The Briefing – Ekonomi – Minggu I – Februari 2018

Pekan ini diperkirakan Kementerian Keuangan, BI & OJK akan terus menyerukan kewaspadaan terhadap perkembangan digital currency & juga risiko teknologi keuangan peer to peer (p2p) lending, serta rencana penurunan pajak UMKM:

Peer to Peer Lending Naik Daun, OJK Mewaspadai Risiko

o   Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebut pihaknya mewaspadai risiko layanan finansial berbasis teknologi (financial technology/fintech) di bidang p2p lending alias pinjam-meminjam perseorangan.

o   Layanan fintech p2p lending mempertemukan masyarakat yang ingin memberikan pinjaman (calon kreditor) dengan masyarakat yang ingin meminjam (calon debitor) secara online.

o   Adapun hingga Desember 2017, OJK telah memberikan izin kepada 27 perusahaan fintech di bidang p2p lending. Total pinjaman yang disalurkan mencapai Rp 2,26 triliun untuk 290.335 debitor.

o   Risiko yang perlu diperhatikan yakni kerugian yang harus ditanggung kreditor jika debitornya tidak bisa melunasi pinjamannya. Karena proteksinya kepada pemberi pinjaman tidak ada.

o   Concern pertama OJK harus melindungi kepentingan masyarakat. Sebelumnya, OJK telah mengeluarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 77/POJK/01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis.

Rencana Penurunan Pajak UMKM:

o    Pemerintah berencana memangkas tarif pajak penghasilan (PPh) untuk usaha kecil dan menengah (UKM). Saat ini, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2003, berlaku PPh final 1% untuk UKM yang beromzet maksimal Rp 4,8 miliar setahun.

o    Dalam informasi terakhir, aturan tersebut bakal direvisi sehingga tarifnya turun menjadi 0,5%. Revisi tersebut mencakup layering tarif pajak terutama untuk melindungi pelaku usaha mikro.

o    Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo mendukung rencana pemangkasan tarif pajak tersebut, bahkan menyarankan adanya pembedaan tarif sesuai omzet. Namun, ia menilai realisasinya tidak perlu terburu-buru untuk meredam risiko pemecahan bisnis.

o    Pemerintah bisa memberlakukan pembebasan pajak untuk wajib pajak mikro yang beromzet Rp 300 juta setahun. Lalu, menerapkan tarif 0,25% untuk wajib pajak beromzet Rp 300 juta sampai Rp 600 juta dan tarif 0,5% untuk wajib pajak beromzet antara Rp 600 juta sampai Rp 1,8 miliar.

o    Wajib pajak beromzet di atas Rp 1,8 miliar bisa dikenakan tarif PPh final 0,5% dan pajak pertambahan nilai (PPN) 0,5% yang sekaligus sebagai edukasi dan persiapan wajib pajak menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP).

Kementerian Keuangan dan OJK Melarang Bitcoin

o    Setelah Bank Indonesia (BI), giliran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperingatkan bahaya menggunakan mata uang virtual (cryptocurrency) yang berbasis distributed ledger technology seperti bitcoin.

o    Tak hanya berisiko merugikan diri sendiri, cyrptocurrency juga dinilai bisa mengganggu stabilitas sistem keuangan. Mata uang digital belum memiliki jaminan (underlying aset) yang mendasari nilainya. Oleh sebab itu, transaksi dari mata uang virtual yang spekulatif ini berisiko menimbulkan gelembung nilai (bubble).

o    Kementerian Keuangan menegaskan, mata uang digital juga rawan dipakai untuk kejahatan seperti tindak pidana pencucian uang (TPPU), pembiayaan terorisme, mendanai narkoba, ataupun perdagangan manusia. Apalagi, hingga saat ini belum ada otoritas yang mengatur dan mengawasi secara resmi penggunaan dari mata uang virtual tersebut.

o    Kementerian Keuangan pun mendukung kebijakan BI selaku otoritas moneter dan sistem pembayaran untuk tidak mengakui mata uang virtual sebagai alat pembayaran yang sah, sehingga cryptocurrency tidak boleh digunakan sebagai alat pembayaran yang sah.

o    Sementara itu, di dalam Undang-Undang (UU) Mata Uang ditegaskan bahwa setiap transaksi yang bertujuan untuk pembayaran di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) wajib menggunakan Rupiah.

