CoHousing menurut Kami

Kawan-kawan seperjuangan dalam #kelasmenengahngehe, pernahkah kawan-kawan bermimpi untuk keluar dari kamar kost berukuran 2.5×3 meter? Pernahkah kawan-kawan bermimpi untuk hidup di tengah kota Jakarta? Pernahkah kawan-kawan bermimpi untuk tidak berdesak-desakan dengan kawan lainnya di dalam @BLUTransJakarta? Atau @CommuterLine?

Pernahkah kawan-kawan bermimpi untuk memiliki rumah? Iya, rumah. Bukan sulap. Bukan sihir. Kita bicara soal rumah, Kawan,

Kami punya solusi atas mimpi-mimpi, kawan sekalian. Itu pun kalau kalian sebagai #kelasmenengahngehe bisa dan berani bermimpi. Kalau tidak, silakan bekerja sepenuh-penuhnya waktu. Lalu tinggallah berpadat-padat dengan barang-barang di dalam kamar kost.

Ini yang kami tawarkan, kawan-kawan sekalian!

Kapan lagi bisa punya rumah yang desainnya dikerjakan oleh arsitek muda dan handal dengan budget yang terbatas. Kita bisa memilih lahan bersama-sama dengan temen yang akan menjadi tetangga. Kita juga bisa menentukan budget kita membangun rumah di lahan tersebut, tanpa mengikuti harga developer.

Biasanya di usia 25-35 tahun: kita punya duit di tabungan dalam jumlah yang tanggung, lalu bingung soal penggunaannya. Saran kami, lebih baik bangun rumah. Investasi, kawan!

Syaratnya apa? (1) Kalau memang mau ikut #CoHousing ya wajib, mesti, dan kudu aktif. Karena dari awal kita sama-sama nyari lahan untuk kemudian kita bangunkan rumah dan kita tempati. Kalau males? Tenang, di JCC (Senayan) ada Pameran Properti tiap 3-4 bulan. :))

Coba kalian jawab dua pertanyaan dibawah ini:

  • Pilihan rumah:
    1. Rumah besar di daerah depok/bogor atau;
    2. Rumah sederhana di daerah jaksel? Kl setuju pilihan 2, yuk kita obrolin solusinya. #CoHousing
  • Pilihan hunian bertingkat:
    1. Apartment belasan tingkat di lokasi macet atau;
    2. rumah susun sederhana di tengah kota. Milih no 2? yuk obrolin jg solusinya #CoHousing

Kalau memang tertarik #CoHousing. Coba form ini diisi dulu yuk! http://tiny.cc/cohousing .

Ini soal Masa Depan. Titik!

Masa depan dari 9.607.787 jiwa penduduk ber-KTP Jakarta (menurut BPS, 2010) dan tentu tidak lupa lebih-kurang 18 juta jiwa penduduk wilayah Bodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) akan di tentukan oleh 6.996.951 pemilih berdasarkan ketetapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DKI Jakarta untuk putaran kedua Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta pada hari ini (20 September 2012), dengan rincian:

  • wilayah Kepulauan Seribu tercatat 16.367 pemilih,
  • wilayah Jakarta Pusat tercatat 789.484 pemilih,
  • wilayah Jakarta Utara tercatat 1.168.988 pemilih,
  • wilayah Jakarta Barat tercatat 1.510.159 pemilih,
  • wilayah Jakarta Selatan tercatat 1.512.913, dan
  • wilayah Jakarta Timur tercatat 1.999.040 pemilih.

