. Are these hands a waste? Well this side of mortality is scaring me to death. To death.

Don’t think about it at all. Just keep your head low, and don’t think about it all.

Soldier on, soldier on, keep your heart close to the ground. Soldier on, soldier on, keep your heart close to the ground.

~Soldier On, The Temper Trap

ps: death, will you take me tonight?


Soldier On

on December 16, 2009 by aditya sani

4 Comments

Post

cerita dari salemba

In indonesiana, jakarta, opini, politik, sosial on December 9, 2009 by aditya sani

Mengomentari catatan saya tentang 9desember, seorang kawan lalu bercerita cukup panjang mengenai seorang Ibu yang berdagang minuman botol di tengah kampus salemba. Saya gemetar membacanya. Lalu nafas saya sesak dan mata saya basah.

—–

Ya ya ya.. Demo demo demo.. Akhirnya muncul pertanyaan mendasar, menguntungkan siapa?

Wacana mengenai kerusuhan, seakan malah memaksa masyarakat mengingat luka 1998. Luka yang mungkin kita sebut sebagai reformasi, tapi bagi sebagian orang lain adalah mimpi buruk. Bagi mereka yang dirampas hartanya, bagi mereka yang direnggut keperawanannya, bagi mereka yang tidak bisa mencari nafkah dihari itu, sedangkan ia harus pulang membawa nasi untuk keluarganya. Inikah reformasi yang dibanggakan Indonesia??

Gw semalem secara gak sengaja ngobrol sama Ibu penjual air mineral di kampus, Dit (pasti lo sering ngeliat juga). Dengan ramahnya beliau menyapa mahasiswa-mahasiswa yang pulang kuliah dan menawarkan air minum dagangannya: “ayo dek yang haus…”, “mampir dulu dek minum…”, “baru pulang dek, gak haus?”. Gw sebenernya udah lama juga liat beliau, dari pertama kali keluar kelas sampe sekarang, perawakannya dan sapaannya yang khas bikin gw mudah mengingatnya. Dari jauh sambil duduk di halaman kampus, gw merhatiin beliau dengan tulus menjajakan dagangannya, meski sering juga ada mahasiswa yang melengos pergi karena buru-buru. Tapi senyum selalu ada dibibirnya.

Nah, semalem pas banget gw duduk di halaman itu sambil nunggu seseorang. Gak gitu lama datanglah Ibu itu, karena mungkin kita saling mengenal meski cuma dari tatap muka, Ibu itu ngelempar senyum ke gw, bertanya dan menawarkan minuman, “Nunggu siapa, mas? Gak minum dulu, mas…“. Karena gw gak gitu haus, gw tolaklah dengan sopan. Malem itu,  gw ngeliat si Ibu nggak make sandal. Dari kejauhan Gw denger Ibu itu menawarkan dagangannya ke orang lain “Mas minum mas, sendal Ibu
putus mas diluar…”

(entah kenapa gw mendengar kata-kata Ibu itu tidak dengan maksud ingin meminta sendalnya diganti, tapi hanya ingin mencurahkan keluhannya ke orang lain)

Denger begitu gw secara refleks langsung mendekati dan belilah satu botol air mineral. Dan obrolan pun dimulai …

Intinya Ibu itu menjelaskan kalo beliau takut seandainya besok (hari ini.red) terjadi kerusuhan kayak tahun 1998. Ibu hanya takut tidak bisa jualan dan gak bisa membiayai anaknya sekolah. Lalu gw kaget ketika Ibu itu bilang bahwa anaknya yang sekarang duduk di kelas 2 SMK di kawasan salemba terancam nggak bisa ikut ujian gara-gara belom lunas bayar uang ujian sebesar Rp 150,000.