_______

The Briefing merupakan salah satu produk monitoring & proyeksi isu ekonomi dari IGICO.

Advertisements

Tips Sukses di Tempat Magang

Internship atau magang merupakan sebuah kesempatan untuk mahasiswa/i mendapatkan keahlian, jaringan pertemanan dan pengalaman kerja di dunia kerja yang dinamis dan penuh dengan tantangan. Beberapa perusahaan membuka lowongan internship dengan gaji, beberapa lainnya tanpa gaji. Beberapa perusahaan membiarkan pekerja magang duduk-duduk di kursi yang tersisa, tanpa tugas yang jelas.

Sayangnya, tidak semua mahasiswa/i sadar betapa pentingnya internship untuk membuka mata mereka tentang dunia kerja yang sesungguhnya. Dunia kerja yang (sayangnya) tidak berhubungan dengan tugas essai dan tugas paper. Dunia kerja yang (sayangnya) tidak dibatasi oleh jumlah halaman, jenis huruf, dan ukuran huruf atas tulisan yang dibuat.

Beberapa hari yang lalu, salah satu pekerja magang di kantor saya menghubungi saya dan meminta diberi tugas untuk diselesaikan. Lalu saya berikan sebuah tugas untuk mencari tahu informasi yang penting tentang sebuah startup teknologi keuangan di bidang pembiayaan konsumen. Yang menarik adalah dia bertanya berapa jumlah halaman yang perlu dibuat. Saya jawab bahwa 5 halaman saja cukup, selama informasi yang dicari sudah dapat dipaparkan dengan jelas.

Keesokan harinya, sebuah email masuk ke inbox saya. Tugas yang saya minta diselesaikan dalam waktu kurang dari 24 jam. Apa yang terjadi kemudian?

Saya mendapatkan sebuah dokumen presentasi powerpoint mengenai startup teknologi keuangan yang saya minta. Sayangnya, informasi yang disampaikan dalam dokumen tersebut bisa saya baca di website startup teknologi keuangan tersebut. Artinya tidak ada informasi yang penting yang disampaikan di dalam dokumen tersebut.

Lalu, saya hubungi pekerja magang tersebut dan ternyata dia mendapatkan informasi yang dipaparkan dalam dokumen powerpoint dengan merangkum video dari youtube tentang startup teknologi keuangan. Sejujurnya, saya terkejut. Mengapa seseorang mencari informasi yang penting dari youtube. Apakah karena pekerja magang di kantor saya ini termasuk generasi Z? 

Setelah itu bertanya, saya sampaikan beberapa hal kepada pekerja magang tersebut bahwa:

Berlatih mencari dan menggali insight. Mahasiswa dan mahasiswi perlu lebih banyak belajar untuk mencari dan menggali insight. Perlu diingat bahwa hal-hal yang penting dan berisi insight tidak akan didapat dari halaman pertama hasil googling. Insight akan didapat dari halaman-halaman berikutnya, atau bahkan mungkin dari hasil obrolan yang mendalam dengan siapapun. Insight yang paling sederhana adalah mengenai who’s who, competitions, money spent, where the money from, and all the other details.

Google-it before you ask. Mahasiswa dan mahasiswi perlu lebih banyak bertanya. Selain perlu lebih banyak membaca panjang. Sayangnya dunia yang semakin modern ini membawa kita ke ranah audio visual yang semakin mengganggu dan membuat kemampuan membaca panjang semakin langka. Di saat yang sama social media membuat kita lebih sering bertanya tentang hal-hal (yang bisa dicari lewat Google) kepada peer group, followers dan fans di social media.

Talenta yang resourcefulSaat ini, kita sudah sama-sama mulai merasakan bagaimana sulitnya mencari pekerjaan yang bagus. Di sisi lain, perusahaan pun semakin kesulitan untuk mencari talenta yang tepat. Kalau kita mau menjadi talenta yang dicari oleh perusahaan-perusahaan yang bagus, kita tidak boleh menjadi mediocre.