Bagi saya, hari ini sungguh bersejarah karena incumbent yang berasal dari Partai Politik pemenang pemilu dan rekan-rekan koalisi partainya ditantang oleh kandidat dari hasil koalisi dua Partai Politik yang sebetulnya tidak memiliki basis suara yang cukup besar dari sisi kader Partai. Hasil survey pada seminggu sebelum pemilihan putaran pertama menggambarkan sesuatu yang berbeda: incumbent pasti menang. Ternyata survey tinggal survey, tim sukses pongah hingga salah ambil langkah catur. Waktu seminggu sebelum pemilihan nampaknya cukup untuk merobek-robek hasil survey banyak lembaga. Persentase suara (yang walaupun tidak sampai 50%) untuk kandidat penantang di putaran pertama sebetulnya merupakan isyarat bahwa sebagian besar pemilih di DKI Jakarta menginginkan perubahan pada kepemimpinan. Sesuatu yang mengejutkan bagi banyak kalangan, termasuk kedua kandidat yang bertarung di pemilihan umum.

Meskipun melaksanakan putaran berikutnya artinya biaya tambahan yang membengkak untuk semua pihak (Negara dan kedua kandidat). Apa boleh buat pemilihan umum putaran kedua tetap harus dilaksanakan demi nilai-nilai demokrasi di Ibukota tercinta.

Tulisan ini tidak ingin bermain dengan tebak-tebakan hasil pemilihan putaran kedua, karena sejujurnya saya pun tidak bisa meramalkan dengan tepat. Satu hal yang pasti, kedua tim sukses kandidat sudah bekerja dengan segenap pikiran dan tenaga yang maksimal. Hingga bahkan berulang-ulang mengganti status BlackBerry Messenger (BBM) dengan pesan (bernada kampanye) yang sama dalam satu hari, padahal dari seluruh contact di BBM-nya paling-paling hanya 30% yang punya hak pilih. Mari kita tertawakan saja hal tersebut.

Kalau dan hanya kalau saya boleh berbicara selugas ini, sebetulnya kita (Indonesia secara umum) berada dalam masa krisis kepemimpinan, masa dimana pemimpin tidak lagi memiliki wibawa dan penegakan hukum lebih mirip “macan ompong dan bahkan tanpa kuku yang tajam”. Disaat yang bersamaan, rakyat membutuhkan suri tauladan dan inspirasi bagi keseharian mereka. Entah siapa yang salah.

Saya seorang muslim, dan saya (sangat) malu menjadi bagian dari negara mayoritas muslim dimana korupsi terjadi membabi buta. Bahkan Al-Qur’an pun dijadikan bancakan oleh koruptor di negeri ini. Karenanya, ketika memilih pemimpin, saya tidak akan pernah menggunakan indikator keimanan sebagai tolak ukur. Miris betul rasanya hati dan pikiran saya, ketika isu agama dimanfaatkan sebagai alat kampanye. Terlepas dari ikatan emosional masing-masing individu dengan agamanya, ini merupakan sebuah kemunduran bagi demokrasi dan akal sehat rakyat.

Simbol-simbol Suku Agama dan Ras (SARA) tidak selayaknya digunakan sebagai alat kampanye di kota yang sebetulnya melting-pot dari ke-Bhinneka-Tunggal-Ika-an Indonesia. Founding Fathers kita mungkin sedang menangisi cara berfikir rakyatnya yang dipecah belah isu SARA, dan lupa bagaimana leluhur meregang nyawa untuk menyatukan Indonesia. Hari ini, kita memilih pemimpin untuk mengarahkan bagaimana sebuah kota harus dikelola, bukan untuk menjadi Imam dalam sholat berjamaah atau berdzikir bersama. Agama itu soal Hablum-min-Allah; bersifat vertikal; bukan antar manusia. Sementara, menjadi warga kota yang baik itu soal Hablum-min-annas; bersifat horizontal; antar manusia. Karenanya, berfikir dan memilih dengan akal yang sehat dan hati yang tulus.