Ibu itu baru membayar Rp 80,000 dari hasil menjual perabotan rumah tangganya dan cincin serta anting yang itu juga bukan dari emas, “perabotan rumah udah ludes kejual mas, ini 15 ribu juga gak laku mas, bingung Ibu mau jual apa lagi” sambil menunjuk ke 2 cincin dan anting miliknya yang masih tersisa. “belum lagi sekarang udah mau libur gini, dagangan sepi“, Ibu sampe bosen bolak balik ke sekolah buat tanda tangan perpanjangan, ini udah yang ketiga, dan besok pagi terakhir, ini udah hampir jam 12 dan Ibu belom dapet juga 70 rIbunya, pusing Ibu mas” cerita si Ibu sambil tetap tersenyum, tapi gw ngeliat tatapan berat sang Ibu dengan mata sedikit berlinang pun beliau berusaha tetap menahan air itu jatuh. “Ibu udah bilang kalo saya gak bisa bayar, udah dibalikin ajah uang pangkal anak saya, keluar ajah gak papah anak saya

Tapi ama sekolahan gak boleh, mas“, lanjut Ibu. Gw cukup surprise dengan kata-katanya, dan lagi-lagi pendidikan kita tidak berpihak pada rakyat yang memang betul-betul banting tulang untuk mendapatkan uang untuk bayar sekolah.

Jadi, buat apa kita teriak-teriak nuntut ini, nuntut itu, selesaikan kasus Century lah, berantas korupsi lah, kalo orang disekitar kita untuk sekolah susah, buat makan aja susah. Coba dipikir dengan bijak siapa lagi yang mau dijadikan korban dari sebuah kekuasaan yang “keji”?

Buat apa bikin-bikin spanduk menentang pemerintah, coba dipikir berapa harga spanduk? Dengan mudah kita ngeluarin duit untuk itu, sedang disamping orang masih butuh uang itu untuk makan.

Pikir matang-matang kalo pengen demo, jangan malah jadi “perang urat syaraf” kayak tukang bemo. Atau usaha untuk mendapatkan kursi dan akhirnya senang dengan dasi dan perut gendutnya. Coba perhatikan berapa banyak aktivis yang dulunya berkoar-koar turun kejalan sekarang duduk manis di gedung yang katanya terhormat dengan pakaian serba trendy dan mobil mewah.

Gw, cuma pengen berbagi cerita, bukan maksud provokatif. Hehe..

Salam,

—–

ps: tulisan diatas sudah saya edit seperlunya, agar lebih mudah terbaca.

Post

9desember

In indonesiana, jakarta, opini, politik, sosial on December 8, 2009 by aditya sani

People’s power. Vox populi vox dei. Gerakan Sosial.

Istilah-istilah ini kembali mengisi frekuensi pendengaran kita beberapa minggu terakhir. Kabarnya, 9 Desember besok akan ada gerakan sosial yang dimotori berbagai elemen masyarakat. Jika anda bertanya, siapa yang memperluas kabar ini? Presiden SBY mungkin salah satu yang melemparkan ‘ketakutannya’ di muka publik ketika berhadapan dengan wartawan. Ketakutan atas adanya gerakan sosial yang massive, atau atas penggulingan kekuasaan yang mungkin diinginkan para penunggang angin.

Siapa yang mungkin akan bergerak 9 desember nanti? Salah satu yang belakangan mencuri perhatian adalah Kompak (Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi) yang diisi pengamat seperti Fadjroel Rachman, Effendy Gazali, dan Yudi Latif. Semangat anti-korupsi yang diusungnya bolehlah kita acungi jempol, bila melihat aksi damai Indonesia Sehat yang dilakukan di Bunderan HI, beberapa minggu lalu.

Tapi kemudian jempol saya terpaksa saya turunkan, karena ternyata mereka nanggap Trio Macan untuk menghibur massa aksi yang tak begitu besar. Maaf, bukan saya tidak menaruh hormat pada Trio Macan atau musik dangdut, tapi saya rasa mereka pun hanya digunakan sebagai ‘pemanis’ aksi saja. Karena pakaian ketat dan rambut warna-warni yang digunakan yang saya rasa berlebihan merusak seisi acara. Terlebih mereka duduk di depan saat pembacaan inti aksi.  Aduh, mbak..mbak..

Lalu juga kabarnya ada elemen-elemen mahasiswa, seperti HMI dan GMNI yang juga ingin mencurahkan isi hatinya soal negara, menunjukkan perasaannya sebagai anak bangsa (eh, maksudnya ya sederhana unjuk rasa!).