Quality over quantities. Ini hal yang sangat penting dan (sayangnya) di bangku kuliah kita diajarkan untuk mengerjakan yang sebaliknya. Dosen lebih sering meminta anak didiknya untuk mengerjakan essai dan paper dengan jumlah minimal x halaman, jenis huruf x, ukuran huruf x, dan syarat lainnya yang tidak relevan dengan mata kuliah. Dosen jarang sekali memaksa bahwa substansi dari sebuah paper adalah hal yang lebih penting dari pada jumlah halaman. Tuhan, jumlah halaman. Akibatnya mahasiswa dan mahasiswi jadi terbiasa mengejar jumlah halaman, kadang dengan mengarang bebas dalam banyak paragraf tambahan agar kuota halaman mencukupi. Saya pun dulu seperti itu.

Take the extra miles, impress your audience & screw deadlines. Apapun pekerjaan yang dilakukan, seorang pekerja harus selalu memiliki attitude untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas. Bayangkan pekerjaan yang sedang dilakukan itu akan dilaporkan kepada diri kita sendiri. Periksa kembali pekerjaan tersebut, lalu tanyakan kepada diri sendiri apakah sudah puas dengan apa yang hasil kerja tersebut? Kalau belum puas, ulangi pekerjaan tersebut hingga bisa memuaskan (minimal) diri kita sendiri. Deadlines adalah keniscayaan. Selama pekerjaan tersebut tidak ditunda-tunda, sudah barang pasti pekerjaan selesai tepat waktu.

Mudah-mudahan tulisan ini mencerahkan. Btw, kebetulan kantor saya sedang membuka lowongan magang. Silakan kirimkan cover letter dan curriculum vitae ke sani@igico.id. Hehahehahe.. Dont waste your time, Bruh. Clocks ticking..

Membangun Kebiasaan Menjadi Juara

Setiap orang harus dan perlu memiliki target untuk dikejar. Kadang sesederhana agar hidup tidak terasa hambar. Kadang sesederhana agar hidup terasa lebih menantang. Tanpa target, hidup seseorang bisa jadi ada di titik yang sama. Stagnan. Mungkin akan terasa membosankan, karena menjalani rutinitas yang itu-itu saja. Kalau ditanya, apa target saya? Saya ingin menjadi seorang juara. Di dalam pikiran, di  keluarga dan di pekerjaan. Saya belum menjadi seorang juara, saya masih berusaha menjadi juara. Tulisan ini akan terasa seperti tulisan motivator. Kalau tertarik, silakan lanjutkan.

Saya punya beberapa resep yang sedang saya buktikan validitasnya. Silakan bila ingin mencoba. Berikut ini resepnya:

1. Cari Mentor

Percayalah bahwa pada diri setiap orang, ada kelebihan-kelebihan yang bisa ditiru, ada langkah-langkah hidup yang memiliki nilai belajar tinggi. Hal-hal seperti itu bisa didapat dari seorang mentor. Saya tidak sedang membahas mentor di bangku sekolah atau kampus. Yang saya maksud dengan mentor adalah teman yang lebih senior yang bersedia menjadi pendengar, memberikan petunjuk dan menceritakan pengalamannya. Mentor bagi saya adalah tempat saya mencari nasihat, ketika saya sedang membutuhkannya.

Saya punya lebih dari 5 mentor dalam hidup saya. Ada yang bekerja puluhan tahun di media, dan sekarang menjadi kakak, ibu angkat sekaligus atasan saya di kantor. Ada yang bekerja puluhan tahun di politik, dan sekarang menjadi teman saya menghabiskan waktu senggang di antara rapat yang satu dengan rapat yang lain. Ada yang bekerja puluhan tahun di agency digital, dan sekarang sedang merintis beberapa makhluk digital business. Ada juga beberapa yang masih seumuran saya, tetapi memiliki spesialisasi dan pengetahuan yang jauh lebih dalam tentang isu atau masalah tertentu.