Banyak hal lain yang lebih mendasar dari persoalan kepemimpinan dan manajerial dalam mengelola Ibukota. Kita memerlukan pemimpin sekaligus manajer yang mampu untuk:  Mengelola dan memelihara sustainability kota sekaligus membangun dengan inovasi; Berfokus tidak hanya pada sistem dan struktur, tetapi juga pada sumber daya manusianya; Memiliki reputasi dan wibawa sehingga mampu mengontrol dan dipercaya oleh rakyat; Memiliki jangkauan berfikir dalam jangka pendek menengah dan panjang, dalam artian menguasai taktik dan strategi; Berani mengambil langkah catur ketika ketidakadilan terjadi; Dan tidak terikat pada bentuk kontrak politik apapun yang menghalangi arah kebijaksanaan.  Itu baru yang namanya Meritoktrasi dalam kepemimpinan.

Apapun hasil dari pemilihan putaran kedua ini, entah incumbent atau pun penantang, pemenang tidak akan bisa bekerja sendiri dari atas menara gading. Pemenang akan membutuhkan 9.607.787 jiwa penduduk ber-KTP Jakarta dan lebih-kurang 18 juta jiwa penduduk wilayah Bodetabek untuk berusaha sekuat tenaga dan menjadi warga kota yang baik, memiliki disiplin yang tinggi serta berpartisipasi aktif dalam proses pemerintahan. Tanpa hal tersebut, niscaya tidak akan ada perbaikan dan perubahan yang terjadi. Percaya pada saya!

Cities for People, not for Automobiles

Jakarta has been my city for almost 26th years. I could say Jakarta is the breath that lengthens my days. Days go by. Jakarta has now become a monster who ate itself. It’s now almost a rather frustrating and depressing to live in Jakarta, cause only by the traffic jam. I use car for myself in such an egocentric way. The question would be, do I have an option? Nope.

Most people think the way I do (as stated above). They did. If not, why they keep on buying automobiles through consumer credit line? Don’t they know that the option they pick going to stress them with high interest rates? Yes, they do know that, and they take the risk. Because they know the government is working in a slow pace in making progress, while business ran way too fast as usual.

I don’t know for other people, but for me, Jakarta got a major problem made by the system (economy and politic), its own citizen and goes on without something that I called as a “leadership with a-political-will”. These problems have made me think that if changes for Jakarta are too hard to make, in the future no-matter-what I don’t want to raise my children and grandson here. There are too many automobiles and motorcycle, and too few public spaces used as green belt in Jakarta. The city is (maybe) built for cars, not for the industry. Thus, the question people keep asking is more and more infrastructures for cars. Built more streets they said, as if the city still has unoccupied land.

I know, I know you guys work for the automobiles and consumer credit banking industry. You simply have to keep selling those cars and motorcycles. Yeah, one gotta do what one gotta do to earn a living. What kind of live do you have in Jakarta? The one with a rather super-exhausting added with extra pollutant in it? Am sincerely happy that you all live your life to the fullest. Hahaha.. Hope your daughter and son survive the extra pollutant; I heard that those extras are a major silent-killer in the city.

Do you know what I dream about Jakarta? A city with lots of these things:

  • New governor whose also an inspiring leader with political will to act;
  • New city grand design regulation created with active public participation;
  • Pedestrian areas and bicycle paths all over the city;
  • Integrated Bus Rapid Transit, Mono-Rail Train and feeder Buses to maintain mobility without hurting sustainability;
  • Condos, lofts, and subsidized apartments with “sky gardens” around each business district with reasonable price;
  • Schools that ensure students creativity, teach about entrepreneurship and inspire the students about leadership and ethics;
  • Equal work opportunity for all citizens;
  • Healthy good-food culture with fresh food stalls on every streets;
  • Community Spaces or Building to maintain neighborhood bonds and enrich our socio-cultural value;
  • Parks (green belt) and public spaces with Wi-Fi connections to waste some times after office hours;
  • Waste management that ensure waste recycled into energy resources.

As for today, what we need is citizen’s active participation in building this dream to come to live. While in a more global views, political leadership with grand strategic design, technical issues, on-field-implementation and citizenship should be highlighted as the future fixer of Jakarta.