Siapa penunggang angin? Ah, jangan tanyakan pada saya, karena saya tidak punya jawabannya. Saya hanya bisa menebak-nebak, siapa di belakang siapa, dengan kepentingan apa. Satu yang pasti, bukan orang yang punya kepentingan ekonomi. Terlalu riskan bagi mereka yang memiliki kepentingan ekonomi untuk merusak makro ekonomi yang sedang memperbaiki diri dengan mendukung aksi. Kecuali jika memang mau bikin pasar ambruk, lalu bermain-main disana. Yah, paling-paling kalaupun ada kepentingan ekonomi, hanya untuk sesaat. Dan kita, tidak mungkin diuntungkan.

Aih, bagaimana dengan soal penggulingan kekuasaan? Kalau kata orang Afro-Amerika di AS, “Penggulingan kekuasaan my ass!”

Ingatan yang mengerikan soal peristiwa 1998 beterbangan, seperti gelembung-gelembung kecil yang ditiup seorang anak kecil yg bermain air sabun. Memang mengerikan kalau yang dibayangkan sebesar 1998 lalu, sudah satu dekade lewat. Mengingat peristiwa itu, di kepala saya masih berbayang ban-ban yang terbakar sepanjang jalan yang saya lewati dari sekolah ke rumah, wajah ayah saya yang gusar soal keselamatan anaknya. Lalu teringat kisah teman-teman yang kebetulan berdarah Tionghoa tentang kakaknya yang diperkosa beramai-ramai, ayahnya yang diseret sampai mati, tokonya yang dijarah, rumahnya yang dibakar. Ah, banyak kisah lain yang lebih mengerikan, yang rasa-rasanya tidak lagi perlu kita alami.

Indonesia. Indonesia. Indonesia. Biarkan saya memejamkan mata dan merapal mantra dulu.

Di tahun 1998, perut rakyat lapar ingin mencerna makanan, lidah mereka lapar bicara sesukanya, pikiran mereka lapar ingin mengutarakan berpendapat, hati nurani mereka lapar ingin berkelompok. Mereka lapar, mereka juga lelah dibungkam 32 tahun. Kini, setelah 10 tahun lebih berusaha bangkit kembali, setelah 5 tahun mencoba berdiri dan berlari. Apakah Ibu Pertiwi akan menggerakkan anak-anaknya yang jauh dari lapar?

Vox populi vox dei. Suara rakyat suara Tuhan. Perasaan saya bilang Tuhan akan memilih diam saja besok. Tidak akan berteriak, apalagi marah. Rakyatnya toh sedang sibuk bekerja mencari nafkah. Jangan-jangan rakyat malah marah karena aksi besok mungkin akan buat jalanan macet parah. Aduh kalimatnya ber-rima.

Paling-paling, pun ada yang esok bergerak, massa seukuran penduduk kecamatan, tak lebih tak kurang. Itu pun tidak sedang lapar, yah lapar sih, atas kekuasaan.

Oiya, izinkan saya untuk menambahkan beberapa saran ke dalam tulisan ini, kalau besok memang ada yang mau demonstrasi:

Gunakan saja area Monas untuk berunjuk rasa, kan luas sekali. Lalu, jangan pake bis lah ke Monasnya (kalau memang mau di Monas), konvoi bisnya pasti bikin macet. Coba pake kendaraan lain, yang kecenderungan ugal-ugalan nya rendah. Jalan kaki kek, pake Sepeda kek. Kalo gitu kan niat baik kalian tidak mengganggu ketertiban umum, dan hak orang lain.

Post

mimpi jadi gober

In edukasi, indonesiana, inspirasi, perbankan on December 6, 2009 by aditya sani Tagged: , , , , ,

Di minggu yang dingin ini (halah!), mari kita berandai-andai, menjadi paman Gober yang punya tabungan Deposito di Bank Mandiri dengan nilai Rp 2.000.000.000,-. Wuoooo, banyak ya “0”-nya, ada sembilan! Hahaha..