2. Hargai waktu

Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dan tidak boleh dibuang percuma. Cara paling mudah menghargai waktu adalah dengan memberikan ‘harga’ pada waktu yang dipakai ketika bekerja. Mungkin itu sebabnya, mentor-mentor saya selalu menepati waktu dan selalu memiliki kesibukan. Banyak dari mereka akan merasa kebingungan ketika ada waktunya yang kosong, tanpa jadwal ketika melihat Google Calendar.

Mereka tidak membuang waktu, bahkan untuk sekedar membaca berita. Mereka benar-benar memilah informasi dengan membaca berita yang relevan dengan pekerjaan mereka saja. Salah satu mentor saya mengajari saya caranya memberikan ‘harga’ pada waktu. Setiap bulan ia memiliki target penghasilan dan waktu yang akan dilewati untuk mencapai ‘target penghasilan’ tersebut. Cara menghitungnya begini:

Saya punya target penghasilan Rp50.000.000,- per bulan. Saya punya waktu 26 hari dalam sebulan (12 jam per hari) atau sama dengan 312 jam per bulan. Lalu berapa harga waktu saya per jam? Rumusnya sesederhana — target penghasilan dibagi dengan jumlah jam kerja dalam sebulan.

Rp50.000.000/ 312 jam = Rp160.256,-

Artinya setiap saat saya harus mengingat bahwa setiap jam kerja saya yang terbuang untuk membaca atau melihat yang tidak relevan, saya telah membuang Rp160.256,- secara cuma-cuma. Bayangkan kalau saya menghabiskan waktu kerja saya untuk menonton Netflix selama 10 jam. Selain mata bisa belekan dan leher tengeng, saya telah membuang Rp1.602.564,- secara cuma-cuma. Such a waste of time, bruh..

3. Buat Daily, Weekly & Monthly To Do list 

Sebelum membuat daily, weekly & monthly to do list, ada baiknya memulai dengan membentuk kebiasaan untuk bangun pagi dan mengurangi begadang untuk hal yang tidak perlu. Setiap pagi dan sebelum tidur, cobalah untuk menulis apapun yang sedang menjadi target untuk dicapai hari itu di aplikasi semacam Notes atau Bear di handphone. Biasanya saya membuat pointers yang pada akhirnya saya susun berdasarkan skala prioritas, tingkat kesulitan dan waktu pencapaian. Bila tingkat kesulitannya tinggi, tentu waktu pencapaiannya akan lebih panjang. Bisa jadi, target tersebut akan ada di level weekly atau bahkan monthly to do list. Untuk saya, semakin penuh to do list yang saya miliki, semakin semangat saya untuk menghabiskan waktu saya. Karena saya tahu bahwa waktu saya dihabiskan untuk hal-hal yang produktif.  

4. Proaktif, lakukan sekarang & jangan pernah menunda

Jadilah manusia yang proaktif, minimal kepada diri sendiri. Tanyakan kepada diri sendiri apa yang perlu saya lakukan hari ini, minggu ini, dan bulan ini. Lakukan. Tanyakan kepada rekan dan atasan di kantor, apa yang bisa dikontribusikan hari ini, minggu ini dan bulan ini. Lakukan. Di era digital di mana informasi dan hiburan begitu sering dan mudah memapar kita melalui segala jenis gadget, menunda pekerjaan adalah kebiasaan buruk yang sangat sulit untuk dihilangkan.

Menunda pekerjaan atau banyak mentor saya menyebutnya sebagai too busy procrastinating seringkali disebabkan oleh beragam sumber informasi dan hiburan di gadget yang memiliki fitur push notifications. Seperti yang sudah pernah saya tulis di artikel blog sebelumnya, menjadi korban banjir informasi dan hiburan merupakan bencana. Jangan mau menjadi target dari gangguan yang konstan, kecuali kalau gangguan tersebut memang relevan dengan pekerjaan dan target yang ingin dicapai.

___

Bruh, take my advice. If its not relevant to your work and target, don’t waste your time strolling around instagram, facebook, and even twitter. If its not relevant to your work and target, don’t waste your time reading the news. Clocks ticking. Always.