I know, I know, I sounded like a day-dreamer, but do take a look at this websites: http://www.citiesforpeople.net; and listen to Jaime Lerner (ex-mayor of Curitiba, Brazil) here, am not dreaming. My dream city does exist, only not in Jakarta.

[Pilkada DKI] Masalah dan Program Berkualitas

Jakarta (mungkin) memerlukan tangan besi yang bisa memaksa kota dan warganya untuk ikut berubah sesuai dengan program yang bertujuan akhir membuat Jakarta menjadi kota yang layak huni secara berkelanjutan. Billboard dan spanduk himbauan dari Pemerintah Daerah tidak akan memiliki efek bagi warga. Penegakan hukum di lapangan atas tindakan indisipliner umum diperlukan, terutama terkait bagaimana menjadi warga kota yang baik (disiplin mengendarai kendaraan, membuang sampah, dll).

Lepas dari masalah penegakan hukum, Jakarta dihadapkan dengan 3 masalah umum, yaitu:

  1. Kesehatan Masyarakat Kota, Jakarta memerlukan perbaikan kesehatan fisik dan jiwa masyarakat kota melalui perencanaan spasial pembangunan dan pengembangan aksesibilitas kota.
  2. Pemerataan Kesempatan Kerja, Jakarta memerlukan penguatan korelasi antara sistem pendidikan yang berkualitas dengan kebutuhan dunia kerja dan penciptaan lapangan kerja yang lebih baik.
  3. Pembangunan yang berkelanjutan, Jakarta memerlukan pembangunan yang berkelanjutan yang menjamin kelayakan hidup warganya dalam jangka panjang.

Dan beberapa masalah khusus di Jakarta:

  • Banjir: Jakarta memiliki jaringan drainase dan resapan air tanah yang buruk, dan masih ditambah dengan tidak adanya disiplin warga dalam membuang sampah.
  • Macet/ Aksesibilitas: Jakarta dengan kepadatan jalan raya pada jam-jam sibuk yang ditengarai karena pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor milik pribadi yang terus meningkat yang ironisnya dikeluhkan oleh pengguna kendaraan pribadi sendiri. Seharusnya, jumlah kendaraan bermotor milik pribadi dikurangi sampai 70%. Dan tentu saja diperlukan transportasi publik (TransJakarta, Feeder Bus, Bus Kota dan Angkot [dalam jumlah yang tidak melebihi batas], Halte, KRL, MRT, Stasiun, dll) yang diperkuat dengan fasilitas yang manusiawi. Silakan definisikan manusiawi menurut pemahaman masing-masing. :p
  • Polusi: Jakarta kehilangan banyak penyerap karbonmonoksida karena pembangunan yang tidak disesuaikan dengan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup). Presentase lahan hijau di Jakarta harus ditingkatkan paling tidak sampai 30%. Tentu dengan memperbanyak taman kota dengan pohon trembesi di Jakarta.
  • Lingkungan Hidup: Lajur hijau bagi pejalan kaki dan pesepeda yang aman. Aman disini bisa dipahami sebagai misalnya: berjalan kaki tidak perlu lagi takut ditabrak motor atau bersepeda tidak perlu lagi takut dihantam kendaraan yang lebih besar. Lajur pejalan kaki yang layak, minimal 3 meter dengan keteduhan yang cukup, misalnya dengan ditanami pohon trembesi.
  • Pemukiman:Sebaik-baiknya kota modern, semakin ke pusat, pertumbuhan dilakukan dengan pola kluster vertikal. Tidak lagi horizontal. Dengan pembagian wilayah kelayakan: Pusat (dihuni kelas menengah B, C, dan D), Pinggir (dihuni kelas A dan B). Logika saya, harga tanah semakin tinggi bila semakin ke pusat, maka pembangunan selayaknya kluster vertikal. Maka, perbanyak rumah susun dan apartemen dengan beragam kelas harga, agar daya beli masyarakat mencukupi. Begini lebih baik ketimbang masyarakat harus membeli tanah mahal dan cuma bisa membangun pemukiman satu lantai yang padat.