Eit, sebelum berandai-andai, ada baiknya kita belajar dulu, gak usah detil-detil amat, ya paling gak tahu lah. Karena saya tahunya juga gak mendetil, jadi maklum ya. Pokoknya, seru deh! :)

Dalam soal-menyoal Deposito, dikenal yang namanya Suku Bunga Deposito, yang besaran persentasenya bergantung pada kebijakan Bank dimana produk layanan tersebut diterbitkan. Tahun 2009 ini, Suku Bunga Bank untuk Produk Deposito berada di kisaran 6,25% – 6,5%. Itu kalau kita menabung di Bank yang berada di bawah penjaminan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). Lain dengan bila kita menabungnya di Bank sekelas BPR (Bank Perkreditan Rakyat), suku bunga Bank tertinggi bahkan bisa mencapai 12%. Bunga tersebut sesuai dengan risiko yang ditanggung nasabah, bila ternyata BPR tersebut bermasalah dan ditutup! (Deg-deg-an gak sih jadinya?!)

Lalu, lalu, lalu, ada yang disebut sebagai Pajak atas Bunga Deposito dan Tabungan. Yang pengertiannya menurut Direktorat Jenderal  Pajak:

-Atas penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan serta diskonto Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dipotong Pajak Penghasilan (PPh) yang bersifat final.

- Termasuk bunga yang diterima atau diperoleh dari deposito dan tabungan yang ditempatkan di luar negeri melalui bank yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia atau cabang bank luar negeri di Indonesia.

-Dengan besaran persentase 20% bila nilai tabungan/deposito diatas Rp 7.500.000,-

Pajak ini yang nantinya bakal mengurangi nilai bunga yang kita dapatkan. Semakin besar bunga yang diperoleh, makin besar pula nilai yang kita bayar. Yaaah, buat biayain Negara lah. Hehehe.. Lha kalo Depositonya Rp 2.000.000.000,- kan pajaknya besar banget? Berarti kita berhak dong nuntut ini itu sama Negara? Lha wong, kita mbayarnya guedhhee kok?!! (Halah, baru ngimpi aja kok ya kamu tu!)

Trus apalagi mas yang harus saya tahu? Ini yang paling menyenangkan! Berhitung bunga yang diterima!

Sebelumnya, saya perkenalkan dulu ya sama masing-masing nama dan rumus matematika nya:

Bunga Kotor perTahun (BKpT): Nilai Nominal Bunga yang diterima pemilik deposito setiap tahun yang sesuai dengan suku bunga yang berlaku sebelum dipotong Pajak atas Bunga Deposito.

Rumusnya: Nominal Uang yang di Deposito-kan x Suku Bunga Deposito

Bunga Bersih perTahun (BBpT): Nilai Nominal Bunga yang diterima pemilik deposito setiap tahun yang sesuai dengan suku bunga yang berlaku setelah dipotong Pajak atas Bunga Deposito.

Rumusnya: Bunga Kotor perTahun – (%Besaran Pajak x Bunga Kotor perTahun)

Bunga Bersih perBulan (BBpB): Nilai Nominal Bunga yang diterima pemilik deposito setiap tahun yang sesuai dengan suku bunga yang berlaku setelah dipotong Pajak atas Bunga Deposito, jika Bunga tersebut diambil setiap bulan atau tidak di roll-over kembali (ditambahkan) ke dalam Deposito.

Rumusnya: (Bunga Bersih perTahun/365 hari) x Jumlah hari dalam bulan berjalan

Sekarang sudah cukup tahu kan? Haha! Mari kita berandai-andai memiliki Rp 2.000.000.000,- yang di Deposito-kan di Bank Mandiri dengan suku bunga 6,5% dan pajak 20%.

#1. Berapakah nilai BKpT-nya?

Rp 2.000.000.000,- x 6,5%                                             = Rp 130.000.000,-

#2. Berapakah nilai BBpT-nya?

Rp 130.000.000,- – (20% x Rp 130.000.000,-)         =

Rp 130.000.000,- – Rp 26.000.000,-                            = Rp 104.000.000,-

#3. Berapakah nilai BBpB-nya pada bulan Desember (31 hari)?

(Rp 104.000.000,- / 365hari) x 31 hari                       =

(284.931,50) x 31 hari                                                      = Rp 8.832.000,-

Jeng-jeng-jeng, yang diterima tiap bulan Rp 8.832.000,- angkanya lumayan kan buat hidup sebulan..hehehe.. Gak pake kerja lagi itu, udah! Tinggal duduk sambil kipas-kipas..hahaha..