Menjadi Korban Banjir Informasi

Coba cek gadget yang ada di pergelangan tangan, kantong celana, dan tas kita. Seberapa banyak waktu dihabiskan berkutat membaca notifikasi yang memang dengan sengaja di-push? Seberapa banyak waktu dihabiskan berkutat membaca pesan di grup Whatsapp yang isinya perdebatan? Seberapa banyak waktu dihabiskan berkutat membaca linimasa di Twitter dan Facebook? Seberapa banyak waktu dihabiskan berkutat melihat foto, memes dan caption di Instagram mengenai kehidupan pribadi selebritas? Seberapa banyak waktu dihabiskan membaca berita-berita mengenai korupsi, pembunuhan, terorisme, penyakit yang sedang mewabah, dan lain sebagainya?

Interupsi dan gangguan konstan yang membuat kita gelisah, hilang fokus, tegang, marah dan segala jenis rasa yang tidak nyamanInterupsi dan gangguan yang konstan yang kita buat sendiri. Iya, kita buat sendiri. Karena sebetulnya, kalau disadari, kita punya hak untuk tidak tenggelam dalam banjir informasi.

Coba tanyakan lagi, pada diri sendiri, seberapa banyak waktu dihabiskan untuk menggali lebih dalam sesuatu yang sebetulnya tidak relevan dengan hidup dan pekerjaan? Such a waste of time, bruh.. Kita lupa bahwa aplikasi-aplikasi yang ada di gadget yang kita pegang setiap hari itu didesain untuk membuat penggunanya bertahan menggunakannya secara konstan. Procrastinating what’s actually matter to ourselves. 

Lakukan yang Relevan

Saya punya seorang teman, panggilannya Pakde Dayat, usianya lebih kurang 60 tahun. Hobinya senyum dan melamun. Kadang ia merokok kretek. Juga sambil senyum-senyum melihat manusia lalu-lalang di depannya. Setiap hari ia berjualan minuman botolan di pintu belakang Masjid Agung Al-Azhar. Saya mengenalnya sejak saya masih duduk di bangku SD. Ia bisa menjadi teman ngobrol saya ketika selesai bermain bola atau sepulang sekolah.

Pakde Dayat sedang senyum simpul ke Tukang Bakpao.

Beberapa minggu lalu, setelah turun dari halte Transjakarta, saya menyambanginya dan bertanya, “Apa rahasiamu bisa waras sampai sekarang, Pakde?”.

Jawabannya sederhana, “Resepnya sederhana, Dit. Kalau waktu lapar, makan. Kalau waktu kerja, ya kerja. Kalau waktu ngantuk, ya tidur. Urip yo dilakoni wae, wong mung numpang ngombe“.

Suka baca berita nggak, Pakde?” tanya saya lagi.

Ha ngopo tukang teh botol kok ndadak harus moco berita, mung marai singit“, jawabnya sambil terkekeh. “Aku hanya melakukan yang perlu aku lakukan, Dit. Yang tidak perlu, ya tidak perlu dilakukan“, tutupnya.

Ruang Kerja untuk Nomad & Remote Worker

Di awal tahun 2018 ini, saya bertekad untuk menggunakan waktu saya sebaik mungkin untuk bekerja. Saya yang hidup di Tangerang Selatan dan bekerja di tengah kota Jakarta memiliki sedikit tantangan komuter yang sayangnya memakan banyak waktu dan energi. Dalam sehari, saya mengarungi 20.9 km (sekali jalan) atau 41.8 km per hari. Dalam hitungan waktu, saya menghabiskan antara 2-4 jam untuk pergi dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Such a waste of time, Bruh..

Beruntung dunia sudah berkembang sedemikian rupa dan memperkenalkan yang namanya internet, sehingga opsi remote working bisa menjadi salah satu solusi bagi saya. Oh iya, yang sedang kalian baca ini namanya blog. Krik. Sebelum saya mengambil opsi remote working, saya melakukan berbagai riset kecil yang diperlukan untuk mencari lokasi-lokasi ruang kerja yang asik, agar proses kreatif di kepala saya tidak mampat dan berhenti.