Penjabaran diatas sebetulnya sekadar ingatan saya, yang entah kenapa menghangat lagi setelah terakhir kali mengikuti bagaimana Koalisi Jakarta (sudah bubar -red) memperjuangkan adanya partisipasi warga dalam proses perancangan Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2030, dan bagaimana Save Jakarta (sepertinya juga sudah bubar -red) memperjuangkan hal yang hampir sama dengan Koalisi Jakarta.

Terkait dengan Pilkada DKI Jakarta, tentu kita memerlukan seorang pemimpin Ibukota yang memiliki kapabilitas dan memiliki program yang bisa diimplementasikan pada sasaran yang tepat dalam tenggat waktu yang padat.

Lalu, apa saja yang harus ada pada sebuah program kampanye calon gubernur DKI Jakarta?

  1. Identifikasi: Masalah apa saja yang selama ini ada di DKI Jakarta? Bagaimana prioritas penanganan masalahnya? Bagaimana pembagian wilayah kerja dalam prioritas tersebut?
  2. Tujuan akhir: Bagaimana Jakarta akan diposisikan diantara kota-kota lain di seluruh dunia?
  3. Rumusan:
    • Bagaimana melakukan pembangunan yang berkelanjutan di Jakarta?
    • Bagaimana mengelola perencanaan spasial, aksesibilitas, pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi?
    • Bagaimana mengelola lingkungan hidup dengan tetap memelihara kualitas kehidupan, kultur, budaya dan sejarah masyarakat?
    • Bagaimana melaksanakan keempat poin diatas? Apa saja yang akan menjadi indikator kinerja? Dan bagaimana masyarakat dapat mengawasinya?

Sanggupkah Anda, saudara Calon Gubernur?

#wishlist for Jakarta

Semua pasti senang kalau kota yang ditinggali nyaman, semua pasti senang. Kondisi nyaman tentu dibentuk oleh beberapa faktor yang memperkuatnya. Nah, tulisan ini sekedar berbagi apa yang bisa menjadi faktor pembentuk nyaman-nya Jakarta. Saya buat jadi #wishlist ya …

1. Jumlah kendaraan bermotor milik pribadi dikurangi sampai 70%.

2. Transportasi publik (TransJakarta, Feeder Bus, Halte, KRL, MRT, Stasiun, dll) diperkuat dengan fasilitas yang manusiawi. Silakan definisikan manusiawi menurut pemahaman masing-masing. :p

3. Lajur hijau sepeda yang aman. Aman disini bisa dipahami sebagai misalnya: bersepeda tidak perlu lagi takut ditabrak kendaraan bermotor.

4. Lajur pejalan kaki yang lebar, minimal 3 meter. Dan tentu saja dibuat teduh dengan keberadaan pohon trembesi.

5. Presentase lahan hijau di Jakarta harus ditingkatkan sampai 30%. Tentu dengan memperbanyak taman kota dengan pohon trembesi di Jakarta.

6. Perbanyak Rumah Susun yang murah dan Apartemen kelas menengah di tengah kota. Begini lebih baik ketimbang masyarakat harus membeli tanah mahal dan cuma bisa membangun pemukiman satu lantai yang padat.

7. Jaringan drainase dan resapan air tanah yang efektif. (dari @PamanTyo)

8. … #wishlist lainnya menyusul.

… … …

Anyway, Selamat Ulang Tahun Jakarta! 😀

Semoga Tuhan bersama kami

Mengubah sebuah sistem bukan hal yang mudah, terlebih bila sistem yang ada sudah berjalan puluhan tahun. Pun manusia datang dan pergi, sistem yang sama sudah menjadi kebiasaan. Terlepas dari baik atau buruk sistem tersebut. Perubahan yang diinginkan tentu perubahan yang baik. Kami menonton sistem yang berjalan di kongres amerika serikat dan sulit bagi saya dan teman-teman di kantor untuk tidak menginginkan hal yang sama.