Lho lho, malah malah ngelamun. Sudah ngimpinya, Nabung dulu! Yuk! Hihihi..

Post

ilmu tak tertulis suatu abad

In Kliping, indonesiana, opini, politik, sosial on December 5, 2009 by aditya sani Tagged: , , , , , ,

Sebuah kolom opini yang saya baca di Kompas hari ini, 5/12/09. Ditulis oleh Sujiwo Tejo, seniman dan dalang favorit saya.

Selamat membaca!

—-

Ilmu Tak Tertulis Suatu Abad

Saya pendukung calon presiden Jusuf Kalla pada pilpres yang lalu. Demi itu, saya akhiri riwayat golput sejak pertama punya hak pilih pada era Soeharto.

Tetapi, saya menolak jika pengusutan kasus Bank Century diarahkan untuk utamanya mendongkel kepresidenan SBY. Biarkan gerakan angket di DPR, dukungan LSM, demi tegaknya keadilan. Janganlah sejak dini, aneka gerakan ini diagendakan untuk penggulingan kekuasaan.

Ilmu tak tertulis mengajarkan, pangkat dan kedudukan cuma ngunduh wohing pakarti. Keduanya buah dari kelakuan masa lampau dari yang bersangkutan maupun masa lalu orangtua dan nenek moyangnya.

Ilmu tak tertulis juga mengajarkan, pemimpin adalah cermin masyarakatnya. Keduanya jodoh ibarat suami-istri. Jika suami koruptor, hampir bisa dipastikan istrinya orang yang korup pula. Kalaupun sang istri bukan koruptor, karena belum punya pangkat dan kedudukan, setidaknya memiliki sifat-sifat dasar koruptor. Sirik, rakus, iri, dengki, dendam. Bukankah itu ”Pancasila”-nya korupsi?

Ilmu tak tertulis juga mengajarkan, sebagian besar rakyat, termasuk saya, mendoakan agar semua pejabat korup. Bawah sadar kita, bawah sadar ”aku”, yakni ingsun, tak menaruh hormat kepada pemimpin miskin yang mobilnya kelas Kijang seperti Baharuddin Lopa atau Sarwono Kusumaatmadja zaman dulu.

Padahal, Sastrajendra Hayuningrat dari pewayangan, salah satu molekul di antara samudra ilmu tak tertulis, mengajarkan, doa paling manjur adalah kehendak bawah sadar itu. Doa mujarab bukan yang terucap di mulut, terlintas di pikiran maupun tebersit di hati. Doa paling cespleng adalah gerakan bawah sadar kita yang, misalnya, tak menghargai istri pejabat dengan tas jelek, tidak bermerek. Alias diam-diam membuat doa paling mustajab agar suaminya korup.

Maka, gerakan angket kasus Bank Century, jika sejak awal diagendakan untuk mendongkel pemimpin yang diduga korup, sama dengan mendongkel masyarakat itu sendiri alias membuat kita berantakan dan bubar.

Mahkota raja

Ilmu tidak tertulis mengajarkan, sah seorang pemimpin berbuat kotor untuk mencapai cita-cita bersama. Ini karena kepemimpinan ada dalam ranah praktis, lahan kaum ksatria, weisya, eksekutif. Ini bukan tataran teori maupun ajang pergulatan intelektual yang bisa bersih. Ini bukan arenanya kaum brahmana yang maksimal kepraktisannya hanya berfungsi sebagai penasihat eksekutif. Ini tataran yang seru. Ini tatarannya para pelaksana yang harus berhadapan dengan jutaan manusia dengan berbagai perangai. Jadi bagaimana kita akan bersetuju dengan gerakan mengusut kasus Bank Century jika sejak awal diagendakan untuk menumbangkan pemimpin yang diduga kotor?

Ya, pemimpin mau tak mau mesti kotor. Maka Bung Karno pernah bilang strategi saja tidak cukup. Diperlukan taktik. Tetapi, taktik yang perubahannya relatif lama juga tidak cukup. Diperlukan siasat yang bisa berubah setiap detik tergantung sikon. Dalam siasat itu, lebih-lebih pada zaman sekarang, jer basuki mawa bea alias uang bicara.