Ternyata setelah melakukan riset, dunia persilatan penyedia ruang kerja atau coworking space sedang kembali hangat dan diramaikan oleh kehadiran pemain-pemain bermodal besar seperti: CAV, GoWork, SpaceMob, EV Hive, ReWork, Kantorkuu & Block71. Selain itu, ada juga Bits, Biline, CoWorkInc, Cre8, Conclave, Freeware, TierSpace, WorkOut, Kedasi, Ke:Kini, Kolega & Kolla. Mereka tersebar di penjuru Jakarta dan Tangerang Selatan (JaTatan). 

Selain ruang kerja berupa coworking space, ternyata wilayah JaTatan juga diramaikan oleh coffee shop dan café yang dilengkapi dengan Wi-Fi, dan electric socket. Misalnya: jejaring Liberica; jejaring Starbucks yang secara desain semakin nyaman dan tidak lagi berlokasi di Mall; jejaring Bakoel Koffie yang kini tidak lagi konvensional karena berani menyediakan meja kerja panjang dengan electric socket. Sebuah kemajuan bagi kita semua, penduduk dunia yang semakin tua & modern.

Bagi saya ada beberapa pertimbangan yang saya ambil ketika memilih ruang kerja untuk remote working, diantaranya:

Bagaimana mencapai lokasidengan kemajuan transportasi publik di Jakarta, kini semakin banyak ruang kerja yang memegang prinsip TOD (Transit Oriented Development; baca: dekat dengan jalur Transjakarta & Commuterline). Contoh yang paling saya suka: Go-Work di UOB Plaza, Starbucks di Melawai, Blok M, Starbucks di Arteri Pondok Indah.

Bagaimana suasana di dalamnya? Tingkat kebisingan sebuah ruang kerja semakin berpengaruh berkat kemajuan teknologi speaker. Kadang playlist sebuah ruang kerja terlalu bising, kadang terasa terlalu melankolis, kadang terasa bising sekaligus melankolis. Selain kebisingan, jarak antara meja yang satu dengan yang lain juga mempengaruhi suasana. Bandingkan kerapatan antara meja yang satu dengan yang lain di Starbucks, dengan kerapatan duduk pelanggan warung soto gerobakan. Tentu kerapatan tersebut juga akan berpengaruh terhadap privasi individu-individu di dalamnya.

Bagaimana desain ruangnya? Sebagai penyuka desain yang sederhana, saya pribadi lebih suka dengan ruang kerja dengan desain beraksen concrete, wooden dan black; rasanya seperti anak kecil yang berdiri memegang kapur di depan sebuah papan tulisTetapi, kadang saya juga suka ruang dengan sentuhan ala kantor Agency Digital atau Startup; rasanya seperti content creator yang sedang haus inspirasi dan motivasi kerja.

Bagaimana fasilitas di dalamnya? Belakangan ruang-ruang kerja di JaTanta menyediakan fasilitas yang menyerupai kantor: meeting room, hotdedicated desk, locker, pantry dan lounge area (plus barista-nya), tentu juga ada Wi-Fi, electric socket & printer. Beberapa menyediakan fasilitas yang unthinkable & playful, misalnya: Skype Room, Phone BoothPlay-room untuk xBox dan Wii. Tetapi, buat saya yang paling penting adalah bangku yang nyaman & electric socket, karena untuk Wi-Fi saya lebih merasa aman menggunakan teknologi tethering dari HP saya.

Bagaimana ruang kerja tersebut mendukung pekerja di dalamnya? Sebagian besar coworking space menyediakan function hall berukuran 40-50 pax untuk menyelenggarakan berbagai sesi sharing; berbayar maupun gratis dengan startup experts dan prominent figure sebagai pembicara. Bagi saya, ini penting karena banyak remote & Startup worker perlu membangun jejaring pertemanan dengan sesama spesialis dari bidang-bidang yang berbeda. Siapa tahu sebuah obrolan biasa bisa menjadi proyek kolaborasi yang digarap serius.

___

Selanjutnya, aplikasi apa sajakah yang bisa membantu mengoptimalkan remote working?