Darimana memulai perubahan kemudian menjadi pertanyaan awal, kami beruntung tidak perlu meraba terlalu jauh karena ada pengalaman yang dibagi oleh sahabat saya yang bernama Arief Budiman yang pernah terjun langsung menjadi Staf Khusus bagi Ketua DPR. Seluk beluk mengenai bagaimana lembaga legislatif bekerja masih lekat di kepalanya. Dan kami membentuk tim yang sampai hari ini solid dengan visi misi yang sama, membawa perubahan yang baik di lembaga legislatif yang seharusnya menjadi kebanggaan bagi Bangsa Indonesia.

Pendekatan di lakukan dari atas ke bawah, dari bawah ke atas. Begitu berulang, berusaha membombardir dengan gagasan, gagasan dan gagasan. Kami beruntung memiliki individu muda dengan gagasan yang cemerlang seperti Andika Putraditama dan Wildan Kesuma, yang gagasannya terus berkembang dan berkembang. Dari gagasan yang mereka kembangkan, saya sampaikan kepada individu-individu lainnya yang memang berada di dalam sistem. Disana, saya bertemu individu-individu yang menarik, mencoba berbagi visi dan misi yang sama hingga menemukan akhirnya kesepahaman.  Selama waktu berjalan, kadang tersandung, kadang bertemu halang rintang, kadang juga berjalan begitu saja seolah Tuhan mendengar setiap do’a di dalam pikiran.

Tugas masih menumpuk, yang harus ditemui dan diajak bersepaham masih banyak. Suara miring kadang datang dari kanan kiri, tapi kapal tidak boleh terbawa arus yang mengubah arah, apalagi karam. Semoga Tuhan bersama kami. Semoga.

 

karena harga cabai begitu pedas

Terkagum-kagum saya mendengar gerakan sosial bernama Indonesia Berkebun.

Iya, gerakan itu memang masih kecil, belum bisa dibilang massive. Masih perlu dukungan terus menerus dari kita tentunya. Pilot Project dari gerakan ini dikembangkan melalui twitter lewat akun @JKTBerkebun didukung oleh dynamic duo yang kini suami-istri @ShafiqPontoh – @MillyShafiq dan dilaksanakan di Springhills, Kemayoran.

Mengapa berkebun? Mengapa tidak sekedar menanam pohon? Well, berkebun menghasilkan keuntungan yang bisa dimanfaatkan oleh banyak orang. Bayangkan bila di setiap kampung, atau sebutlah di tingkat RT berkembang kebiasaan ini. Lalu di setiap keluarga ada kebiasaan menanam dalam pot, hmm..dikenal dengan nama Tabulampot (tanaman buah dalam pot). Ah, menarik kan. Bahan-bahan sadar memasak jangan-jangan bisa di ‘produksi’ sendiri dari halaman rumah.

Ohiya, kadang saya malah berfikir bagaimana kalau di setiap gedung-gedung kantor itu juga di kembangkan hal yang sama. Membayangkan di sudut-sudut dan atap-atap gedung terlihat buah yang siap di panen.

“Aih, pohon apel di kantormu sudah siap panen ya? Nanti aku minta ya..” atau “Kamu beli gorengan ya? Cabe rawitnya ada gak? oiya, petik yang di pot atas kantor aja deh..”. Agak absurd ya, tapi itu mungkin banget terjadi. hehe.. Lagipula absurdnya terdengar menyenangkan kan. :p

Ah, panjang lebar saya nulis kaya’ pada baca aja. hehehe… Poin saya adalah mohon didukung ya gerakan IndonesiaBerkebun ini. Tolong dibantu yaaaa..

Mengapa berkebun? Karena harga cabai merah keriting begitu pedas! *plaakk!*

Yuk?