Tak heran jika dalam pemilihan Ketua Umum Partai Golkar, calon yang tak terpilih, Surya Paloh, tidak tegas mengatakan dirinya tidak mengeluarkan biaya untuk perolehan suara. Ia hanya tersirat mengaku kalah kemampuan finansial dari kubu Aburizal Bakrie dalam menerapkan jer basuki mawa bea pada saat-saat terakhir sebelum pemilihan.

Itu baru lingkup partai. Terbayang jer basuki mawa bea sebesar apa lagi jika seseorang meraih posisi puncak di negeri ini.

Sebenarnya dari kalangan ilmu tertulis, Sartre, sudah ada wanti-wanti, kepemimpinan, baik cara pencapaiannya maupun cara menjalankannya setelah kedudukan itu tercapai, tidak mungkin bersih. Secara puitis, Rendra pernah menyadurnya dalam selarik sajak, ”Tanpa tangan-tangan kita kotor, tak mungkin kita ciptakan itu firdaus…”.

Ilmu tak tertulis dari dunia pewayangan mengajarkan, Rahwana, simbol angkara murka, sebenarnya sudah ingin bunuh diri setelah bertapa 50.000 tahun di Gunung Gohkarno. Rahwana putus asa berwujud buruk dan sifat jahat. Tetapi, dewa-dewa tidak mengizinkan. Alasannya, tanpa sisi gelap manusia, dunia tak terselenggara dalam harmoni hayuning bawono. Maka Rahwana tak mati-mati. Sukmanya selalu merasuki kaum pemimpin.

Ilmu tak tertulis dari kalangan teater tradisional seperti drama gong di Bali, degung di Pasundan, atau ketoprak di Jawa mengajarkan, tiap raja memerlukan mahkota yang indah. Sama halnya tiap pemimpin perlu diberi citra yang bagus, karena pemimpin bukan rohaniwan yang mungkin suci, tetapi belum tentu becus memimpin. Pemimpin itu pasti kotor atau setidaknya pernah kotor. Entah itu kotor karena uang, karena lumuran darah dan air mata pihak yang tak sepakat.

Jadi, sekali lagi, masihkah kita bersepakat dengan gerakan pengusutan Bank Century jika niat utama, dan mungkin satu-satunya, penggulingan kekuasaan?

Kearifan tradisional

Ilmu tak tertulis begitu banyak. Itu bukan saja ilmu saat Menkominfo Tifatul Sembiring membaca bahasa tubuh SBY dan dapat menyimpulkan sikapnya sebelum SBY resmi mengumumkan sikapnya atas rekomedasi Tim 8. Tetapi, itu juga ilmu yang digunakan masyarakat untuk sampai pada kesimpulan diam-diam, hanya melalui bahasa tubuh, tentang siapa sebenarnya Komjen Susno Duadji.

Ilmu tak tertulis adalah semua ilmu yang tidak diajarkan di bangku sekolah dan kuliah. Mengingat dunia akademis, bahkan untuk mengajarkan teater saja, memilih teater yang ada naskah tertulisnya, maka yang diajarkan kebanyakan teater Eropa. Lakon dan kearifan yang terkandung dalam teater tradisional, tak tertulis, teronggok, dan nyaris punah.

Padahal, kearifan tak tertulis itu bisa memberi tahu kita mengapa reformasi 1998 gagal? Karena reformasi itu didorong seluruh atau di antara ”Pancasila”-nya korupsi: Sirik, rakus, iri, dengki, dendam. Bukan pertama-tama didorong membuat perbaikan guna meraih kembali kejayaan Nusantara.

Ilmu tak tertulis mengajarkan kita semua untuk waspada dan hati-hati agar tidak terseret gerakan pengusutan kasus Bank Century jika agendanya cuma penggulingan penguasa yang belum tentu terbukti bersalah. Ilmu tak tertulis hanya membuat kita terpanggil mendukung gerakan itu jika agendanya adalah meraih kembali kejayaan Nusantara guna perbaikan nasib kita bersama. Yang lain-lain, jika pun terjadi, hanya dampak sampingan.

~Sujiwo Tejo, Dalang